Kamis, Agustus 19, 2010

Bengkel Teater KATA “Cita-cita itu Tercapai”

Tulisan ini hanyalah sebuah tulisan sederhana. Tulisan yang mencoba merangkai beberapa data dan ingatan sekelompok orang mengenai cikal bakal Bengkel Teater KATA. Sebuah wadah pembentukan mental dan karakter siswa, wadah pengolah emosi. Di Lembah Sasa, wadah ini terbentuk.

Belum banyak data yang bisa menceritakan bagaimana Bengkel Teater KATA ini dibentuk. Pun belum banyak dokumentasi dan penuturan yang bisa menggambarkan situasi, keadaan, orang-orang dan motivasi dasar terbentuknya Bengkel Teater KATA ini. Secara singkat, Bengkel Teater KATA ini merupakan jawaban akan begitu besarnya keinginan seminaris mengapresiasikan seni peran.

***

Sebenarnya, bakat para siswa Seminari St. Yohanes Berkhmans Mataloko dalam bidang seni peran sudah ada jauh sebelum Bengkel Teater KATA ini dibentuk. Bakat-bakat itu selalu mengalir dengan sendirinya dalam perilaku, tutur kata, tindak-tanduk dan aksi para siswa. Pada saat itu, belum ada wadah yang bisa menampung aspirasi siswa untuk ber-seni peran. Bagi sebagian siswa, seni peran adalah sesuatu yang keluar dari dalam diri sendiri. Tanpa perlu disuruh. Tanpa perlu dipaksa. Itu otomatis, kata mereka. Lagipula, pada saat itu, seni peran kalah pamor dengan sepakbola dan musik. Hanya ada sebagian kecil orang saja yang betul-betul ingin terjun dan merasakan seperti apa seni peran ini. Di Seminari, seni peran selalu mendapatkan porsi perhatian yang kesekian, setelah olah raga, musik dan akademik. Alhasil, seni peran berkembang perlahan.

Meskipun demikian, pentasan-pentasan kelas maupun pentasan etnis selalu rutin dihadirkan saat itu. Entah dilakukan di dalam lingkungan seminari saat jam rekreasi atau dipentaskan di luar seminari saat liburan Natal dan Paskah. Ini menjadi bukti seni peran di seminari sudah berkembang jauh sebelum Bengkel Teater KATA ini hadir. Dengan perlengkapan dan peralatan seadanya, toh siswa seminari masih dapat memperlihatkan tontonan menarik dan menghibur.

Bengkel Teater Millenium

Untuk merunut bagaimana Bengkel Teater KATA ini terbentuk, pada tahun 1998, pernah berdiri Bengkel Teater Milenium. Saya secara pribadi kurang begitu paham mengapa nama Millenium yang dipakai sebagai nama bengkel teater kala itu. Tetapi, menurut penuturan Rm. Yoris Role Dage, Pr., Bengkel Teater Milenium merupakan embrio berdirinya Bengkel Teater KATA. Mungkin nama Milenium dipilih karena pada saat itu, kita sedang menyongsong masuknya era 2000, era millennium. Itu analisis kasarnya. Mengenai apa motivasi, latar belakang serta orang-orang yang terlibat di dalam pembentukan Teater Millenium tersebut, tidak banyak data yang bisa saya peroleh. Yang pasti bahwa Bengkel Teater Millenium sudah bisa menjadi wadah seni peran bagi siswa seminari kala itu.

NB: kalau ada ka’e-ka’e yang punya info mengenai Bengkel Teater Millenium ini, mohon dishare bersama.

Bengkel Teater KATA

Sepanjang tahun 1998-2000, gaung Bengkel Teater Millenium tidak terlalu terdengar. Tidak banyak pentasan dari bengkel teater ini. Pada saat saya masuk seminari tahun 1999, (rasa-rasanya) saya juga tidak terlalu familiar dan mendengar pentasan dari Bengkel Teater Millenium. Jangankan pentasannya. Namanya saja cukup asing buat saya.

Dua tahun kemudian, sekitar tahun 2000, Fr. Yoris Role Dage masuk menjadi Frater Topper di seminari. Saya patut sampaikan rasa terima kasih ke beliau, karena beliaulah yang membimbing kami sampai terbentuknya Bengkel Teater KATA ini.

Menurut penuturan beliau, pada saat itu alasannya sederhana. Keprihatinan terhadap kurang “disentuh”nya seni peran menjadi motivasi utama dibentuknya Bengkel Teater KATA. Pada saat itu, olahraga dan musik menjadi kegiatan ekstrakurikuler yang paling banyak diminati. Gampang saja alasannya. Sarana musik yang menggiurkan dan sarana olahraga yang berkelimpahan. Apalagi saat itu, siswa diberi kebebasan untuk memilih alat musik apa yang ingin mereka tekuni, entah organ, entah gitar, entah suling, entah biola. Jadilah, seni peran tidak terlalu diperhatikan.

Di sisi lain, bakat-bakat di bidang seni peran itu bagaikan gunung es di samudera luas. Ada banyak bakat terpendam yang tidak tahu harus ke mana disalurkan. Melalui pentasan-pentasan kecil saat rekreasi bersama, ­live-in di paroki, liburan Natal dan Paskah, bakat-bakat itu terlihat. Ada yang berbakat jadi pelawak, ada yang jadi orator, ada yang jadi pembawa puisi. Semua bakat mulai perlahan-lahan nampak.

Berkat inisiatif Fr. Yoris, kami berkumpul. Kami siswa kelas II SMP saat itu. Seingat saya, waktu itu ada Charles Meo, Rian Depa, Dedy Pedor, Mario da Rato, Erens Gesu, Marten Beru, Natanael Maza, Alfred Nahak, Berto Lezo, Didi Irianto dan saya sendiri. Ada lagi beberapa nama, tapi saya lupa siapa-siapa saja. Waktu itu kami berkumpul di kamar Fr. Yoris dan mulai berbincang ringan mengenai perlunya sebuah bengkel teater untuk mewadahi para siswa yang menggemari seni peran. Tidak muluk-muluk. Yang terbersit di pikiran saat itu hanyalah bagaimana kita bisa menyalurkan hobi kita. Semua dengan hobi yang sama, seni peran. Bahasa seminarisnya, main drama.

Perbincangan malam itu ditutup dengan satu kesepakatan. Kita harus buat pentasan dulu. Setidaknya itu kemudian menjadi bukti dan tolak ukur pembentukan sebuah bengkel teater. Kami pun sepakat untuk membuat pentasan. Pentasan pertama kami berjudul Pengadilan di Atas Awan. Drama singkat ini kami pentaskan di Ruang Rekreasi dengan sangat baik. Padahal kala itu, kami minim waktu dan minim persiapan. Karung semen dan karung goni menjadi bahan baku pentasan saat itu. Belum lagi terhitung jumlah bilah bambu, kertas bekas, baju bekas dan tali rafia yang laris manis dikonversikan menjadi berbagai aksesoris pentasan. Tetapi karena semua berkeyakinan bahwa yang namanya pentasan itu adalah permainan emosi yang berujung pada peran di atas panggung, pentasan pun berjalan baik. Tangan dingin Fr. Yoris sudah berhasil melewati satu tantangan.

Dimotivasi oleh pentasan pertama yang baik, hasrat kami membentuk sebuah bengkel teater terasa semakin kuat. Alhasil, Bengkel Teater KATA pun dibentuk. Entah tanggal berapa itu. Tidak ada yang ingat. Jadi kalau ditanya bagaimana Bengkel Teater KATA dibentuk? Semuanya karena datang, duduk, kumpul, rembuk, siap, pentas. Sangat sederhana.

Kenapa KATA yang dipilih?

Alasan pertama, karena kami berpikir kekuatan kami ada pada kata yang kami ucapkan. Lalu, kami kutip perkataan Witgenstain II yakni “untuk sesuatu yang tak dapat dikatakan, kami harus mengatakannya.” Kami juga pakai KATA KAMI BELUM TAMAT, lebih karena latar belakang kami adalah anak sekolah yang tentu bercita-cita untuk menyelesaikan sekolah (TAMAT). Selain itu, bagi kami, mengatakan kebenaran tidak akan pernah TAMAT atau selesai.

Alasan kedua, sebenarnya alasan iseng saja waktu itu. Waktu itu kami berpikir, WS Rendra berjaya dengan Bengkel Teater KOMA-nya. Seminari Ritapiret tersohor karena Bengkel Teater TANYA-nya. Sementara Seminari Ledalero terkenal dengan Bengkel Teater SERU-nya. Lantas, Bengkel Teater KATA menjadi pilihan yang tepat bagi kami saat itu.

Tanpa mau membuang waktu, kami merasa sangat perlu untuk memperkenalkan Bengkel Teater KATA ini kepada publik. Perlu adanya sebuah acara launch Bengkel Teater KATA. Walaupun, kata launch terasa sangat mewah, tapi itu sebenarnya tujuan kami kala itu. Tanpa perlu berlama-lama, pentasan berikutnya pun kami siapkan. Kali ini lebih heboh dari sebelumnya. Persiapannya pun lebih panjang dan lebih matang. Tak tanggung-tanggung, dua pentasan kami siapkan.

Pertama, launching Keluarga Bengkel Teater KATA. Acara launching ini dihadiri keluarga besar Seminari St. Yohanes Berkhmans Mataloko dan undangan dari luar lingkungan seminari. Diawali dengan pembacaan Puisi KATA oleh Ignas Rindu dan Basten Rengga (2 siswa kelas I SMP kala itu), pentasan ini ditutup dengan tepuk tangan membahana di seluruh Ruang Rekreasi. Menggunakan seragam Bengkel Teater KATA yang kami pesan di Bandung serta dua spanduk putih dan hitam bertuliskan “Untuk sesuatu yang tak dapat dikatakan, kami harus mengatakannya”, kami tutup launching ini. Puji Tuhan, pentasan berhasil.

Kedua, pentasan Kilas Balik Kehidupan Pater Engels. Pentasan yang kedua ini bertempat di Ruang Rekreasi dan lebih merupakan persembahan kami kepada Pater Alfons Engels yang merayakan pesta emas imamatnya, tahun 2000.

Selama kurun waktu tahun 2000-2002, Bengkel Teater KATA terbilang produktif. Ada banyak pentasan yang kami bawakan. Seingat saya, selain Pengadilan di Atas Awan yang kami bawakan di Ruang Rekreasi, kami juga pernah membawakan drama yang sama, Pengadilan di Atas Awan (kolaborasi dengan siswa/i SMA St. Thomas), We Have a Dream, Duri-duri Pulau Bunga, Lembah Maut San Salvador dan Opera Natal di Aula SMP Kartini. Itu beberapa drama besar. Belum termasuk pentasan-pentasan kecil saat liburan. Puisi-puisi. Pantomim-pantomim. Tablo-tablo. Kronik-kronik. Kalau tidak salah, kami pernah membawakan Tablo Kisah Sengsara Yesus di Paroki Mataloko. Umat bersatu dalam perasaan yang bercampur-aduk. Sungguh, melalui kerja keras, Bengkel Teater KATA akhirnya dikenal banyak orang. Kami berhasil bersatupadu, membentuk Bengkel Teater KATA. Suatu kehormatan bahwa Bengkel Teater KATA akhirnya menjadi salah satu ikon Seminari Mataloko.

Waktu berlalu. Fr. Yoris pun kembali ke Ritapiret. Masa TOP-nya usai. Tapi, jerih payahnya tak usai. Bengkel Teater KATA tetap bergaung. CD Kenangan Bengkel Teater KATA pun diluncurkan. Berbagai pentasan tetap kami jalankan. Semuanya berpuncak ketika kami duduk di bangku Kelas II SMA. Ketika itu Fr. Yopi Susanto menjadi Frater Topper di Seminari Mataloko. Ini juga pentolan Bengkel Teater TANYA. Keahliannya di bidang seni peran, tak usah diragukan lagi. Berkat tangan dingin beliau, persiapan yang matang, perlengkapan yang well-organized, tenaga dan pikiran yang terkuras habis, kami berhasil pentaskan Drama Yeremia. Pentasan pertama kami suguhkan di Ruang Rekreasi Seminari dan pentasan kedua kami bawakan di Aula Paroki St. Yoseph Bajawa. Satu lagi kebahagiaan kami rasakan sebelum kami tinggalkan seminari. Terima kasih seminari. Terima kasih Almamater. Jasamu kan kukenang selalu.

***

Perjalanan Bengkel Teater KATA tidak berakhir sampai di sini. Bengkel Teater KATA terus berkembang, terus berkarya dan terus memberikan yang terbaik bagi almamater. Bengkel Teater KATA tidak hanya mengenai seberapa banyak bilah bambu, karung goni, karung bekas, baju bekas, ember bekas, tali rafia, cat dan kuas, lempengan seng, yang habis terpakai. Above all, it is an expression of art.

Singkat kata, ini hanyalah sepenggal kisah mengenai Bengkel Teater KATA dari angkatan yang masuk tahun 1999 dan tamat tahun 2005. Tiap angkatan pasti punya cerita tentang Bengkel Teater KATA. Untuk itu, tidak ada salahnya jika cerita mengenai Bengkel Teater KATA itu kita bagikan di sini, sebagai bahan permenungan dan nostalgia bersama. Terima kasih. Salam Berkhmawan!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar