Senin, Agustus 23, 2010

Aku dan Jogja (Refleksi Masa Kuliah)

Masa Adaptasi

Perkenalanku dengan Jogjakarta sebenarnya bukan sebuah rencana matang dan tersusun rapi. Ketika menamatkan pendidikan tingkat SMA di Seminari Mataloko, ada beberapa kota yang sempat menjadi pilihan untuk kuliah. Yang pertama, Denpasar. Sudah sejak berada di SD, saya sering liburan ke Bali. Keluarga saya banyak yang bekerja dan menetap di Bali. Selain itu, ketertarikan saya terhadap dunia pariwisata seakan menjadi motivator lain untuk kuliah di Denpasar. Yang kedua, Surabaya. Sebenarnya tidak ada sedikitpun ketertarikan saya terhadap kota yang satu ini. Melalui pemberitaan di berbagai media massa dan elektronik, saya jadi tahu kalau kota ini bukanlah kota yang ideal dijadikan tempat kuliah. Kota ini tidak jauh beda dengan Jakarta. Polusi dan penuh kebisingan industri. Keberadaan UNAIR-lah yang membuat saya sedikit tertarik dengan kota ini. Sayang, kota yang ketigalah yang akhirnya menjadi pelabuhan saya untuk kurun waktu 3,5 tahun. Itulah Jogjakarta. Sebuah kota yang nyaman, aman dan tenteram. Kota yang mampu menyuguhkan kekhasan budaya daerah di tengah arus globalisasi yang semakin mendunia.

Pada periode Juni-Agustus setiap tahunnya, eksodus orang-orang Flores ke Jawa terjadi dalam jumlah yang besar. Jumlah ini biasanya terdiri atas calon-calon mahasiswa baru yang akan melanjutkan pendidikannya di tingkat universitas. Jumlah ini juga termasuk para orang tua yang mengantar putra-putri mereka untuk kuliah di Pulau Jawa. Ini mungkin salah satu dampak negatif pembangunan di Indonesia. Semuanya terpusat di Jawa. Sangat Jawasentris. Calon-calon mahasiswa tersebut harus menempuh perjalanan berhari-hari lamanya untuk sampai di kota-kota pilihan mereka di Pulau Jawa. Kebanyakan mahasiswa Flores kuliah di Malang dan Jogjakarta. Dua kota ini memang menjadi favorit orang Flores. Selain karena kota ini sangat nyaman dari sisi “kantong”, komunitas-komunitas Flores pun sudah cukup lama menetap dan tumbuh di dua kota ini. Kelompok mahasiswa Flores yang lain menyebar di berbagai kota di Jawa, seperti Surabaya, Semarang, Salatiga, Kediri, Bandung dan Jakarta.

Tidak seperti ratusan calon mahasiswa lainnya yang langsung mengambil rute Flores-Jawa, saya menyempatkan diri untuk liburan di Bali sebelum mulai mendaftarkan diri saya di salah satu perguruan tinggi di Jogjakarta. Waktu itu, saya sudah pasti akan melanjutkan kuliah saya di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional. Hanya, belum pasti di kampus mana. Sudah sejak kelas 2 SMA saya tertarik dengan jurusan yang satu ini. Mungkin karena saya mempunyai kelebihan di bidang bahasa asing, saya pun berpikir Jurusan Ilmu Hubungan Internasional merupakan pilihan yang tepat. Sempat terjadi perbedaan pendapat di keluarga. Banyak yang menginginkan saya mengambil kuliah di bidang pariwisata di Bali. Alasan mereka, sektor pariwisata masih sangat menjanjikan. Tapi buat saya, yang namanya kuliah itu harus berdasarkan minat pribadi. Tidak boleh ada paksaan. Paksaan hanya akan membuat kuliah dijalani dengan penuh tekanan. Seperti bintang yang menuntun tiga raja dari timur untuk sampai di kandang Bethlehem, demikianlah Tuhan menuntun kaki saya untuk berjalan dan terus berjalan, menatap masa depan.

Singkat kata, pada pertengahan Juli 2005 saya injakkan kaki pertama kali di Jogja. Ada suasana baru. Yang pasti, bukan suasana Flores lagi. Ketika pertama kali berada di Jogja, bagi saya, kota ini pasti punya keistimewaan. Kalau tidak istimewa, tidak mungkin ibu kota negara pernah dipindah ke kota ini. Kalau tidak istimewa, tidak mungkin ribuan mahasiswa dari berbagai daerah rela tinggal dan menetap seorang diri di sini. Kalau tidak istimewa, tidak mungkin kota ini dilabeli Kota Pelajar dan Daerah Istimewa. Dalam benak saya, kota ini pasti kaya akan tradisi dan budaya. Lihat saja, sepanjang jalan di kota ini, kita hanya akan menemui orang-orang dalam busana adat yang eksotis. Blankon contohnya. Belum lagi jika kita berpapasan dengan sepeda-sepeda ontel yang setia menghiasi jalanan Kota Jogjakarta. Sungguh, kota ini menawarkan sesuatu yang berbeda dari kota-kota pada umumnya.

Pada tanggal 31 Juli 2005, saya dinyatakan lulus di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional UPN Veteran Yogyakarta. Sebenarnya, ini bukan kampus idaman saya. Ketika pertama kali datang ke Jogja, tujuan saya hanya kampus UGM. Plus dua kampus swasta. Maklum saja, di kalangan orang Flores, hanya ada 3 kampus yang terkenal di Jogjakarta. Pertama, Universitas Gajah Mada, karena ini adalah kampus negeri. Dan ada begitu banyak orang Flores yang juga menimba ilmu di kampus ini. Yang kedua dan ketiga adalah Universitas Sanata Dharma dan Unika Atma Jaya. Alasannya, karena keduanya adalah kampus katolik. Sayangnya, pendaftaran di kampus UGM sudah ditutup. Di kampus Sanata Dharma dan Atma Jaya pun, tidak ada Jurusan Ilmu Hubungan Internasional. Saya lantas berpaling ke kampus UPN Veteran Yogyakarta. Saya sejenak berpikir. Ini kampus apa? Bermutu tidak? Saya belum pernah mendengar namanya. Saya akan menyesal seumur hidup, kalau sudah jauh-jauh datang dari Flores, tapi ternyata kuliah di kampus ecek-ecek. Ternyata saya salah. Jurusan Ilmu Hubungan Internasional UPN Veteran Yogyakarta berakreditasi A. Thanks God! Saya tidak salah pilih.

Hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah mencari kos. Ini salah satu ciri khas mahasiswa Jogja. Ngekos. Di Jogja, harga kos-kosan pria variatif. Ada yang murah. Ada yang mahal. Yang termasuk golongan murah biasanya berkisar 1 juta sampai 2 juta per tahun. Termasuk murah jika dibandingkan dengan harga kos-kosan di kota lain. Yang termasuk golongan mahal biasanya berkisar di atas 2 juta per tahun. Terminologi “murah” dan “mahal” ini tentu dinilai dari dompet orang Flores. Kalau dinilai dari dompet orang lain, yang mahal itu bisa dirasa sangat murah.

Karena saya lulus di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, otomatis kampus saya adalah di Kampus II Babarsari. Daerah Babarsari pun menjadi alternatif pertama mencari kos-kosan. Tidak sulit sebenarnya mencari kos-kosan di daerah Babarsari. Daerah ini dikenal dengan gudangnya mahasiswa. Lihat saja. Sepanjang jalan Babarsari saja, ada sekitar 7 gedung kampus. Kampus II UPN Veteran, 3 buah gedung kampus Atma Jaya, Kampus BATAN, Universitas Proklamasi dan Sekolah Tinggi Teknologi Nasional. Kos-kosan, warnet, wartel, jasa laundry, jasa rental mobil dan motor pun menjamur di kawasan ini.

Saat-saat pertama hidup di kos-kosan adalah masa-masa sulit buat saya. Jauh dari orang tua. Hidup sendiri di tanah rantau. Harus bisa hidup secara mandiri. Itu beberapa alasan mengapa saya menganggap masa-masa awal adalah salah satu masa sulit selama kuliah. Untungnya, saya ngekos bersama teman-teman dari Flores, di daerah Tambakbayan, Babarsari. Saya jadinya tidak risih. Tidak malu-malu. Maklum, kos kami sudah seperti “Flores kecil”. Daerah Tambakbayan ini punya kekhususan tersendiri. Bagi mahasiswa Jogja, Tambakbayan adalah “sarangnya orang timur”. Hitung saja, ada berapa banyak orang NTT, Maluku, Papua dan Timor Leste yang tinggal di kawasan itu. Jika kita sedang berada di kawasan Tambakbayan, sejauh mata memandang, akan ada pemandangan orang timur yang lalu-lalang. Meskipun demikian, kehadiran orang timur ini membawa berkah bagi para pengusaha kos-kosan, rental kendaraan, jasa warnet, wartel dan jasa laundry. Saking banyaknya, muncullah beberapa istilah yang tidak asing lagi, seperti “rakat”, “pace-mace” dan “timles”.

Istilah pertama ini biasanya dialamatkan untuk mahasiswa yang berasal dari NTT. Saya secara pribadi sebenarnya tidak tahu asal-muasal istilah ini. Tanpa diminta persetujuan, ketika saya kuliah di Jogja, maka saya pun masuk dalam golongan ini. Istilah ini mungkin singkatan dari kata “masyarakat”. Masyarakat NTT maksudnya. Pun, istilah ini digunakan untuk membedakan orang NTT dengan orang timur lainnya. Seorang teman saya malah pernah bertanya, “Bagaimana cara membedakan orang Flores dari orang Papua dan dari orang Timor Leste?” Bagi kebanyakan orang non-timur, ini salah satu hal tersulit. Secara kasat mata, semuanya sama. Hitam. Berambut ikal. Kelihatan sangar. Dan kalau lagi berbicara, serasa satu RT yang berbicara. Kebanyakan orang Flores kuliah di UPN Veteran, Atma Jaya, Sanata Dharma, STTNAS, STIPER dan Respati. Kampus yang terakhir ini malah sempat berubah nama menjadi Resimen Putra-putri Timur.

Istilah kedua biasanya diperuntukkan untuk teman-teman yang berasal dari Papua. “Pace” merujuk pada sang pria, sementara “mace” mengacu pada sang wanita. Komunitas-komunitas Papua pun tumbuh subur di Jogjakarta. Bukan hanya di daerah Babarsari dan sekitarnya. Orang Papua malah punya asrama di daerah Kusumanegara. Kebanyakan orang Papua kuliah di APMD. Sebuah kampus di kawasan Timoho yang diplesetkan menjadi Akademi Pace Mace Dewe.

Sementara itu, istilah “Timles” merupakan abreviasi dari Timor Leste. Sudah pasti istilah ini menunjuk pada teman-teman dari Timor Leste. Mereka tegas memisahkan diri dari Indonesia, tetapi tetap menimba ilmu di Indonesia. Patut diacungi jempol. Kebanyakan orang Timor Leste kuliah di Universitas Proklamasi.

Hidup sendirian di sebuah kota besar membutuhkan tingkat kemandirian yang tinggi. Untunglah, bahwa hidup secara mandiri ini sudah saya lakoni sejak saya duduk di bangku SMP. Sejak di SMP, saya sudah terbiasa untuk tinggal jauh dari orang tua. Bertemu dengan orang tua pun hanya dua kali dalam setahun. Saat liburan kenaikan kelas dan liburan Natal. Segala sesuatu saya urus sendiri. Hidup kekurangan sering mewarnai kehidupan saya. Di sini saya menjadi lebih kuat. Lebih bisa menghadapi lika-liku hidup. Lebih bisa struggle for life.

Orang bilang hidup sebagai mahasiswa itu banyak tidak enaknya. Memang benar. Menjadi mahasiswa di Jogja berarti harus bisa menjadi pribadi yang punya banyak akal. Dalam keadaan terjepit sekalipun, kita dituntut untuk bisa mencari solusi atau jalan keluar akurat. Jika tidak, kita akan jatuh ke dalam kesengsaraan seorang mahasiswa di tengah sebuah kota besar.

Hal yang sederhana. Makan, misalnya. Jogja itu terkenal serba murah. Di daerah Tambakbayan saja, ada ratusan warung makan yang buka setiap harinya. Warung-warung makan seakan menjadi oase di tengah padang gurun bagi mahasiswa-mahasiswa yang penat akan tugas kuliah yang menumpuk. Warung makan di Jogja pun beragam. Ada yang mahal, ada yang murah. Ada yang lengkap, ada yang hanya mengandalkan bubur kacang ijo. Ada yang makanannya dibagi, ada yang makanannya kita ambil sendiri. Ada warung padang, ada lesehan. Variatif. Tergantung pintar-pintar kita memilih yang mana. Jika dibandingkan dengan kota lainnya di Jawa, warung-warung makan Jogja lebih bisa diterima oleh dompet mahasiswa. Hanya dengan lima ribu rupiah, sepotong ayam goreng beserta sayur sudah bisa menemani sepiring nasi putih kita. Hal yang sangat sulit kita temukan di kota lain.

Lain mahasiswa Jawa, lain pula mahasiswa Flores. Mahasiswa Flores punya kebiasaan yang unik menyangkut pola makan ini. Sebagian besar mahasiswa Flores berlatar belakang PNS. Maksudnya, orangtua sebagian besar mahasiswa Flores adalah Pegawai Negeri Sipil. Bagi kami (mahasiswa Flores di Jogja), awal bulan adalah masa-masa keemasan. Ibarat pemain bola, awal bulan itu laksana masa keemasan seorang pemain bola ketika berada di puncak karirnya. Keadaan ini akan berbanding terbalik dengan saat penanggalan di kalender mulai memasuki angka 20. Kebiasaan catat (baca: utang) sudah tidak asing lagi untuk kami orang Flores. Burjo akan menjadi pilihan terakhir kami, tempat “mengemis” makan.

Istilah “burjo” ini pun cukup menyentil. Istilah ini pertama kali saya dengar di Jogja. Burjo sebenarnya singkatan dari “bubur kacang ijo”. Istilah ini melekat pada warung-warung yang menjual bubur kacang ijo. Walaupun, bubur kacang ijo sebetulnya bukanlah satu-satunya menu di warung tersebut. Spesialnya, warung-warung ini buka 24 jam. Sebuah hal positif yang cukup digemari mahasiswa.

Warung-warung burjo ini mayoritas “sahamnya” dimiliki oleh orang-orang Sunda. Jika kita berada di Jogja, kita akan dengan mudah menjumpai Burjo Kuningan, Burjo Ciamis, Burjo Cimahi, dll.

Sudah menjadi kebiasaan umum mahasiswa bahwa burjo adalah tempat bertemu dan tempat berkumpul. Di saat akhir bulan (biasanya setelah tanggal 20 tiap bulannya) burjo menjadi satu-satunya pilihan untuk mengisi kekosongan perut. Alasannya gampang. Burjo menawarkan program pinjaman dengan bunga kecil. Kata lainnya, kita bisa utang di burjo ini. Makan dulu. Urusan bayar, nanti awal bulan depan. Begitulah para petugas burjo selalu sabar melayani mahasiswa-mahasiswa Jogja. Jika meninggal nanti, saya yakin petugas burjo ini akan masuk surga. Kebaikan hati mereka sukar digantikan oleh siapapun. Itu alasan pertama.

Alasan kedua. Mayoritas mahasiswa suka berkumpul di burjo karena burjo buka 24 jam. Inilah yang sangat digemari mahasiswa. Semasa kuliah, hal ini pun saya alami. Ada banyak hal yang bisa dibahas selama berkumpul di burjo. Mulai dari bahan ujian, modifikasi motor, program kerja organisasi kampus, adik-adik dan teman-teman angkatan yang cantik, sampai pada isu-isu politik nasional dan daerah. Bersama teman-teman dari Flores, burjo ini adalah tempat favorit kami. Ada beberapa burjo yang malah berada dalam posisi strategis. Strategis karena dekat dari jangkauan mahasiswa Flores. Kegiatan futsal biasanya berawal dan berakhir di burjo. Berawal untuk berkumpul dan berakhir untuk melepas dahaga. Sayangnya, burjo hanya akan ramai pada saat akhir bulan. Pada saat awal bulan, jangan harap kita akan bertemu mahasiswa di burjo. Saat awal bulan, burjo menjadi anak tiri. Kalah tenar dengan lesehan, warung padang, pizza hut dan warung-warung makan lainnya. Burjo sepi. Senyap. Diam dalam kesetiaannya. Tapi, itulah khasnya Jogja. Kita selalu bisa bertemu dengan aneka orang, dengan beragam situasi dan kondisi.

Lain soal makan, lain pula soal kebebasan. Hidup di sebuah kota besar, jauh dari pengawasan orangtua dan keluarga, membuat kebanyakan mahasiswa bablas. Salah satunya dalam hal pergaulan.

Hidup di kota sebesar Jogja, mahasiswa harus pandai-pandai mengendalikan diri. Ada banyak kesenangan duniawi yang ditawarkan Jogja. Ada banyak kenikmatan yang bisa kita dapat di Jogja. Hal yang paling menonjol dari mahasiswa Jogja adalah seks bebas dan minuman keras. Mengenai seks bebas, banyak pengalaman yang menegaskan bahwa pengendalian diri itu amat sangat penting. Hidup di kos-kosan yang bebas menuntut mahasiswa untuk bisa berpikir bijak, meningkatkan pengendalian dirinya dan mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Berita mengenai kehamilan yang tinggi dan tingkat aborsi yang terus meningkat selalu menjadi headline surat kabar-surat kabar di Jogja.

Pada waktu datang pertama kali ke Jogja saja, saya sudah dikejutkan dengan berita seorang kakak kelas saya sewaktu SMA yang sudah “lulus” duluan, alias pulang tanpa ijasah. Alasannya, pacarnya hamil. Sayang sekali. Terlebih-lebih karena sang kakak kelas itu adalah anak yang alim dan tenang semasa SMA. Tidak banyak ulah. Tapi itulah Jogja. Di tengah hingar-bingar dan kebesaran nama Jogja, terselip pula kisah-kisah pilu. Orang Jogja pun terkesan munafik. Tidak mau tahu. Yang penting bahwa Jogja tetap ramai, warung makan mereka tetap laris, laundry dan warnet mereka tetap laku. Tak peduli berapa banyak bayi-bayi mungil yang ditemukan tergeletak tak bernyawa di selokan-selokan kota Jogja. Tak peduli berapa banyak anak-anak wanita yang harus hamil dalam usia yang relatif muda. Mau bagaimana lagi.

Selain masalah kebebasan, masalah minuman keras juga selalu menjadi ciri khas mahasiswa Jogja. Untuk masalah yang satu ini, saya cukup miris. Saya tidak mengerti, kenapa mahasiswa Jogja (mayoritas mahasiswa dari timur) amat sangat menggemari minuman keras. Kebiasaan, mungkin. Orang timur memang terkenal suka menenggak minuman keras. Tapi, kebiasaan itu ‘kan bisa diubah. Perlahan tapi pasti, kita pasti bisa mengubah lebiasaan kita.

Ketika ngekos di kawasan Tambakbayan, saya saban kali bertemu dengan mahasiswa yang suka menghambur-hamburkan uang mereka untuk minuman keras. Alasan mereka sangat sederhana. Kesetiakawanan-lah. Persaudaraan-lah. Persahabatan-lah. Sangat disayangkan bahwa nilai-nilai kesetiakawanan, persaudaraan dan persahabatan justru dibangun di atas dasar minuman keras. Kalau minuman keras itu justru bisa mengubah mereka ke arah yang lebih baik, saya pasti setuju. Namun, kalau minuman keras itu justru membawa mahasiswa ke arah perpecahan, perkelahian, tawuran dan pembunuhan, kenapa harus dipertahankan? Dampak sosial minuman keras ini belum terhitung dengan berapa banyak tawuran dan perkelahian antarsesama mahasiswa timur yang kerap terjadi di Jogja. Saya pikir, Polsek Depok Barat dan Depok Timur pasti sudah sangat bosan menghadapi ulah mahasiswa-mahasiswa tersebut. Selalu ada kasus tentang orang timur. Itu baru dampak sosialnya.

Jika dikaitkan dengan masalah ekonomi, berapa banyak rupiah yang sudah kita buang hanya untuk membeli minuman keras. Untuk yang satu ini, saya pernah mengalaminya sendiri. Kos saya memang terdiri atas mayoritas mahasiswa dari timur. Kebanyakan dari Flores. Bukan orang Flores namanya kalau tidak suka minuman keras. Sebuah persepsi yang sangat dangkal. Pernah di suatu pagi saya bangun dan menyaksikan beberapa teman saya tertidur di lantai, bercampur aduk dengan muntahan mereka sendiri, berbaur dengan botol-botol minuman keras. Ketika botol-botol itu saya kumpulkan, jumlahnya 35 buah botol. Sungguh sangat disayangkan jika jumlah botol tersebut dirupiahkan.

Hampir semua acara selalu ditutup dengan minuman keras. Entah itu ulang tahun, entah itu syukuran wisuda, entah itu Natal dan Paskah bersama, entah itu ajang kumpul-kumpul. Semua selalu ditutup dengan minuman keras. Yang paling menyedihkan adalah bahwa motor, STNK dan ATM kadang menjadi bahan jaminan untuk menjaga pasokan minuman keras itu tetap ada. Jika saja mahasiswa-mahasiswa Jogja bisa sejenak merefleksi diri. Di balik ATM tersebut, di balik STNK motor, di balik lembaran-lembaran rupiah mereka, sebenarnya mengalir deras tetesan keringat kedua orangtua mereka yang selalu bekerja keras supaya anak mereka bisa tetap menimba ilmu di Jogja. Andaikan mahasiswa-mahasiswa Jogja bisa sadar bahwa ternyata pada saat mereka asyik menenggak minuman keras, orangtua mereka justru hanya bisa menikmati nasi di kampung halaman. Tanpa sayur. Tanpa lauk. Seandainya mahasiswa-mahasiswa itu bisa menghitung berapa banyak buku atau kegiatan berguna lainnya yang bisa dilakukan, selain hanya berkutat dengan minuman keras.

Sungguh disayangkan bahwa mayoritas mahasiswa terpaksa menghabiskan waktu bertahun-tahun lamanya hanya untuk bisa menyelesaikan kuliah mereka. Bukan karena mereka bodoh. Tetapi, karena mereka tidak bisa dan tidak pernah mau mengubah kebiasaan yang telah lama mengakar dalam diri mereka.

Namun, saya patut bersyukur bahwa saya tidak pernah terlalu dalam terlibat dalam praktik minuman keras. Mungkin karena didikan keluarga dan disiplin yang ketat semasa saya duduk di bangku SMP dan SMA. Setiap ajakan dari teman-teman selalu saya tolak. Bagi saya, persahabatan saya dan teman-teman tetap di atas segala-galanya. Tidak bisa diukur dengan berapa banyak jumlah botol minuman yang dihabiskan dalam semalam. Lambat laun, mereka pun mengerti saya. Mereka lebih membiarkan saya larut dalam berbagai kesibukan saya, ketimbang bergabung dengan mereka.

Bagi saya, masa adaptasi adalah masa belajar. Masa di mana kita bertumbuh dari ulat, menuju kepompong dan akhirnya menjadi seekor kupu-kupu yang bebas terbang. Masa belajar adalah masa kita untuk mengetahui banyak hal, menyimak banyak peristiwa untuk akhirnya tahu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Itulah makna pembelajaran sejati.

Masa Menikmati Kuliah

Periode 2005-2008 adalah masa keemasan bagi saya. Saya sangat menikmati kuliah di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional UPN Veteran Jogjakarta. Beginilah kalau kuliah berdasarkan minat pribadi, bukan berdasarkan paksaan dan pilihan orang lain. Walaupun sedikit kikuk pada awal-awal masa kuliah, tetapi bukan saya namanya kalau tidak bisa cepat bergaul, beradaptasi dan mempunyai banyak teman.

Semester-semester awal di kampus belum terlalu membebani saya. Setidaknya, mata kuliah yang diajarkan masih merupakan mata kuliah pengantar dan lanjutan dari mata kuliah semasa SMA. Sebut saja Pengantar Sosiologi, Pengantar Ilmu Politik. Karena saya memang pada dasarnya menyukai semua yang berbau politik, ditambah pula saya adalah bekas siswa kelas III IPS, saya tidak terlalu menemui banyak kesulitan semasa awal kuliah. Namun, ada satu peristiwa yang sampai sekarang masih saya ingat dengan jelas.

Pada saat awal kuliah, mahasiswa baru diharuskan mengikuti OSPEK. OSPEK berlangsung selama tiga hari dan ditutup dengan OSPEK Jurusan HI pada hari ketiga. Bagi kebanyakan mahasiswa baru, OSPEK jurusan amat dinanti. Pasalnya, di dalam OSPEK jurusan, mahasiswa baru diperkenalkan dengan berbagai hal mengenai jurusan mereka. Mulai dari profil jurusan tersebut, dosen-dosen yang mengajar di jurusan tersebut, kurikulum yang berlaku sampai pada fasilitas yang ada di jurusan tersebut. Buat mahasiswa Hubungan Internasional (HI), masa OSPEK ini juga biasanya dimanfaatkan oleh senior-senior untuk mengemas acara sedemikian rupa sehingga citra HI-nya itu bisa dirasakan. Pada masa kami, simulasi sidang Protokol Kyoto menjadi tema acara saat itu. Kami dibagi ke dalam beberapa kelompok negara dan tiap-tiap negara tersebut harus bisa memaparkan posisi negara mereka terhadap Protokol Kyoto. Saya kebetulan masuk ke dalam kelompok Negara Belanda. Negara Belanda adalah salah satu negara yang mendukung diberlakukannya Protokol Kyoto. Kelangsungan hidup Bunga Tulip dan ketakutan akan meningkatnya jumlah air laut menjadi pertimbangan kelompok kami saat itu. Wajar saja, posisi Negara Belanda lebih rendah dari ketinggian air laut.

Kegiatan simulasi dibuka dengan pengantar umum dari moderator sidang. Sang moderator berbicara dengan bahasa Inggris yang sangat fasih. Mungkin dalam benaknya, bahasa Inggris adalah sesuatu yang sudah harus dimiliki oleh seorang mahasiswa HI. Dengan demikian, semua calon mahasiswa baru HI pasti mempunyai kemampuan bahasa Inggris di atas rata-rata. Itu pula yang ada di benak saya. Pada saat datang pertama kali ke Jogja, sempat terbersit dalam pikiran saya bahwa mahasiswa-mahasiswa “di sini” pasti jauh lebih pintar dari kami yang datang dari daerah. Kami kesulitan buku-buku, mereka bisa dengan mudah mendapatkan buku-buku pelajaran. Kami miskin jaringan internet, mereka berkelimpahan warnet dan infrastruktur internet lainnya. Wajar saja kalau saya sempat berpikir begitu.

Ketika tiba giliran kelompok kami memaparkan pemikiran dan alasan umum kelompok kami, tanpa disuruh tanpa diminta, rentetan kalimat bahasa Inggris keluar dari mulut saya. Untuk yang satu ini, saya adalah jagonya. Sudah sejak SD saya dikaruniai kemampuan bahasa di atas rata-rata. Nilai bahasa saya, entah itu bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Jerman maupun bahasa Latin, selalu di atas delapan. Bahkan pada saat SMA, nilai praktik bahasa Inggris saya adalah 9,9. Maka tidak heran jika kemampuan di bidang bahasa kemudian menjadi keahlian saya. Pada saat saya memaparkan pemikiran kelompok saya dengan bahasa Inggris yang lancar itulah, ekor mata saya menangkap bahwa saya sedang menjadi pusat perhatian teman-teman. Mungkin dalam hati mereka, mereka bertanya: anak mana ini? Nama saya pun kemudian menjadi terkenal di kalangan teman-teman seangkatan.

Kiprah saya di kampus dimulai dari saat itu. Sejak saat itu, kos saya selalu menjadi tempat belajar bersama menjelang ujian kampus. Banyak orang yang datang pada saya. Ada yang sekedar meminjam catatan. Ada yang sekedar meminta waktu belajar bersama. Ada yang sekedar bertukar pikiran. Ada pula yang sekedar mau belajar “bagaimana belajar dengan baik”. Kos saya laris manis menjelang ujian tengah semester dan ujian akhir semester. Tidak hanya di kos. Di kelas pun saya cukup terpandang. Jika ada tugas-tugas kampus, saya tidak pernah sepi peminat. Selalu ada teman yang mau sekelompok dengan saya. Entah yang hanya ingin nebeng atau yang benar-benar mau belajar.

Bagi saya, inilah buah dari pendidikan yang saya terima semasa saya duduk di bangku SMP dan SMA. Mungkin tidak banyak yang mengenal sekolah saya. Tetapi, saya berani jamin bahwa semua hal yang ada di kampus, sudah saya dapatkan di sekolah saya.

Masa-masa ujian di kampus pun tidak terlalu menegangkan buat saya. Jika selama SMP dan SMA saya harus belajar keras untuk menghadapi ujian dan bersaing dengan teman-teman lainnya, saat saya di kampus, ujian bukanlah momok yang menakutkan. Nilai-nilai ujian saya berkisar antara 80 sampai 90an. Malah pernah ada yang 100. C’est parfait! Sempurna! Kemampuan nalar dengan tingkat analisis yang tinggi sudah saya dapatkan semasa SMA. Ibaratnya, saya menabur saat SMA dan menuai saat kuliah.

Selain unggul dalam ujian-ujian tulisan, diskusi-diskusi kelompok di kampus juga menjadi santapan saya. Saya tidak pernah absen dalam diskusi kelas. Entah itu untuk memberikan informasi, entah untuk menyanggah ataupun sekadar memberikan solusi atas deadlock yang terjadi. Banyak yang senang dan seturut dengan jalan pikiran saya. Pikiran saya selalu menjadi pemecah di tengah kebuntuan. Namun, banyak juga yang tidak sesuai dengan pikiran saya. Di situlah debat terjadi. Itulah arti mahasiswa sesungguhnya. Selalu mampu melihat sebuah hal dari sisi yang berbeda-beda.

Di tahun perdana saya di kampus, saya tidak lagi canggung dan takut. Wajar saja, saat awal-awal saya berada di kampus, perasaan cemas, takut, canggung bercampur menjadi satu. Saya seolah meragukan diri saya. Saya bisa atau tidak? Bisakah saya bersaing dengan orang-orang “di sini”? Sebuah keraguan yang justru semakin melecut diri saya untuk belajar dan terus belajar. Manusia itu menjadi sempurna karena terus belajar.

Di penghujung tahun pertama, IPK saya sangat memuaskan. Sebuah pembuktian bahwa saya bisa bersaing dengan orang-orang “di sini”. Bukti bahwa tanah yang gersang, jauh di ujung timur Indonesia, ternyata mampu melahirkan orang-orang pintar yang tidak kalah dengan orang-orang “di sini”.

Kedatangan saya ke Jogja tentu bukan hanya dilandasi alasan tunggal, untuk kuliah. Saya tentu tidak mau dicap sebagai mahasiswa 3K: Kampus-Kos-Kantin. Prinsip 3K ini sebenarnya mau mewakili mahasiswa yang datang ke Jogja, murni hanya untuk kuliah. Ini mungkin prinsip yang akan saya tentang. Bagi saya, ilmu tidak hanya didapat di bangku kuliah. Ilmu itu bisa diperoleh dari mana saja. Bahkan, ilmu itu bisa didapat dari berbagai pengalaman hidup yang kita alami. Untuk alasan itulah, maka saya mencoba mencari kesibukan lain selain kuliah.

Organisasi kampus pun menjadi “pelarian” saya berikutnya. Adalah Himpunan Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional (HIMAHI) yang menjadi organisasi pertama saya semasa kuliah. Jauh sebelum saya bergabung di HIMAHI, saya sudah sering mengikuti berbagai kepanitiaan di kampus. Sebenarnya, alasan saya ikut organisasi dan kepanitiaan di kampus, tidak muluk-muluk. Buat saya, kita bisa belajar banyak hal dalam sebuah organisasi. Kita bisa belajar menjadi pemimpin, belajar menyampaikan ide dan gagasan, belajar menjalin relasi dengan orang lain. Kita hidup di dunia ini bukan untuk kita sendiri. Sebagai makluk sosial, seorang manusia harus mampu menjalin relasi dengan siapa saja. Di organisasi-lah kita bisa memperoleh semua itu.

Semasa kami, HIMAHI itu seperti “Indonesia kecil”. Dari Sabang sampai Merauke. Ada teman dari Aceh, ada dari Jawa, ada dari Kalimantan, Sulawesi, Papua, Bali dan NTT. Semuanya berada di bawah payung yang sama: payung kekeluargaan. Karena berada di bawah payung kekeluargaan, semuanya seakan memiliki warna kulit yang sama, bentuk tubuh yang sama, cara bicara yang sama, agama yang sama. Di HIMAHI, Bhineka Tunggal Ika benar-benar berlaku.

Saya mungkin tipe mahasiswa Flores yang jauh berbeda dengan mahasiswa Flores pada umumnya. Jika di awal-awal kuliah, teman-teman saya tersebut langsung tenggelam dalam berbagai kesibukan dengan sesama orang Flores, saya berbuat yang sebaliknya. Saya buka diri, bergaul dengan banyak orang, ikut berbagai acara kampus dan terjun ke organisasi kampus. Bagi saya, kita tidak boleh seperti katak dalam tempurung. Buat apa jauh-jauh ke Jogja kalau ternyata hanya untuk bergaul dengan teman-teman sedaerah? Jogja itu ibaratnya “Indonesia mini”. Mahasiswa dari berbagai daerah berkumpul di sini. Ada orang Batak yang sangat ceplas-ceplos. Ada orang Jawa yang tenang-tenang menghanyutkan. Ada orang Kalimantan dan Sulawesi yang bagai garam dalam sayur. Tak terlihat, tapi terasa keberadaannya.

Jogja penuh dengan aneka warna kehidupan. Kita harus pintar-pintar memilih. Memilih yang baik dari yang buruk. Kalaupun berada dalam situasi seburuk apapun, kita harus bisa memilih yang terbaik di antara yang terburuk. Istilah Latinnya minus malum. Terbaik dari yang terburuk.

Selain aktif dalam organisasi HIMAHI, saya juga turut aktif dalam berbagai kepanitiaan kampus. Tak peduli dalam satu hari harus ada beberapa rapat. Yang penting adalah bahwa ada nilai positif yang bisa saya ambil dari kepanitiaan dan organisasi kampus. Konseptor acara selalu menjadi langganan saya. Tak tahu mengapa, tapi pikiran dan konsep acara yang saya tawarakan selalu bisa diterima oleh teman-teman. Kata mereka, saya netral. Bisa berada di tengah-tengah permasalahan. Bisa memecahkan masalah tanpa merugikan salah satu pihak. Saya pun acapkali dipercaya menjadi moderator acara di kampus. Entah itu moderator dalam acara yang melibatkan para dosen maupun moderator untuk kalangan mahasiswa sendiri.

Semua itu saya lakoni dengan penuh syukur. Hidup itu harus selalu bersyukur. Bersyukur akan apa yang kita punya sekarang. Patut disayangkan bahwa banyak teman-teman yang tidak tahu dan tidak mau bersyukur untuk hidup. Selalu menampilkan sifat dasar manusia. Tidak pernah puas. Selalu mau mencari yang lebih dan lebih. Di situlah manusia justru jatuh. Jatuh ke dalam dosa asal.

Lain mahasiswa, lain pula soal dosen di kampus kami. Buat saya, metode pembelajaran di kampus harus berbeda dengan metode pembelajaran di SMA dan SMP. Mahasiswa dan siswa mempunyai perbedaan yang cukup mencolok. Jika siswa masih menggunakan metode pembelajaran tekstual, mahasiswa harus beda. Namanya juga “maha”siswa. Posisinya berada di atas segala jenis siswa di dunia ini.

Sayangnya, hal ini tidak terlalu mendapat perhatian dosen-dosen di kampus. Mayoritas dosen-dosen di kampus masih menggunakan metode pengajaran yang tradisional. Amat sangat textbook. Tugas-tugas yang diberikan pun sangat textbook. Review buku-lah. Membuat ringkasan-lah. Hal yang sebenarnya patut diajarkan untuk siswa SMP dan SMA.

Metode ini sangat tidak memungkinkan mahasiswa berpikir kritis. Selama saya berada di kampus, hanya beberapa dosen yang berbuat sebaliknya dengan kebanyakan dosen. Hanya beberapa dosen yang menekankan pentingnya pola pikir kritis dan rasional yang berlandaskan pada argumentasi yang kuat. Kebanyakan dosen masih menggunakan pola-pola hafalan. Soal-soal ujian yang diberikan pun masih membuku. Selalu soal hafalan yang jawabannya sudah tertulis jelas di dalam buku. Tinggal dipindahkan saja ke lembar jawaban mahasiswa dalam rupa tulisan tangan.

Situasi ini membuat saya sempat “kaget” di awal-awal masa kuliah. Pembelajaran hafalan ini adalah metode favorit saya semasa SD. Anak SD pada umumnya memang begitu. Sudah sejak SMP dan SMA saya dilatih untuk mampu berpikir kritis. Metode pengajaran di sekolah kami pun selalu bertujuan untuk membentuk siswa agar bisa berpikir kritis dan rasional. Hal yang jauh berbeda ketika saya duduk di bangku kuliah. Oleh karena itu, bagi saya, jauh lebih mudah mendapatkan nilai A di bangku kuliah daripada mendapatkan nilai 8 di sekolah saya.

Sebelum resmi bergabung menjadi mahasiswa Hubungan Internasional, hal pertama yang sudah saya siapkan adalah bahasa asing. Saya berpikir bahwa yang namanya mahasiswa HI harus sudah mempunyai kemampuan bahawa asing yang mumpuni. Dan bahasa Inggris salah satunya. Untuk bahasa yang satu ini, saya cukup piawai. Saya sudah mampu berbahasa Inggris dengan baik dan benar sejak kelas II SMP. Itulah salah satu latar belakang saya menginjakkan kaki saya di jurusan HI.

Namun, bahasa Inggris saja tidaklah cukup. Banyak yang bilang bahasa Inggris itu sudah biasa. Sudah umum. Sudah banyak yang tahu. Harus ada penguasaan bahasa asing lain. Dengan demikian, kita bisa mempunyai nilai lebih dibandingkan mahasiswa-mahasiswa lainnya. Ini era persaingan. Hukum rimbalah yang berlaku. Siapa kuat, dia yang menang. Saya pun berpikir untuk mengambil kursus bahasa asing lainnya. Pilihan saya jatuh ke bahasa Perancis. Alasannya, bahasa Perancis mempunyai kedekatan dengan bahasa Italia, Spanyol dan Portugis. Kata-katanya mirip. Bunyinya hampir sama. Apalagi, sama-sama merupakan bahasa romance dan sama-sama berakar pada Bahasa Latin.

Saya kemudian mengikuti kursus bahasa Perancis. Tentu dengan biaya yang masih ditanggung orangtua. Untunglah, bahwa orangtua saya selalu mendukung saya. Bagi mereka, pilihan saya adalah pilihan mereka. Mereka mengenal saya dan kemampuan saya dengan baik.

Sayangnya, pada saat-saat awal saya mengikuti kursus bahasa Perancis, banyak teman-teman yang masih memandang sebelah mata. Mungkin mereka merasa hal ini sebagai sebuah kejanggalan. Bagi mereka, datang ke Jogja bukan hanya untuk kuliah, tetapi untuk enjoy life. Menikmati hidup dengan berhura-hura dan bersenang-senang. Jauh dari orangtua. Jauh dari kungkungan aturan yang mengikat. Tapi, saya selalu mempunyai pemikiran yang berseberangan dengan mereka. Bagi saya, masa depan kita harus sudah kita siapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Kalau kedatangan saya ke Jogja hanya untuk kuliah, apa bedanya saya dengan mahasiswa pada umumnya? Saya harus punya sesuatu yang lebih. Sesuatu yang bisa membedakan saya dengan mahasiswa lainnya. Memang, terkesan sangat ambisius. Tapi itulah saya. Saya selalu punya ambisi-ambisi besar. Dan ambisi-ambisi itulah yang selalu melecut saya untuk terus belajar dan belajar.

Kursus bahasa Perancis saya di Lembaga Indonesia Perancis Yogyakarta berlangsung kurang lebih 2 tahun. Dalam periode itu banyak hal yang saya rasakan dan saya alami. Selalu saya petik hikmahnya. Saya pernah sekali masuk kelas kursus dalam keadaan basah kuyup. Pasalnya, pada saat itu adalah musim hujan. Saya lupa membeli mantel hujan. Alhasil, saya pun mengikuti kursus dalam keadaan basah kuyup. Saya juga pernah kursus dalam keadaan yang sangat lelah. Pada periode itu, saya bergabung dalam dua kepanitiaan kampus, plus organisasi HIMAHI. Everyday is meeting. Pagi sampai siang saya kuliah. Siang sampai sore ikut pertemuan. Sore sampai malam saya kursus Perancis. Sungguh, jika saya tidak bermental baja dan tidak memikirkan masa depan saya, semuanya sudah saya lepas. Implementasi dari kursus ini saya wujudkan ketika bersama teman-teman pengurus BEM FISIP, saya selenggarakan acara bernuansa Perancis dengan tema Allons en France (Ayo ke Perancis). Acara ini menghadirkan Direktur LIP yang juga Konsul Perancis di Jogjakarta, Marie Le Sourd. Tak ada kata lelah. Tak ada kata menyerah.

Buat saya, di situlah kita dicoba. Di situlah Tuhan menilai kita. Apakah kita kuat atau tidak? Apakah kita tegar atau tidak? Memang, Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan manusia. Tapi, bukan berarti Tuhan mau kita menjadi manusia yang lemah, cepat menyerah dan mudah putus asa.

Masa Menikmati Jogja

Bukan mahasiswa Jogja namanya kalau tidak menjelajahi seluk-beluk Kota Jogja. Selama saya di Jogja, ada beberapa tempat yang menjadi favorit saya.

Yang pertama, tentu Babarsari dan sekitarnya. Babarsari itu unik. Unik karena di sana berkumpul berbagai mahasiswa dengan berbagai latar belakang daerah, agama, warna kulit dan kampus. Indonesia mini. Ada orang Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Sulawesi, Maluku, Papua dan NTT. Lihat saja plat-plat kendaraan bermotornya. Sangat variatif. Menunjukkan kemajemukan yang ada di Jogja pada umumnya dan Babarsari pada khususnya. Selain itu, di sepanjang jalan Babarsari, ada sekitar 7 gedung kampus. Mulai dari UPN Veteran di ujung selatan, menuju 3 buah gedung Atma Jaya, BATAN, Universitas Proklamasi dan berakhir di STTNAS Babarsari. Jika mau diibaratkan, Babarsari itu seperti negara kota di tengah sebuah kota. Di tengah hingar-bingar Jogjakarta, ada kawasan Babarsari yang menawan.

Saya tidak tahu apakah daerah ini benar bernama Babarsari? Ataukah daerah ini bernama Babarsari karena ada jalan utama yang juga bernama Jln Babarsari? Di sepanjang jalan ini, selama hari-hari kuliah, ratusan mahasiswa akan hilir mudik. Entah itu mahasiswa UPN yang hilir mudik dari kampus ke burjo, ke Vimart atau ke fotokopian Tsabita. Entah itu mahasiswa Atma Jaya yang lalu-lalang dari satu gedung kampus ke gedung lainnya. Ataukah mahasiswa Universitas Proklamasi dan STTNAS yang juga cukup meramaikan jalan ini.

Saya sendiri, jika tidak ada kuliah, lebih senang menghabiskan waktu di belakang Vimart, kos cewek saya, seorang wanita cantik asal Kalimantan. Hubungan kami dibangun di atas dasar kerja keras, pengorbanan dan kesabaran. Waktu berjuang untuk mendapatkan dia, saya gunakan pepatah Latin Gutta Cavat Lapidem Non Vi Sed Saepe Cadendo (Titik-Titik Air Melubangi Batu Bukan Karena Kekerasannya, Tetapi Karena Keseringannya). Puji Tuhan saya dapatkan juga cintanya. Selama masa pacaran, berbagai suka duka kami lewati bersama. Dari susahnya mencari makan waktu Lebaran, sampai terpaksa utang di burjo karena dua-duanya kehabisan uang. Hehehe… Sayang, hubungan kami kandas di tengah jalan.

Selain terkenal karena beberapa gedung kampus berdiri kokoh di pinggir jalan, di Jln Babarsari ini juga terdapat beberapa tempat yang sangat dikenal. Sebut saja Hotel Sahid, Petrako, Ruko Babarsari dan Citrouli. Tempat-tempat ini cukup familiar untuk mahasiswa-mahasiswa Jogja. Selain Hotel Sahid; Petrako, Ruko Babarsari dan Citrouli adalah tempat-tempat favorit untuk kalangan mahasiswa. Untuk Petrako, misalnya. Saya pernah punya pengalaman di tempat yang satu ini. Sudah menjadi pengetahuan publik bahwa Petrako ini adalah tempat menjual alat-alat tulis menulis, di samping ada beragam hadiah, perhiasan, lukisan, gantungan dan pernak-pernik lainnya. Saya pernah menemani seorang saudara saya untuk membeli kado untuk cewek yang ditaksirnya. Menurutnya, kado itu nanti digunakan untuk “menembak” cewek itu. Kado itu terdiri atas dua kepingan hati. Maksud dia, saat makan malam nanti dia akan memberikan kado yang berisikan satu keping hati saja. Ketika membuka kado itu, cewek itu pasti terheran-heran. Di saat itulah, dia muncul dengan kepingan hati yang lain seraya berkata, “Maukah kamu menjadi cewekku?” Syukurlah bahwa kado itu diterima dengan baik dan saudara saya itu pun diterima menjadi kekasih hati sang cewek. Jika mau disinetronkan, kira-kira judul yang tepat adalah “Cintaku di Petrako Jogja”.

Lain Petrako, lain pula Ruko Babarsari dan Citrouli. Ruko Babarsari lebih didominasi oleh barang-barang elektronik. TV, kipas angin, antena TV, kulkas dijual dengan harga mahasiswa di tempat ini. Ruko Babarsari bisa menjadi pilihan pertama mahasiswa, daripada harus jauh-jauh ke kawasan Malioboro.

Citrouli lain lagi. Posisinya sangat strategis. Citrouli seakan menjadi titik pertemuan mahasiswa. Citrouli tepat berada di titik tengah, antara kampus-kampus di Jln Babarsari dengan Kampus STIE YKPN dan UPN Veteran Condongcatur. Antara mahasiswa yang ngekos di Babarsari dengan yang ngekos di Kledokan dan Seturan. Ini titik paling tengah. Karena titik paling tengah, wajar saja jika Citrouli selalu ramai. Apalagi setelah matahari terbenam. Citrouli menjadi semacam centre point. Selain tempat-tempat ini, Babarsari juga kaya akan lesehan, tempat billiard, bengkel motor, butik, rental komputer. Lengkaplah sudah Babarsari dijuluki negara kota di tengah kota Jogjakarta.

Di siang hari, Babarsari selalu sibuk. Pergerakan manusia sangat tinggi. Mobilitas kendaraan sangat banyak. Mahasiswa selalu sibuk dengan berbagai tugas dan kepentingan kampus. Ada yang buru-buru, ada yang santai, ada yang cemas, ada yang serius. Semuanya bercampur jadi satu.

Para pelakon bisnis lain pun turut ambil bagian dalam kesibukan Babarsari. Golongan ini mencakup para petugas bengkel, para penjaga warung makan, para penjual gorengan, para petugas rental komputer, para penjaga warnet. Tujuan mereka hanya satu: memberikan pelayanan sebaik-baiknya. Dengan ketulusan dan kesetiaan, mereka memberikan pelayanan terbaik. Semuanya berbaur jadi satu. Tidak ada perbedaan, seperti minyak dan air. Semuanya lebur dalam satu kesibukan. Di Babarsari, Mesjid dan Gereja berdiri dengan kokoh. Mahasiswa beribadah tanpa ketakutan akan adanya intimidasi kelompok tertentu.

Di malam hari, Babarsari kaya akan lesehan. Sepanjang Jln babarsari, dari depan kampus UPN Veteran sampai di Citrouli dan sekitarnya, kita hanya akan menemui lesehan. Para pemilik lesehan ini biasanya mulai berjualan sekitar jam 5 sore sampai dengan jam 1 malam. Lesehan tersebut laris manis. Menu mereka biasanya beraneka ragam dan aneka rasa. Ada ayam, bebek, udang, lele, nasi uduk dan macam-macam. Lagi-lagi, Babarsari menawarkan sesuatu yang berbeda. Situasi seperti inilah yang selalu menjadi idaman mahasiswa.

Jln Babarsari diapiti oleh daerah kos-kosan. Di sebelah kanan, ada daerah Tambakbayan. Ini daerah kos-kosan terbesar di wilayah Babarsari. Mahasiswa dari berbagai pelosok Indonesia dapat dengan mudah ditemui di kawasan ini. Mayoritas mereka adalah mahasiswa UPN Veteran, STTNAS dan sebagian Atma Jaya. Selain Tambakbayan, di sebelah kiri Babarsari berseberangan dengan kawasan Dirgantara dan Kledokan. Dua daerah ini mayoritas ditempati mahasiswa Atma Jaya dan sebagian UPN Veteran. Kawasan Dirgantara termasuk kawasan “elit”. Elit karena harga kos-kosan di sini berbeda dengan harga kos-kosan pada umumnya. Selain itu, mayoritas yang menghuni kawasan ini adalah kelompok Chinese. Kawasan Kledokan pun demikian. Termasuk daerah kos-kosan, tapi tidaklah sebesar Dirgantara atau Tambakbayan.

Selain kaya akan berbagai hal positif, Babarsari juga kerap mendapat sorotan tajam. Tawuran antarmahasiswa saban hari terdengar di kawasan mahasiswa ini. Lokasi yang paling sering dijadikan TKP adalah kawasan Tambakbayan dan pertigaan Citrouli. Inilah bukti kemajemukan Indonesia. Kemajemukan kadang berdampak negatif. Percekcokan dan perkelahian adalah juga bagian dari kemajemukan tersebut.

Selain Babarsari, tempat yang juga paling saya minati adalah “garis lurus”. Garis lurus ini menunjuk pada Kaliurang-Tugu Jogja-Malioboro-Keraton Jogja dan pantai-pantai di bagian selatan Jogjakarta. Tempat-tempat ini berada dalam satu garis lurus. Menurut kebanyakan orang Jogja, tempat-tempat tersebut mengandung nilai mistis-religius yang amat mendalam.

Kaliurang berada di ketinggian Jogjakarta, dekat dengan Sang Pelindung Jogja, Gunung Merapi. Diselimuti angin yang berhembus sejuk, bahkan di saat mentari tepat di atas kepala, kesejukan itu masih terasa. Udara yang menari melewati pepohonan dan turun dengan gemulai, memberi rasa segar ketika menerpa tubuh. Kaliurang terkenal dengan Taman Kaliurang-nya. Di dalam taman seluas 10.000 meter persegi anak-anak bisa bermain ayunan, perosotan, atau berenang di kolam renang mini. Selain itu di taman yang dihiasi oleh patung jin ala kisah 1001 malam dan beberapa jenis hewan ini, anak-anak juga bisa bermain mini car atau memasuki mulut patung seekor naga yang membentuk lorong kecil dan berakhir di bagian ekornya.

Selain itu, di Kaliurang juga terdapat Gua Jepang. Sebuah gua tua peninggalan penjajah Jepang. Saya beberapa kali menyempatkan diri bertandang ke gua tersebut. Nuansa angker dan mistis sangat tinggi. Dari kejauhan sekitar 100 meter saja saya sudah bisa merasakan hawa mistis yang membuat berdiri bulu kuduk saya. Meskipun demikian, Kaliurang merupakan daerah wisata yang menjadi favorit warga Jogja, khususnya mahasiswa. Berbagai acara kampus sering digelar di ketinggian ini. Selain hawanya yang sejuk, tempat ini dipilih karena jauh dari hingar bingar Kota Jogja. Vila dan homestay dengan berbagai bentuk, ukuran dan harga menjamur di kawasan ini. Tempat ini selalu menjadi pilihan, baik di saat weekend maupun di saat liburan.

Lain lagi cerita soal Tugu Jogja. Tugu Jogja merupakan landmark Kota Yogyakarta yang paling terkenal. Monumen ini berada tepat di tengah perempatan Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Jendral Soedirman, Jalan A.M Sangaji dan Jalan Diponegoro. Tugu Jogja yang berusia hampir 3 abad ini memiliki makna yang dalam sekaligus menyimpan beberapa rekaman sejarah kota Yogyakarta. Tugu Jogja kira-kira didirikan setahun setelah Kraton Yogyakarta berdiri. Pada saat awal berdirinya, bangunan ini secara tegas menggambarkan Manunggaling Kawula Gusti, semangat persatuan rakyat dan penguasa untuk melawan penjajahan. Semangat persatuan atau yang disebut golong gilig itu tergambar jelas pada bangunan tugu, tiangnya berbentuk gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk golong (bulat), sehingga disebut Tugu Golong-Gilig.

Jika dikategorikan, Tugu Jogja masuk kelompok tempat yang paling sering dikunjungi mahasiswa dan warga Jogja. Posisinya strategis. Tepat di tengah Kota Jogja. Sebagai penghubung daerah utara, timur, selatan dan barat kota Jogja. Selama saya berada di Jogja, Tugu Jogja selalu menjadi tempat persinggahan kami. Berangkat dari Babarsari yang terletak di sisi timur Jogja, kami biasanya mampir sebentar di Kalicode. Sekedar untuk menikmati segelas kopi Jogja. Tempat ini mayoritas dikunjungi mahasiswa. Bukan Jogja namanya kalau tidak ada lesehan. Di Kalicode pun demikian. Lesehan digelar di atas trotoar. Makanan dan minuman disajikan di atas trotoar. Para pengunjung pun duduk beralaskan tikar di atas trotoar. Sangat Jogja.

Jika kita melanjutkan jalan-jalan kita ke kawasan Maliboro, kita pasti akan singgah di Tugu Jogja. Kebanyakan yang datang ke Tugu Jogja, hanya ingin berpose ria. Bagi mereka, Tugu Jogja itu ikon Kota Jogja dan Provinsi DIY. Sama seperti Monas yang menjadi simbol Kota Jakarta. Patut disesali jika selama berada di Jogja kita tidak sempat mengunjungi tempat yang satu ini. Selain berpose ria, ada juga yang sekedar datang untuk menikmati lengangnya jalanan Jogja di malam hari. Berbagai atraksi pun “dipentaskan” di atas aspal Jogja.

Begitu identiknya Tugu Jogja dengan Kota Yogyakarta, membuat banyak mahasiswa perantau mengungkapkan rasa senangnya setelah dinyatakan lulus kuliah dengan memeluk atau mencium Tugu Jogja. Mungkin hal itu juga sebagai ungkapan sayang kepada Kota Yogyakarta yang akan segera ditinggalkannya, sekaligus ikrar bahwa suatu saat nanti ia pasti akan mengunjungi kota tercinta ini lagi.

Tepat di sebelah selatan Tugu Jogja, kita akan sampai pada sebuah kawasan yang sudah “mendunia”. Itulah Malioboro. Orang bilang, belum lengkap ke Jogja kalau belum pergi ke Malioboro. Kawasan yang satu ini memang paling unik. Modernitas dan tradisionalitas bercampur jadi satu. Lebur dan larut dalam hangatnya Malioboro Jogja. Seolah tak ada pemisah antara mal-mal dan pasar-pasar tradisional rakyat. Juga, tak ada pembatas antara Trans Jogja dan kendaraan-kendaraan mewah lainnya dengan andong, delman dan becak yang setia menunggu para penumpangnya. Emperan-emperan Malioboro penuh dijejali produk-produk asli Jogja. Batik dan ukiran bertebaran di mana-mana.

Saat matahari mulai terbenam, ketika lampu-lampu jalan dan pertokoan mulai dinyalakan yang menambah indahnya suasana Malioboro, satu persatu lapak lesehan mulai digelar. Makanan khas Jogja seperti gudeg atau pecel lele bisa dinikmati di sini selain masakan oriental ataupun sea food serta masakan Padang. Selain itu, ada pula hiburan lagu-lagu hits atau tembang kenangan oleh para pengamen jalanan ketika bersantap.

Satu yang paling khas dari Jln Malioboro adalah Pasar Bringharjo. Untuk pasar yang satu ini, saya punya pengalaman pahit. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Pasar Beringharjo menyediakan berbagai jenis peralatan dan perlengkapan dengan harga yang supermurah. Potongan harganya bisa menjadi 50%-75%. Ketika bergabung dengan kepanitiaan kampus, salah satu aksesoris yang harus digunakan adalah baju batik. Karena tak memiliki baju batik, saya pun pergi ke Pasar Beringharjo dengan penuh semangat, menunggangi motor kesayangan saya, EB 5180 B, dengan uang seratus ribu di dompet. Ketika mendekati Pasar Beringharjo, dari kejauhan terdengar bunyi priiiiiiitttt!!! Astaga, itu bunyi pluit Pak Polisi. Saya ditilang. Alasannya, knalpot racing, spion hanya satu, warna motor tidak sesuai dengan warna asli yang ada di STNK, plus plat nomor saya tidak sesuai dengan ketentuan UU dan aturan kepolisian. Alhasil, delapan puluh ribu melayang. Rencana membeli baju batik pun kandas. Yang ada hanya penyesalan.

Tepat di sebelah selatan Pasar Bringharjo, tiga buah situs sejarah berdiri kokoh. Benteng Vredeburg, Gedung Agung dan Monumen Serangan Umum 11 Maret. Tiga situs yang membuktikan dan menggambarkan kegigihan warga Jogja mempertahankan kota Jogjakarta dari serbuan sekutu. Bagi warga Jogja, kesatuan dan keutuhan NKRI adalah harga mati.

Saat ini, kawasan benteng lebih sering digunakan sebagai tempat menghabiskan malam di Jogja. Tepat berada di titik nol kilometer, kawasan ini semakin menarik karena terdapat Gedung Bank Indonesia, Kantor Pos Besar dan Gedung BNI 46. Ketiganya adalah simbol sejarah di tengah modernitas sebuah kota. Itulah Jogja. Selalu ada perpaduan antara budaya lokal dan kemajuan zaman. Satu hal yang membuat Jogja selalu ngangenin.

Kalau kita berjalan terus ke arah selatan, kita akan tahu alasan sebenarnya mengapa Jogja disebut Daerah Istimewa. Itulah Keraton Jogja. Singgasana Sultan Jogja. Keraton Jogja berdiri di antara Gunung Merapi dan Laut Selatan. Terletak di tengah poros utama yang membujur dari utara (Tugu) ke selatan (Panggung Krapyak), serta poros sekunder dari timur (Sungai Code) ke barat (Sungai Winongo). Dikelilingi barisan pegunungan yang disebut Cakrawala sebagai tepian jagad.

Keraton Jogja menjadi pusat kebudayaan dan kerajaan Yogyakarta. Arsitekturnya tak banyak berubah. Alun-alun Utara dan Selatan masih tetap setia menjadi benteng pertahanan keraton. Dari utara ke selatan area Kraton berturut-turut terdapat Alun-Alun Utara, Siti Hinggil Utara, Kemandhungan Utara, Srimanganti, Kedhaton, Kemagangan, Kemandhungan Selatan, Siti Hinggil Selatan dan Alun-Alun Selatan (pelataran yang terlindung dinding tinggi). Secara pribadi, saya tidak banyak tahu soal Keraton Jogja ini. Selama kuliah, saya tidak pernah berkesempatan masuk ke dalam kawasan Keraton Jogja. Semoga suatu saat nanti, keanggunan dan kemasyuran Keraton Jogja bisa saya rasakan dari jarak dekat.

Satu hal yang mampu mengobati kerinduan saya (dan kami) terhadap Keraton Jogja adalah keberadaan alkid (alun-alun kidul/alun-alun selatan) Jogjakarta. Perjalanan mengelilingi kota Jogja pada malam hari biasanyya berakhir di alkid ini. Alkid tidak terlalu berbeda dengan alun-alun pada umumnya. Yang namanya alun-alun adalah tempat berkumpul seluruh kerajaan ketika dilakukan sayembara, ketika Sang Raja akan berpidato, ketika berbagai ritual kerajaan dilangsungkan.

Alun-Alun Kidul merupakan wilayah di belakang kompleks bangunan Kraton Yogyakarta. Disimbolkan dengan gajah yang memiliki watak tenang, Alun-Alun Kidul merupakan penyeimbang Alun-Alun Utara yang memiliki watak ribut. Karenanya, Alun-Alun Kidul dianggap tempat palereman (istirahat) para Dewa. Dan jelas kini sudah menjadi tempat ngleremke ati (menenangkan hati) bagi banyak orang.

Simbol alkid adalah dua buah pohon beringin yang berada tepat di tengah alkid. Ada satu kebiasaan warga Jogja yang selalu dilakukan di alkid ini, yaitu berjalan dan lewat di antara dua pohon beringin ini dengan mata tertutup. Bagi warga Jogja, keberhasilan kita melewati kedua pohon beringin tersebut akan membawa kita kepada nasib baik. Ketika pertama kali mencobanya, saya berhasil melewati dua pohon penjaga keraton di bagian selatan tersebut. Sesudahnya, saya selalu gagal. Entah itu menyimpang ke kanan ke arah kandang gajah, atau menyimpang ke kiri, ke arah tiang gawang. Meskipun demikian, kecintaan saya kepada alkid tak akan pernah luntur. Suasana alkid selalu membekas dalam diri saya dan kami, para mahasiswa.

Tempat lain yang juga menyisakan kenangan mendalam tatkala berada di Jogja adalah tempat wisata rohani. Jika dibandingkan dengan daerah lain di Jawa, komunitas Katolik tumbuh subur di Jogjakarta dan Jawa Tengah. Tempat-tempat seperti Gua Maria Sendangsono, Gua Maria Sendang Sriningsih dan Patung Hati Kudus Yesus Ganjuran selalu menjadi favorit saya. Entah itu pergi sendirian atau bersama teman-teman, tiga tempat tersebut selalu saya jadikan tempat doa pribadi. Bagaikan benteng, tiga tempat tersebut berdiri kokoh bak penjaga Jogjakarta. Bersama teman-teman dari Flores atau teman-teman UKM Katolik, kami kerap mengunjungi ketiga tempat tersebut. Paling banyak kami kunjungi saat bulan Mei dan Oktober, menjelang Natal dan Paskah serta dalam kesempatan-kesempatan pribadi lainnya. Di sana ada ketenangan batin. Di sana ada terang ilahi. Ada kepuasan raga. Ada pancaran kasih sayang. Ada kedamaian.

Jika mau duraikan satu persatu, ada begitu banyak tempat kenangan yang ada di Jogja. Entah itu wisata candi (Borobudur, Prambanan, Istana Ratu Boko), wisata arsitektur (Kotabaru), wisata pantai (Siung, Parangtritis, Depok), wisata sejarah (Tamansari, Kotagede), wisata belanja (Kasongan, Pasar Seni Gabusan), museum dan monumen (Museum Affandi, Monumen Jogja Kembali), maupun wisata alam (Kaliadem, Puncak Suroloyo).

Refleksi

Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna. Terhanyut aku akan nostalgia, saat kita sering luangkan waktu. Nikmati bersama, suasana Jogja.

Penggalan syair Kla Project ini terasa mampu mewakili perasaan saya ketika membuat tulisan ini. Selalu ada keinginan untuk kembali. Sekedar bersendagurau di angkringan di pojok jalan. Sekedar menikmati segarnya es teh di burjo-burjo Jogja. Atau menyantap aneka rasa masakan Jogja di pinggir-pinggir jalan Jogja, sambil sesekali mendengar alunan musik jalanan ala musisi Jogja.

Oh, Jogja begitu membekas. Jogja begitu terpatri di sanubariku. Ada suatu kebanggaan bahwa saya pernah mengenal dan berdiam di kota yang kaya pesona ini. Ada suatu kebanggaan bahwa saya pernah mengenyam dan mendalami lika-liku dan setiap sudut Kota Jogja.

Jogja itu khas. Khas karena keramahan penduduknya. Khas karena hubungan pertemanan dan persahabatan yang tak lekang oleh waktu. Khas karena semuanya “serba mahasiswa”. Khas karena tetap memadukan keelokan budaya lokal dengan modernitas zaman yang terus mengalir.

Jogja, aku berjanji. Suatu saat kelak, aku akan kembali padamu.

Jakarta, medio Agustus 2010

4 komentar:

  1. Tulisan yg bagus, cma mnurut gw...kepanjangan. Coba u penggal-penggal lg n kasi judul baru..pasti akn lebih asyik lg...

    klo s4, mampir di blog gw...
    www.spiritual-motivasi.blogspot.com

    BalasHapus
  2. Oke, baik.. Terima kasih untuk masukannya, bro..

    Sip, nanti saya kunjungi...

    BalasHapus
  3. Eja, jao tidak sempat baca selesai. Tapi refleksi yang bagus. Memang kadang-kadang sesuatu yang tidak direncanakan itu akan menjadi indah.
    Kenapa lu kagak tulis pada saat awal kost di jogja kamu biasanya tidur jam 9 malam.wkwkwkwkwkwk
    Suatu hari kita harus kembali mengunjungi jogja lagi.
    Sukses terus!!!!

    BalasHapus
  4. Iya bro... terlalu panjang buat standar tulisan di blog...^_^ Overall saya pikir hasil permenungan ini bagus...

    O ya, sedikit saran tambahan di bagian awal tulisan, penggunaan kata aku dan saya seharusnya dilakukan secara konsisten. Jika sudah menggunakan aku dan -ku, gunakan terus, tapi tiba2 melompat ke kata saya, "feel" ke-aku-an-nya menjadi buram dan sangat kabur...^_^

    BalasHapus