Selasa, Agustus 31, 2010

2005 yang Saya Banggakan

Ketika sedang membuat tulisan ini, memori saya seolah berlari jauh ke masa-masa lima tahun silam. Saya berusaha keras mengingat teman-teman seangkatan saya yang tergabung dalam Angkatan 2005 Jurusan HI UPN Veteran Yogyakarta. Nama mereka, wajah mereka, karakter mereka, kebiasaan mereka dan pembawaan mereka. Sangat sulit memang. Jumlahnya hampir tiga ratus orang. Jumlah yang terlalu banyak untuk satu jurusan, saya pikir.

Masa Perkenalan

Kalau mau dilihat, masa perkenalan paling efektif sebenarnya terjadi di Pantai Glagah, saat acara Kemah Ilmiah. Ini semacam malam keakraban (makrab). Sebenarnya Kemah Ilmiah di Glagah ini merupakan event kedua yang kami hadiri. Yang pertama, tentu OSPEK. Sayangnya, keikutsertaan mahasiswa baru dalam ajang OSPEK lebih diliputi rasa takut yang mendalam. Tidak ada keikhlasan. Wajar saja, OSPEK identik dengan kekerasan. Senioritas. Kedekatan antara mahasiswa baru pun seolah renggang. Tak saling tahu. Tak saling kenal. Semuanya buru-buru. Buru-buru mengikuti OSPEK dan buru-buru pulang ke tempat tinggal masing-masing jika OSPEK telah selesai. Alhasil, tak banyak yang saling menyapa. Tak banyak yang saling menegur. Kalaupun saling kenal, paling-paling teman di depan, di belakang, di samping kiri dan di samping kanan.

Ketika rencana Kemah Ilmiah Glagah ini diutarakan, kami pun menyambutnya dengan antusias. Setidaknya, ada dua alasan mengapa Kemah Ilmiah Glagah ini sangat dinanti. Pertama, tentu ini ajang melepas kepenatan OSPEK. Selama OSPEK, kami benar-benar bagaikan anak domba yang dibawa ke pembantaian. Tenaga terkuras habis. Pikiran penuh dengan berbagai bawaan dan tugas yang diberikan panitia. Capek. Letih. Lelah. Semuanya kemudian bermuara pada rasa stres yang begitu tinggi. Hal ini berbeda dengan saat makrab nanti. Dalam kesempatan itu, kami tidak perlu direpotkan lagi dengan urusan roti sisir-lah, ballpoint pisang-lah, tas kresek dengan tali sumbu kompor-lah. Itu semua aksesoris OSPEK yang tidak akan ada di Glagah. Kedua, tentu alasan pertemanan. Buat apa kita kuliah di satu jurusan yang terdiri atas hampir tiga ratus mahasiswa kalau kita tidak saling kenal. Buat kami, sisi “mencari teman” lebih merupakan penyemangat lain kami mengikuti makrab Glagah tersebut.

Kemah Ilmiah Glagah dilaksanakan kira-kira bulan September. Saya tidak ingat jelas tanggal berapa. Yang pasti bahwa, kegiatan itu dilaksanakan beberapa saat setelah kuliah dimulai. Yang namanya mahasiswa baru, tentu sangat bersemangat dengan hal-hal yang berbau rekreasi. Yang ada kesenangan. Yang lebih banyak santainya. Maklum, sifat-sifat anak SMA masih menempel dengan kuat dalam diri kami.

Perjalanan menuju Glagah dimulai di Sport Hall Kampus II Babarsari. Semuanya tampak ceria. Senyum indah teruntai di bibir-bibir manis kami kala itu. Semuanya dengan perlengkapan masing-masing. Ada perlengkapan wajib yang sudah disiapkan. Ada pula perlengkapan pribadi yang juga turut dibawa. Kalau yang cewek, biasanya boneka atau bantal kecil menjadi teman setia mereka. Ini perlengkapan yang paling pertama disiapkan. Maklum, yang namanya cewek tidak bisa dipisahkan dari bantal kecil atau boneka. Yang cowok, beda lagi. Ini saatnya mereka pasang aksi. Sapa tahu saja, “tulang rusuk” mereka ada di jurusan ini. Selain mencari teman, makrab Glagah ini juga ideal dijadikan ajang mencari jodoh. Perlengkapan mandi dan perlengkapan tidur menjadi pemandangan yang umum di Sport Hall kala itu. Ada yang bawa tikar, ada yang bawa tongkat, ada yang bawa ember, ada yang hanya berpangku tangan. Namun, satu hal yang pasti. Semuanya serasi dengan satu “seragam”. Seragam Angkatan 2005 Hubungan Internasional UPN Veteranb Yogyakarta.

Walaupun sebenarnya masih sangat culun, kami terlihat gagah sekali saat itu. Setidaknya kami sudah bukan anak SMA lagi. Predikat “mahasiswa” sudah melekat dalam diri kami. Perjalan pun dimulai. Lima truk ABRI siap mengangkut kami. Ini suatu hal yang sangat menggelikan. Harus berdesak-desakan dalam truk yang sempit, kami bak bala tentara yang siap diterjunkan ke medan pertempuran. Semuanya siap mati demi tanah air ini. Tongkat dan ember laksana senapan dan bom yang siap dihujam ke pusat-pusat persembunyian musuh. Truk-truk tersebut bagaikan ­tank-tank ­tentara yang siap menyisir setiap jengkal NKRI ini.

Pada saat Kemah Ilmiah Glagah, kami dibagi ke dalam beberapa kelompok. Sekitar 10-15 kelompok. Kami diacak. Artinya, tidak ada kelompok yang terdiri atas semuanya mahasiswa dari satu daerah atau dari sekolah yang sama. Semuanya harus berbaur. Bercampur dengan teman-teman yang lain. Bagus juga. Semuanya harus saling mengenal. Buat apa ada Kemah Ilmiah Glagah ini kalau toh kita hanya bergaul dengan teman sedaerah atau satu sekolah? Kan tujuan Kemah Ilmiah Glagah ini adalah supaya angkatan kami saling mengenal satu sama lain, saling mendukung, saling bergandengan tangan dalam susah maupun senang, sehingga nantinya terciptalah suatu kekompakan yang tak lekang oleh waktu.

Saya sendiri sekelompok dengan beberapa teman yang baru saya kenal. Ada 2 orang cowok, satunya dari Jawa, satunya Flores. Ditambah saya, jadilah 3 orang cowok. Plus 3 orang cewek. Semuanya dari Kalimantan Timur. Itu yang masih bisa saya ingat. Saya lupa yang lainnya. Kami saling berkenalan. “Saya Eman,” kata saya. Berturut-turut mereka pun memperkenalkan diri mereka. Tidak ada lagi perbedaan buat kami. Kami berada di bawah payung yang sama. Kami adalah mahasiswa HI UPN Veteran Yogyakarta. Kelompok lain pun demikian. Mereka saling berkenalan. Jabat tangan menjadi penanda dimulainya hubungan pertemanan di antara mereka.

Namanya saja KEMAH ILMIAH. Ada unsur KEMAH dan ada unsur ILMIAH. Ada unsur santai dan ada unsur seriusnya. Itu kira-kira konsep acara yang dipakai untuk Kemah Ilmiah di Glagah. Kata “kemah” pun digunakan agar acara yang dilaksanakan terkesan “tidak terlalu serius” dan “tidak terlalu ilmiah”. Jika acaranya “serius” dan “ilmiah”, saya yakin tidak akan banyak mahasiswa baru yang mau mengikuti acara tersebut.

Meskipun demikian, unsur santai jelas lebih banyak terdapat dalam rundown acara yang disusun oleh panitia. Praktis hanya ada satu acara yang mempunyai nilai ilmiah, yaitu diskusi dengan seorang pembicara dari sebuah lembaga yang cukup kredibel dalam bidang hubungan internasional. Diskusi ini pun hanya berlangsung tidak dalam rentang waktu yang lama. Mungkin panitia dan sang pembicara sudah sadar bahwa mayoritas kami sudah terlanjur bosan dengan segala hal yang berbau ilmiah. Kami ingin sesuatu yang beda. Sesuatu yang bisa merefresh otak kami. Sesuatu yang bisa membuat kami segar dalam pikiran, tindakan dan semangat.

Hari pertama Kemah Ilmiah diisi dengan acara yang santai. Beberapa kelompok terlihat asyik bermain gitar di pinggiran “pantai yang agak masuk ke darat”. Berbagai lagu mereka nyanyikan. Entah itu lagu Indonesia atau lagu barat. Tak peduli berapa persen dari orang-orang itu yang mempunyai suara cempreng. Beberapa kelompok lain terlibat pembicaraan yang serius dengan para senior. Mungkin sekedar bertanya mengenai kebiasaan para dosen, mata kuliah dan organisasi kampus. Mereka umumnya mahasiswa baru dan senior yang sudah saling kenal. Entah karena mahasiswa baru itu adalah adik dari temannya sang senior. Entah karena mahasiswa baru tersebut ternyata berasal dari daerah yang sama dengan sang senior. Ada beberapa alasan. Mereka tampak akrab. Beberapa lainnya malah terlihat asyik bermain bola di sela-sela pohon kelapa yang tumbuh memenuhi pinggiran pantai Glagah tersebut. Suasana kekeluargaan mulai dibangun. Semua tertawa. Bersorak. Bergembira.

Walaupun penuh suasana kekeluargaan dan berlangsung santai, Kemah Ilmiah ini ternyata tetap diselipi adegan-adegan militer ala OSPEK. Menurut saya, ini mungkin hal yang wajar. Di depan juniornya, sang senior jelas ingin terlihat gagah. Perkasa. Tahu semua soal kampus. Dan yang terpenting adalah agar para juniornya tersebut respek terhadap mereka. Ini juga yang terjadi di Pantai Glagah. Bentakan dan teriakan masih sering terdengar, meskipun dalam jumlah yang lebih sedikit dibandingkan saat OSPEK diadakan. Mungkin buat mereka (baca: panitia), kedisiplinan harus ditegakkan. Budaya disiplin dan tepat waktu adalah hal penting yang harus ditanamkan dalam diri kami, para mahasiswa baru. Maklum saja. Mengatur hampir 300 orang mahasiswa baru dalam sebuah acara bukanlah perkara yang mudah. Apalagi, rata-rata mahasiswa baru tersebut baru saja menamatkan pendidikannya di tingkat SMA.

Dalam hal makan, misalnya. Selama di Glagah, menu makan kami variatif. Kalau pagi nasi telur, berarti siang dan malam menunya nasi ikan atau nasi ayam. Atau sebaliknya. Proses mendapatkan makanan pun terkesan seperti militer. Dalam hitungan satu sampai tiga, semuanya harus sudah duduk di tanah, berdasarkan kelompoknya masing-masing dan dalam barisan yang teratur. Hal yang cukup membuat hati ini marah. Apa salahnya kalau makanan itu kami ambil sendiri? Kan tidak merepotkan panitia juga. Belum lagi aturan satu makan, makan semua. Maksudnya, saat semuanya sudah dibagi makanan, barulah kita bisa memulai makan. Berani ada yang langgar, hukuman push-up sudah menantinya.

Lain soal makan, lain pula soal perlengkapan kamar mandi dan WC atau yang lebih dikenal dengan istilah MCK (Mandi Cuci Kakus). Di Glagah, fasilitas MCK amat sangat memprihatinkan. Jika masuk ke kamar mandi, dalam keadaan normal saja volume air di lantai sudah menyentuh mata kaki kami. Apalagi kalau kamar mandi tersebut digunakan untuk mandi. Alhasil, ada yang terpaksa “mengemis” air di warga sekitar. Ada pula yang terpaksa hanya cuci muka selama 3 hari tersebut. Alibinya, lagi pilek. Lagi tidak enak badan. Tapi bagi kami para lelaki, hal ini bukanlah tantangan. Seburuk apapun kondisi kamar mandi, sikat saja. Mandi telanjang pun tak masalah. Toh bentuknya sama saja. Yang membedakan hanyalah warna dan ukurannya, hehe…

Militerisme di Kemah Ilmiah berpuncak pada malam pertama kami menginap di Glagah. Sesudah makan malam, kami mendapat briefing dari senior. Mengenai beberapa tetek-bengek Kemah Ilmiah. Perlengkapan-lah. Obat-obatan-lah. Sesudah itu, kami dipersilahkan tidur. Tempat tidur kami pun betul-betul tidak ada bedanya dengan barak para tentara. Tiga buah tenda di bangun. Hanya beralaskan tikar. Dua untuk kaum wanita dan satu untuk kaum pria. Maklum saja, pria lebih dimungkinkan tidur berdempet-dempetan dalam sebuah tenda yang sesak. Tak masalah. Mau tidur dalam posisi apapun juga bisa. Saya sendiri mendapat posisi paling pojok. Waktu itu, saya telat masuk tenda. Tempat yang tersisa hanya di pojok. Tak apalah, yang penting saya bisa merebahkan diri, mengusir segala kepenatan hari ini dan mampu menyongsong hari esok dalam keadaan lebih segar.

Ternyata angan-angan saya itu sirna kala jarum jam menunjukkan Pkl. 00.00 WIB. Bentakan dan teriakan panitia membahana di seluruh tenda. Kami dipaksa bangun. Tepat di tengah malam. Semua perlengkapan, mulai dari sepatu sampai slayer harus lengkap dikenakan. Dalam hitungan lima menit, semua harus sudah berbaris rapi. Kelompok per kelompok. Kaget, itu pasti. Yang namanya bangun dengan tiba-tiba, ditambah dengan mata yang masih ngantuk, saya pun lupa menggunakan slayer. Seingat saya, pada saat tidur, slayer saya sudah melekat di kepala saya. Kok bisa hilang? Entah setan apa yang mencurinya itu. Takut mendapat hukuman dari panitia, saya pun lantas meminjam topi milik teman saya. Malam kan gelap, panitia pasti tidak memperhatikan topi yang saya kenakan tersebut. Buat saya, teman saya itu adalah dewa penolong. Dia berhasil menyelamatkan saya dari amukan senior. Sayang, beberapa saat setelah Kemah Ilmiah selesai, barulah saya sadar, ternyata topi itu berwarna pink. Sebuah topi dengan gambar boneka. Khas topi cewek. Betapa malunya saya.

Setelah berbaris rapi dan diberi pengarahan ini itu, kami diminta berjalan kelompok per kelompok, dengan tali rafia sebagai pegangan dan panduan kami. Ada jalur yang sudah disiapkan. Di setiap jalur itu ada sekitar 5 perhentian. Malam itu, kami benar-benar seperti anak yang hilang. Hilanglah semua kesabaran kami. Hilang sudah semua angan-angan kami menikmati Kemah Ilmiah yang jauh dari intimidasi senior.

Dalam kegelapan malam, kami berjalan. Kami merangkak. Bentakan dan teriakan masih terdengar di sana-sini. Ketakutan meliputi kami. Bukan takut akan setan, tetapi takut akan tampang senior-senior kami. Kami berhenti di setiap pos yang ada. Kami diberi materi. Sepuluh sampai lima belas menit. Ada pos yang lunak. Ada pos yang keras. Isinya cuma hukuman dan hukuman. Kadang kami harus berhenti di tengah jalan. Kadang kami harus meneriakkan Satu HI, HI Satu, Kita Bersatu, Guncangkan Dunia. Itu slogan HI. Slogan yang tak jelas asal-usulnya.

Acara “jalan malam” ini berakhir di pagi hari. Saat matahari bahkan sudah lama terbit. Ketika pagi datang, dunia seolah berubah 180 derajat. Orang-orang yang semalam selalu membentak dan mencaci-maki kami, menjadi lebih bersahabat. Mereka ajak kami berenang. Kami bermain bola bersama. Berbagai perlombaan digelar. Senior dan junior berbaur menjadi satu. Semua seolah sudah melupakan peristiwa “mencekam” yang terjadi malam sebelumnya. Wah, benar-benar ini kepanitiaan yang istimewa. Mereka mampu memposisikan diri mereka kepada kami. Mereka mampu mengajarkan kedisiplinan dengan cara yang sangat bersahabat.

Keakraban kami berlanjut sampai malam kedua. Acara pentasan seni dilakukan pada saat malam kedua. Setiap kelompok harus menampilkan kreativitas yang sudah mereka siapkan. Ada yang nyanyi. Ada yang melawak. Salah satu kelompok malah menampilkan kisah Jin. Alhasil, sang Jin itu pun kemudian lebih dikenal dengan nama Om Jin.

Keesokan harinya, kami diberi kesempatan untuk bermain-main di pantai. Semua menyambut histeris. Senang, pasti. Segala kepenatan bisa dilampiaskan di pantai. Panitia dan mahasiswa baru bercampur jadi satu. Semua menikmati indahnya pantai selatan Jogja. Tepat Pkl. 16.00 WIB, kami kembali ke kampus. Lima truk ABRI tetap setia memulangkan kami ke kampus.

Kemah Ilmiah pun berakhir. Semuanya pulang dengan satu modal di genggaman. Kami sudah punya banyak teman. Kami sudah saling tahu dan saling kenal.

Masa di Dalam Kelas

Angkatan 2005 HI UPN Veteran Yogyakarta berjumlah sekitar 278 mahasiswa yang terbagi ke dalam 5 kelas. Masing-masing kelas diisi oleh 60 mahasiswa. Kecuali kelas E. Sangat crowded. Membuat proses belajar mengajar berlangsung tidak efektif. Angkatan 2005 ditandai dengan nomor mahasiswa yang didahului oleh lima angka keramat, yaitu 15105. Angka 1 mewakili universitas, 5 mewakili fakultas, 1 mewakili jurusan dan 05 mewakili tahun kami terdaftar sebagai mahasiswa HI. Saya sendiri mempunyai nomor mahasiswa 151050216. Artinya, saya mahasiswa ke-216 yang dinyatakan lulus di Jurusan HI UPN Veteran Yogyakarta.

Pada tahun pertama, mata kuliah yang dipelajari masih berisifat paket. Selama semester 1 dan 2 kami mempelajari mata kuliah yang sudah disiapkan oleh pihak kampus. Maksudnya, agar pada tahun perdana kami di kampus, ada keseragaman pelajaran yang diterima. Sesudahnya, barulah kita boleh memilih mata kuliah sesuai keinginan kita.

Namanya tahun perdana, semuanya serba baru. Termasuk teman-teman yang saya jumpai, semuanya serba baru. Berbagai orang dari berbagai daerah hadir di sini. Semuanya datang dengan satu tujuan, belajar sebaik-baiknya untuk nantinya dapat lulus tepat pada waktunya dan dengan hasil yang memuaskan sehingga akhirnya dapat membahagiakan keluarga. Itu juga prinsip saya ketika pertama kali duduk di bangku kuliah.

Kendati terdiri atas ratusan mahasiswa, setidaknya ada beberapa golongan teman yang bisa saya sebutkan di sini. Pertama, tentunya teman-teman dari Jawa. Mereka ini ibaratnya tuan rumah. Karena berstatus tuan rumah, jumlah mereka paling banyak dan mayoritas beragama muslim. Ada yang datang dengan logat ala Jawa Timur, ada yang medok ala Solo-Jogja, ada yang ngapak ala Cilacap-Purwokerto, ada pula yang lu-gue ala Betawi. Jumlah mereka paling banyak dibandingkan golongan mahasiswa dari daerah lainnya. Mungkin karena jumlahnya mayoritas, teman-teman dari Jawa ini biasanya lebih suka berbicara dalam bahasa Jawa, entah itu di dalam kelas maupun di luar kelas. Kebanyakan istilah-istilah Jawa pun diperkenalkan oleh mereka. Saya sendiri walaupun berada di Jogja lebih dari 3 tahun, tidak pernah bisa berbicara dalam boso jowo. Selain terkenal karena jumlahnya yang paling banyak dan kebiasaan mereka berbicara dalam bahasa Jawa, teman-teman dari Jawa ini juga biasanya membaya style baru dalam tata cara berpakaian di kampus. Kebanyakan mereka suka memperkenalkan mode-mode terbaru. Ada yang suka high heels. Ada yang suka memberikan jarak antara ujung paling bawah baju dengan ujung paling atas celana jeans. Ada pula yang suka gonta-ganti tas, kerudung, baju dan berbagai pernak-pernik penghias diri mereka. Ya, teman-teman dari Jawa memang selalu up to date. Maklum, posisinya lebih dekat ke ibu kota peradaban Indonesia.

Kedua, tentunya teman-teman dari Sumatera. Di angkatan kami, teman-teman dari Sumatera berasal dari hampir semua daerah di Sumatera. Walaupun Sumatera identik dengan suku Batak, tetapi Batak tidak mendominasi pasokan mahasiswa Sumatera di angkatan kami. Hanya beberapa saja yang dari Batak. Selebihnya, ada yang dari Riau, Padang, Bengkulu, Medan dan Aceh. Jumlah mereka rata-rata seimbang. Tidak ada yang minoritas dan mayoritas. Sama seperti Jawa, mayoritas teman-teman dari Sumatera ini beragam muslim. Cara bicara teman-teman dari Sumatera ini khas sekali. Kalaupun belum saling kenal, mendengar mereka berbicara saja, kita sudah bisa memastikan mereka ini orang Sumatera.

Ketiga, teman-teman dari Kalimantan dan Sulawesi. Mereka ini bagaikan garam dalam sayur. Tak kelihatan, tapi terasa keberadaannya. Mayoritas teman-teman dari Kalimantan berasal dari Kalimantan Timur. Hanya beberapa saja yang berasal dari Kalteng dan Kalbar. Seingat saya, Kalsel bahkan tidak punya perwakilan di angkatan kami. Teman-teman Kalimantan ini biasanya bisa ditebak dari aksen mereka. Partikel kah selalu mengakhiri kalimat tanya mereka. Lain Kalimantan, lain pula Sulawesi. Walaupun jumlahnya tidak banyak, teman-teman dari Sulawesi biasanya berasal dari hampir semua provinsi di Sulawesi. Kebanyakan dari Toraja. Namun, ada juga yang dari Makassar, Sulawesi bagian tengah dan Sulawesi Utara. Logat mereka pun sangat khas. Untuk teman-teman dari Kalimantan dan Sulawesi, jumlah mahasiswa muslim dan non-muslim berimbang. Khusus Sulawesi bagian tengah dan utara, teman-teman Kristen Protestan sangat dominan.

Keempat, teman-teman dari Bali. Golongan Bali ini terkenal karena kuatnya penghargaan mereka terhadap nilai-nilai adat dan agama. Mayoritas, bahkan semua, beragama Hindu. Itu sudah pasti. Di Jogja, kebanyakan teman-teman dari Bali ini ngekos di sekitar AKAKOM. Pasalnya, di sana ada sebuah pura dan beberapa warung babi guling ala Bali. Saya sendiri sangat gemar makan di warung makan Bali. Motor dengan plat DK pun mudah kita jumpai di kawasan ini.

Kelima, teman-teman dari timur. Mayoritas mereka beragama Protestan dan Katolik. Frasa “dari timur” ini sebenarnya merupakan generalisasi terhadap teman-teman dari Maluku, Papua dan NTT. Kenapa digeneralisasi? Wajar saja, bagi kebanyakan orang, membedakan orang Maluku, Papua dan NTT sangatlah sulit. Di masa-masa awal kuliah pun demikian. Kebanyakan teman-teman non-timur selalu mempertanyakan hal ini. Padahal sebenarnya, gampang saja membedakan mereka. Dengar saja cara bicaranya dan semuanya akan sangat jelas. Letak geografis ketiga daerah itupun sangat berbeda. Pada tahun perdana, golongan orang timur ini termasuk kaum marjinal di kampus. Disepelekan. Tak dianggap. Dan kadang dipandang sebelah mata. Korban diskriminasi dan primordialisme.

Istilah diskriminasi dan primordialisme ini sangat kental terasa dalam angkatan kami pada tahun perdana. Walaupun kami memulai kuliah bermodalkan semangat Kemah Ilmiah, hidup berkelompok itu tetap terasa selama tahun pertama perkuliahan kami. Kami masih sangat terkotak-kotak. Semangat kelas masih kental. Kami kompak hanya dengan teman sekelas kami. Kelas A, ya dengan kelas A saja. Demikianpun dengan kelas yang lain. Masih sangat primordial. Alhasil, pengetahuan kami hanya berkisar antara teman-teman sekelas. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan pun lebih merupakan kegiatan kelas dan hanya melibatkan anggota kelas sendiri.

Saya sendiri bergabung di kelas D. Pada semester pertama, kelas kami diketuai oleh seorang pace, seorang pemuda dari Jayapura yang kini sudah hidup bahagia bersama istri dan seorang juniornya. Di kelas D, mahasiswanya variatif. Ada orang Jogja, ada orang Kalimantan, ada orang Sumatera, ada orang timur. Teman-teman dari timur juga cukup banyak. Kelas kami sangat kompak kala itu. Kami sering ngabuburit bersama. Kala ada dosen yang berhalangan masuk, kami biasa bernyanyi bersama di kelas. Tentunya hanya bermodalkan HP teman saya yang suaranya diperkeras dengan suara microfon kelas.

Kekompakan kami bukan hanya dalam hal positif. Dalam hal negatif pun demikian. Kami terkenal mahir menjiplak tanda tangan teman. Hubungan pertemanan di kampus haruslah demikian. Harus ringan tangan. Bersedia membantu teman, termasuk memalsukan kehadirannya di kelas. Sejujurnya, hal ini baru saya ketahui ketika berada di kampus. Ini adalah suatu kebiasaan yang sudah membudaya dalam diri mahasiswa. Tujuannya agar dapat melewati angka 75% yang kadang menjadi momok menakutkan buat kami. Kalau tidak sampai 75%, tidak bisa ujian. Kalau tidak bisa ujian, berarti harus mengulang mata kuliah yang sama di semester berikutnya. Kalau sampai itu terjadi, lenyaplah sudah cita-cita ingin lulus secepatnya. Kadang ada keengganan untuk menjiplak tanda tangan teman. Bagi saya, budaya seperti itu harus dibabat habis sedini mungkin. Sangat tidak edukatif. Membuat mahasiswa bermental enak. Tapi, mau bagaimana lagi. Jika saya tidak berlaku demikian, saya tidak akan punya teman. Sebuah prinsip yang saya lakukan hanya pada saat saya kuliah.

Selain berkelompok dengan teman sekelas, pergaulan berkelompok juga berlaku untuk beberapa orang. Jika si “cowok itu” lagi duduk-duduk di kantin, bisa dipastikan tak lama lagi akan datang “cewek itu”, “cowok itu” dan “cowok itu”. Di mana ada cewek “ini”, pasti ada “cewek ini”, “cewek ini” dan “cewek ini”. Kalau ada lima orang cewek berjalan bergerombol di lobby FISIP, dapat kita pastikan bahwa mereka adalah si “itu”, si “itu, si “itu”, si “itu” dan si “itu”. Mereka menjadi kelompok yang solid. Entah karena hobi yang sama. Entah karena mereka berada dalam kelompok yang sama saat Kemah Ilmiah. Entah karena mereka dari daerah, SMA atau agama yang sama. Entah juga karena kos mereka berdekatan. Namun, hal ini saya pahami sebagai konsekuensi dari membludaknya jumlah mahasiswa di satu jurusan. Alangkah lebih elok jika kita berteman baik dalam satu kelompok daripada harus berkenalan dengan hampir 300 orang. Ibaratnya, lebih baik kualitas daripada kuantitas.

Selain diskriminatif dan primordial dalam hal pergaulan antarkelas dan antarkelompok orang, diskriminasi juga berlaku terhadap teman-teman dari timur saat awal-awal kuliah. Ini salah satu dampak negatif pembangunan di Indonesia. Terlalu Jawasentris. Yang ada di kepala orang Jawa hanyalah bagaimana memajukan Jawa dan Jawa. Not others. Di kampus pun demikian. Orang timur selalu menjadi kaum marjinal. Tak dianggap keberadaannya. Tak digubris kehadirannya. Orang timur selalu menjadi nomor kesekian. Jika tidak ada kuliah atau kebetulan dosen berhalangan masuk, kita akan dengan terang-benderang melihat bagaimana pola pergaulan di kampus. Bagaimana pola pergaulan di kampus selalu menempatkan orang timur di luar lingkaran pergaulan.

Syukurlah bahwa diskriminasi daerah ini hanya berlaku di tahun perdana kuliah kami. Di tahun-tahun berikutnya, kami sudah bisa membaur. Mungkin ini dampak positif dari kebijakan kampus. Saat itu, kami dipersilahkan memilih mata kuliah, dosen dan waktu kuliah sesuai keinginan kami. Tentunya disesuaikan dengan jumlah IPK yang kita raih di tahun pertama. Pola ini memudahkan kami untuk memilih kelas sesuai keinginan kami dan disesuaikan dengan berbagai macam kesibukan kami di luar kelas. Ada yang memilih kelas siang dan sore. Alasannya, susah bangun pagi. Ada yang memilih kelas pagi dan siang. Alasannya, agar tidak kehilangan waktu tidur sore. Macam-macam. Dengan pola itu, kami jadinya lebih punya banyak teman. Kalau saat semester 1 & 2 saya hanya bergaul dengan teman-teman dari kelas D, sejak semester 3 ini saya jadi lebih punya banyak teman. Ada wajah baru. Ada suasana baru. Ada semangat baru juga tentunya.

Bermodalkan hubungan pertemanan dengan sesama anggota kelas selama tahun pertama, ditambah lagi dengan pertemanan yang dibangun dengan teman-teman dari kelas lain, angkatan kami menjadi semakin kompak dan solid. Walaupun tak bersahabat akrab, tapi kami saling mengenal. Jika bertemu di Gedung Agus Salim dan di mana saja, kami selalu bertegur sapa. Setidaknya kami saling tahu bahwa kami adalah mahasiswa HI ’05.

Selama kuliah, lobby FISIP dan wilayah sekitar pohon kersen menjadi tempat favorit kami. Angkatan lain pun sudah tahu itu. Itu tempatnya anak-anak ‘05. Jika sedang tak ada kuliah, kedua tempat ini biasanya menjadi ajang kami berkumpul. Di mana ada satu atau dua anak ‘05 berkumpul, di situ akan semakin banyak anak ‘05 berkumpul. Mungkin ini ungkapan yang tepat. Saya secara pribadi pun belum menemukan alasan yang tepat mengapa saya begitu betah ada di kedua tempat itu. Jika hari itu tak ada jadwal kuliah, saya lebih senang ke kampus, sekedar nongkrong di lobby atau di bawah pohon kersen, daripada harus berdiam diri sendirian di kos. Ada banyak hal yang bisa dibahas di kedua tempat itu. Selain materi kuliah, program kerja panitia dan organisasi pun hangat dijadikan topik pembicaraan. Hubungan pertemanan harus tetap dijaga. Saat kumpul, semua kelihatan sama. Tak ada perbedaan warna kulit, daerah asal, agama yang dianut. Semuanya satu Indonesia. Satu HI. Seperti yang kami teriak-teriakan di Glagah. Memang, ada beberapa yang terkesan cuek. Lewat begitu saja. Tak berpaling, tak tersenyum. Tak apalah. Hidup memang harus begitu. Harus ada yang memiliki sifat yang berseberangan. Di situlah kita belajar mengenal perbedaan.

Masa di Luar Kelas

Selain kompak di dalam kelas, kami juga kompak di luar kelas. Bagi kami, kekompakan itu tak dibatasi oleh ruang dan waktu. Dalam beberapa kesempatan, kami sering berkumpul bersama. Entah itu di rumah atau kos teman, maupun di tempat lain yang telah disepakati.

Hal ini pun saya alami. Saya sering bermain futsal dengan beberapa teman. Futsal dilakukan rutin. Dalam sebulan, pasti sekali atau dua kali kami bermain futsal. Tempatnya pun berganti-ganti. Kadang di daerah Seturan, kadang di Babarsari, kadang di Condongcatur. Kebanyakan di Pelle Futsal, depan Hotel Sahid Babarsari. Walaupun tidak semuanya mahir bermain futsal, tapi bagi kami hubungan pertemanan dan persaudaraan itu harus tetap dijaga. Tak boleh hilang. Rasa persaudaraan dibangun melalui kegiatan-kegiatan di luar kampus seperti ini.

Selain futsal, nongkrong juga menjadi salah satu agenda rutin kami. Jika sedang menjomblo pada saat malam minggu, kami biasanya nongkrong di warung kopi. Seperti mahasiswa lainnya, ada tiga warung kopi langganan kami. Yang pertama, Sorpring. Di warung kopi ini, kami biasanya ngobrol ngalor-ngidul tentang program kerja kampus. Semuanya dibahas dalam suasana kekeluargaan, diselingi dengan beberapa candaan yang membuat otak ini lebih segar. Di warung kopi ini pula, masa pacaran saya berakhir. Hehe…

Yang kedua, Goeboex. Ini warung kopi yang paling ramai. Halaman parkirnya pun luas. Ada lapangan futsal pula. Jelas sudah, warung kopi yang satu ini tak pernah sepi peminat. Saya beberapa kali menikmati malam Jogja di warung kopi ini.

Yang ketiga, Grisse. Jika warung kopi lain identik dengan arsitektur indoor, Grisse menawarkan sesuatu yang berbeda. Bagian luar Grisse beratapkan langit. Membuat malam Jogja semakin mantap dinikmati. Di Grisse, saya pernah punya kisah. Waktu itu, akhir bulan. Uang di tangan tinggal sepeser dua. Tapi, saya dan teman-teman sangat ingin nongkrong di Grisse. Padahal, harga menu di Grisse sangatlah mahal untuk dompet akhir bulan. Alhasil, kami membeli empat bungkus kopi dengan total harga tak lebih dari Rp 5.000,- dan beranjak ke Grisse. Di Grisse, kami memesan empat cangkir air putih panas. Saat itu, air putih panas di Grisse berharga Rp 0- alias gratis. Syukurlah, kami pun menikmati malam kami di Grisse, ditemani empat gelas kopi, tanpa mengeluarkan satu rupiah pun. Jika saja kami memesan kopi buatan Grisse, berapa rupiah yang harus kami keluarkan malam itu.

Di saat bulan puasa seperti sekarang ini, satu hal yang tak terlupakan adalah sahur dan ngabuburit bersama teman-teman. Walaupun bukan seorang muslim, saya cukup sering ikut sahur dan buka puasa bersama teman-teman. Terkadang, harus bangun pagi-pagi sekali, hanya membasuh wajah, menyalakan mesin motor, terus tancap gas menuju tempat sahur. Banyak yang heran. Tapi, ini cara saya menjaga tali silaturahmi dengan teman-teman. Buka puasa pun demikian. Pernah sekali, saya dan empat orang teman saya ke daerah Dirgantara. Tujuan kami, menjemput teman kami yang muslim untuk buka puasa bersama. Kami bersemangat sekali. Sesampainya di Dirgantara, barulah kami sadar. Dari kami berempat, tak ada satupun yang beragama muslim. Kami pun saling tertawa. Meskipun begitu, buka puasa tetap berjalan lancar.

Above it all, salah satu bukti nyata kekompakan kami terlihat dalam berbagai kepanitiaan. Teman-teman 2005 termasuk angkatan di Jurusan HI yang sangat aktif dalam berbagai kegiatan. Terhitung sejuak 2005-sekitar pertengahan 2008, teman-teman 2005 sangat aktif dalam berbagai kepanitiaan di kampus. Saya sendiri sudah terjun dalam kepanitiaan kampus sejak tahun 2006. Waktu itu jadi Koordinator Perkap Diplomatic Course. Divisi Perkap ini kemudian menjadi satu dari dua divisi langganan saya dalam kepanitiaan.

Selain proaktif, dalam angkatan 2005 juga terdapat beberapa orang dengan spesialisasi tertentu. Jika ada perekrutan kepanitiaan, orang-orang ini selalu dipercaya menangani divisi andalan mereka. Jika kita menyebut si “Bali itu”, si “Flores itu” dan si “Kalbar itu”, kita lantas tahu bahwa mereka adalah para professional dalam urusan HT, backdrop, spanduk, seminar kit dan tenda. Jika kita menyebut si “Jogja itu” dan si “Padang itu”, kita kemudian mengerti mengapa makanan dalam kepanitiaan selalu lezat. Mereka pakarnya konsumsi. Jika kita menyebut si “Flores itu” dan si “Papua itu”, kita jadi tahu mengapa mahasiswa baru selalu tertib mengikuti OSPEK atau makrab. Merekalah alasannya. Divisi keamanan. Posisi teman-teman itu tak tergantikan. Jika mereka tak mau bergabung dalam kepanitiaan, kami paksa. Yang penting mereka harus ikut. Pasalnya, mereka sudah sangat berpengalaman dan sangat tahu seluk-beluk divisi yang mereka tangani.

Dalam kepanitiaan, kekompakan kami sudah terlihat sejak Panitia IRLO (International Relations Leadership Outbound) dibentuk. Berdasarkan tradisi di Jurusan HI, sebenarnya, itu haknya angkatan 2004 untuk menjadi mayoritas dalam struktur panitia. Namun, karena kebanyakan angkatan 2004 lebih memilih berada di luar kepanitiaan, kami pun lantas proaktif menjadi anggota kepanitiaan. Waktu itu, mayoritas angkatan 2005 masuk di Divisi LO (Liaison Officer). Dari total 19 orang di Divisi LO, 17 orangnya angkatan 2005. Jumlah yang fantastis.

Kalau mau dirunut ke belakang, kisah mengenai kegagalan (baca: tidak terlaksananya) IRLO ini amatlah panjang. Intinya, kisah ini berakar dari vacuum of power yang ada di HIMAHI. Menurut cerita yang beredar, ada dualisme dalam kepemimpinan HIMAHI. Ada dua orang yang berebut posisi HIMAHI 1. Alhasil, semuanya menjadi terseret-seret. Sidang istimewa yang dilakukan pun berakhir tanpa hasil. Bentrokan terjadi. Perselisihan muncul di mana-mana. Konflik ini lantas mengerucut menjadi konflik angkatan. 2004 vs 2005. Beberapa pengurus HIMAHI yang bernomor mahasiswa 15105 pun diberhentikan dengan tidak hormat.

Melihat situasi yang semakin tidak kondusif ini, beberapa teman 2005 yang cukup punya “nama” di kepanitiaan IRLO pun berkumpul. Intinya, kami prihatin dengan keadaan yang terjadi saat itu, entah di HIMAHI maupun di panitia IRLO. Selain kisruh kepemimpinan HIMAHI, Ketua Panitia IRLO pun terkesan tidak tegas. Saya cukup paham. Sang ketua panitia mungkin berada dalam posisi dilematis. Serba salah. Ke kiri salah. Ke kanan pun salah. Alhasil, berkat desakan dari kami yang kemudian menjalar ke mayoritas panitia, IRLO pun dibatalkan. Ini bukti kekompakan kami. Kekompakan yang negatif memang. Tapi, positif pada saat itu.

Kepanitiaan berikutnya yang menjadi “tempat” teman-teman 2005 adalah Panitia OSPEK 2007. Di kepanitiaan ini, saya dipercaya menjadi Koordinator Divisi Acara. Teman-teman 2005 sangat kompak kala itu. Semua divisi bekerja keras. Acara tetap setia menjadi divisi penyusun draft, rundown, konsep dan tema acara. Divisi Perkap selalu bekerja keras dengan senang hati, menyiapkan HT, spanduk, backdrop, dll. Demikian pun Divisi Konsumsi yang tak henti-hentinya melakukan survey warung makan, mencari termurah di antara yang murah; Divisi Transportasi, PDD, Medik, Keamanan dan yang lainnya. Semuanya bekerja bergandengan tangan, bahu-membahu. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Itu prinsip kami. Tujuannya, kami ingin memberikan yang terbaik kepada mahasiswa baru HI. Tak peduli how tired we were, tak peduli berapa banyak waktu dan tenaga yang sudah terbuang, tak peduli harus bangun jam 4 pagi dan tidak boleh telat ke kampus, kami yakin bahwa kerja keras selalu membuahkan hasil yang tak mengecewakan. Dan itu semua terbukti. OSPEK berjalan dengan baik.

Selain Panitia OSPEK, salah satu kepanitiaan yang masih membekas buat saya adalah Panitia Kemah Ilmiah 2007. Belum hilang keletihan di Panitia OSPEK, satu hari sesudah OSPEK berakhir, kami harus langsung berangkat ke Ketep, lokasi dilangsungkannya Kemah Ilmiah. Segala hal harus disiapkan. Tenda. Jalur jalan malam. Backdrop. Lampu lentera. Perlengkapan games. Semuanya harus disiapkan karena dua hari setelah OSPEK berakhir atau sehari setelah kami tiba di Ketep, Kemah Ilmiah dimulai. Capek memang. Tapi, memang ini konsekuensi masuk dalam kepanitiaan. Harus banyak berkorban. Jiwa dan raga. Kadang materi juga. Di kepanitiaan, kita dituntut untuk berjiwa besar mengutamakan kepentingan umum di luar kepentingan pribadi dan golongan. Dan itulah yang kami lakukan.

Untuk yang satu ini, patut saya acungkan dua jempol untuk teman-teman 2005. Saya belum pernah bertemu dengan panitia yang begitu kompak, begitu solid, begitu saling memperhatikan, saling menolong, saling mengingatkan dan saling membangunkan di saat yang lain terjatuh. Semuanya sudah seperti saudara, seperti keluarga. Tak ada istilah berpangku tangan. Tak ada istilah malas-malasan. Angkatan ini bukan angkatan yang cepat mengeluh, cepat menyerah dan mudah putus asa.

Setibanya di Ketep, kami langsung mendirikan empat tenda. Satu untuk panitia, dua untuk mahasiswi baru dan satu untuk mahasiswa baru. Seperti biasa, jumlah tenda untuk wanita harus lebih banyak. Maklum, satu orang saja bisa membawa beberapa perlengkapan. Jadi, mereka butuh ruang yang lebih banyak ketimbang kaum pria yang datang hanya bermodal satu tas pakaian saja.

Sebelum Kemah Ilmiah ini dijalankan, kami sudah berikhtiar bahwa kegiatan Kemah Ilmiah harus dijalankan dalam suasana penuh keakraban dan persaudaraan. Tidak boleh ada intimidasi berlebihan di sana-sini. Kekerasan hanya boleh dilakukan sesuai rundown acara yang telah disiapkan. Kebetulan waktu itu saya menjadi Koordinator Divisi Acara. Semuanya sudah tersusun rapi. Sesuai tugas dan tanggungjawab masing-masing divisi. Teman-teman lain pun turut menjalankan rundown acara tersebut dengan sepenuh hati dan penuh rasa tanggungjawab. Ada suatu kebahagiaan tak ternilai, jika semua draft acara yang telah saya siapkan, dijalankan semua pihak dengan penuh rasa tanggungjawab. Terima kasih teman-teman ‘05.

Sebagai konseptor acara, tema KEMAH ILMIAH tetap saya pilih waktu itu. Walaupun terkesan mengulang tema tahun 2005, saya pikir ada hal-hal positif yang ada di balik tema ini. Kekompakan dan kesolidan angkatan kami, sedikit banyak karena diilhami oleh tema ini. Kami menjadi sadar bahwa sebagai sebuah angkatan, kami harus tegak seperti kemah, kuat laksana tiang-tiangnya dan solid. Ilham ini yang kemudian membuat saya memilih konsep Kemah Ilmiah. Harapan kami, mahasiswa angkatan 2007 bisa mengulang kekompakan dan kesolidan yang dimiliki angkatan 2005. Untuk temanya, saya memilih Satu Hati Aneka Wajah. Tema ini sarat makna. Tema ini sebenarnya mau mengisyaratkan kepada para mahasiswa baru bahwa Jurusan HI UPN Veteran adalah Indonesia mini. Ada berbagai mahasiswa dengan berbagai “wajah”. Ada “wajah” Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, NTT, NTB dan Bali. Ada “wajah” Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha. Ada “wajah” Batak, Dayak, Asmat, Dani, Timor, Bali, Ambon. Walaupun ada aneka wajah, kami tetap punya satu hati. Satu hati untuk memajukan Jurusan HI tercinta. Itu semangat dasar kami.

Semangat ini kemudian dieksekusi dengan sangat baik oleh keseluruhan panitia. Setidaknya itu sudah terbukti dalam acara “jalan malam”. Acara “jalan malam” ini sudah menjadi tradisi bagi Jurusan HI. Bibit-bibit kekompakan sudah mulai disebar di acara ini. Tinggal dipetik saja hasilnya saat kuliah ini. Seperti biasa, Divisi Keamanan dengan sigap membangunkan semua mahasiswa baru. Dalam hitungan 15 menit, semuanya sudah dalam keadaan berbaris rapi. Saya lantas memberikan beberapa pengarahan mengenai acara “jalan malam” tersebut. Termasuk jalur dan pos-pos yang akan mereka singgahi. Jauh sebelum mahasiswa dibangunkan, beberapa panitia malah sudah siap di pos masing-masing. Mereka tak kenal lelah. Semuanya bekerja dalam semangat yang terus menggebu-gebu. Saya terharu.

Nilai-nilai nasionalis sangat kami tekankan di Kemah Ilmiah tahun itu. Nama-nama kelompok mahasiswa baru kami ambil dari nama-nama pahlawan nasional. Ada kelompok Dewi Sartika. Ada kelompok Cilik Riwut. Ada kelompok W.Z. Yohanes. Ada kelompok Frans Kaisiepo. Dan lain-lain. Maksud kami, agar mahasiswa angkatan 2007 tersebut punya jiwa nasionalis yang tinggi. Buat apa kuliah di kampus Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” kalau kita tidak punya jiwa nasionalis. Selain itu, konsep nasionalis ini juga bertujuan mencegah timbulnya konflik atas dasar agama, daerah dan ras di kalangan mahasiswa baru nantinya.

Selain nama-nama kelompok, konsep “jalan malam” pun dirancang sangat nasionalis. Ada pos “kekompakan”, ada pos “kesolidan”, ada pos “kerjasama”, ada pos “persaudaraan”. Di setiap pos, ada panitia yang bertugas memberikan materi terkait dengan nama pos tersebut. Selain itu, ketika berarak dari satu pos ke pos lainnya, mahasiswa baru tersebut diharuskan menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Jangan heran saja, di tengah malam kelam, di lembah Ketep, kita akan mendengarkan lagu Satu Nusa Satu Bangsa, Dari Sabang sampai Merauke dan Halo-halo Bandung berkumandang tiada hentinya.

Sungguh sebuah kenangan yang tak terlupakan melihat bagaimana Divisi Konsumsi harus bolak-balik mengambil makanan. Begitu pula dengan Divisi Keamanan dan Perkap yang harus selalu sigap mengatasi berbagai kekurangan panitia. Intinya, semuanya bekerja keras malam itu. Jatuh bangun, tak peduli. Dingin menusuk kulit tak menjadi masalah. Yang penting kegiatan Kemah Ilmiah bisa berjalan dengan baik. Sungguh, susah mencari panitia dengan semangat dan pengorbanan seperti ini.

Keesokan harinya, semua kembali bersahabat. Panitia dan mahasiswa baru. Tak ada lagi dendam dan amarah. Game tarik tambang pun menjadi saksi bagaimana mahasiswa baru mengalahkan Divisi Keamanan, yang rata-rata diisi oleh orang timur. Siang harinya, Ketua Jurusan dan Sekretaris Jurusan berkenan hadir memberikan “kuliah kecil” mengenai kurikulum, fasilitas, dosen-dosen dan konsentrasi di Jurusan HI. Ini sisi ilmiah Kemah Ilmiah saat itu. Malam harinya, acara pentas seni dilangsungkan.

Acara pentas seni ini dikemas dengan sangat baik. Setiap kelompok wajib memberikan pentasan, apapun bentuknya, yang mewakili daerah di mana pahlawan yang menjadi nama kelompok mereka, berasal. Sangat lucu memperhatikan bagaimana kelompok I Gusti Ketut Jelantik mempertontonkan Tarian Kecak. Bagaimana kelompok Sam Ratulangi menyanyikan lagu Si Patokan atau kelompok WZ Yohanes menyanyikan lagu Bei Benga. Semuanya berpadu dan bersatu dalam Satu HI dan Satu Indonesia.

Acara Kemah Ilmiah pun ditutup dengan kepuasan yang luar biasa. Kepuasan karena kami mampu menjalankan dua acara besar hanya dalam waktu satu minggu. Kerja keras, pengorbanan, perjuangan, kerjasama, semuanya membuahkan hasil yang manis. Terima kasih teman-teman ’05. Kalian memang teman-teman terbaik yang pernah saya punya. Kalian memang angkatan terbaik yang pernah dimiliki Jurusan HI UPN “Veteran” Yogyakarta.

Masa Perpisahan

Secara tersirat, perpisahan kami sebenarnya sudah dimulai sejak masing-masing mulai sibuk dengan urusan magang. Kami menjadi kurang sering bertemu di kampus. Jarang lagi ada anak-anak ’05 yang kumpul dan meramaikan lobby FISIP serta kawasan sekitar pohon kersen. Semuanya lebih banyak ada di ruangan jurusan. Bertemu dan diskusi dengan dosen pembimbing magang. Jumlah yang lebih besar malah siap untuk terjun ke masyarakat dalam kerangka Kuliah Kerja Nyata.

Khusus untuk magang, angkatan kami termasuk angkatan yang kreatif. Ada banyak institusi yang menjadi tempat magang kami. Sebut saja Angkasa Pura, Weatherford, Kaltim Prima Coal, dan masih banyak lagi. Selesai magang, perpisahan itu semakin jelas. Semua sibuk skripsi.

Semuanya berpuncak pada Januari 2009. Tiga orang teman kami lulus. Mereka pembuka jalan untuk beberapa teman kami yang akhirnya lulus di periode-periode wisuda selanjutnya.

Sampai dengan saat saya menulis tulisan ini, mayoritas angkatan kami sudah lulus. Banyak yang tetap merantau, tetapi tidak sedikit juga yang pulang ke kampung halamannya. Mereka ingin membangun kampung halaman mereka. Ada juga yang masih berjuang di bangku kuliah. Untuk yang masih berjuang, tetap semangat, keep spirit. Semuanya indah pada waktunya.

Semoga suatu saat nanti kita semua bisa berkumpul lagi, bernostalgia kembali tentang perjuangan hidup kita, tentang persahabatan kita dan tentang Jogja. Mari kita saling mendoakan. I miss you all…

Jakarta, akhir Agustus 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar