Selasa, Agustus 24, 2010

Indonesia Barat vs Indonesia Timur dalam Bingkai Teori Dependensia

Pasca Perang Dunia II, tercipta jurang pemisah antara negara yang mampu bertahan dengan negara yang tidak mampu bertahan. Negara yang mampu akan terus berkembang menjadi negara maju. Sementara itu, negara yang tidak mampu akan terus tenggelam di bawah bayang-bayang negara mampu atau negara maju tersebut. Hal inilah yang menjadi pikiran awal munculnya Teori Dependensia.

Teori Dependensia ini lahir sebagai efek dari kapitalisme, globalisasi, dan imperialisme moderen. Teori ini berkembang di Amerika Latin sekitar tahun 1960 (tidak jauh berbeda dengan munculnya teori regulasi). Keterbelakangan negara-negara Amerika Latin ini karena mereka secara tidak sengaja terkoneksi dengan sistem ekonomi dunia yang kapitalis, sehingga mereka menjadi negara-negara pinggiran dari negara-negara kaptalis.

Keemajuan zaman yang diiringi dengan prinsip globalisme yang dianut negara-negara maju, membuat negara-negara yang tidak mampu berada dalam posisi terjepit. Di satu sisi, negara-negara tidak mampu tersebut ingin segera keluar dari “hubungan” yang semakin menjerat mereka. Di sisi lain, ketergantungan negara tidak mampu terhadap negara mampu sangat tinggi. Entah itu ketergantungan dalam bidang ekonomi, militer maupun ketergantungan politik.

Saat sekarang, Teori Dependensia ini masih berlaku, walaupun tidak dalam bentuk yang sangat nyata. Ketergantungan Rusia terhadap pasokan bahan nuklir dan teknologi nuklir dari Iran membuat negara ini dengan sangat yakin mendukung langkah negara pimpinan Mahmoud Ahmadinejad itu untuk mengembangkan teknologi nuklirnya. Walaupun pada saat yang bersamaan, Amerika Serikat dengan tegas menentang program pengembangan nuklir di Iran. Bahkan, AS mengancam akan menggunakan hak vetonya jika Dewan Keamanan PBB mendukung langkah Iran.

Di Asia Tenggara, meskipun hubungan diplomatik kedua negara sering pasang surut, Indonesia toh tidak pernah berani memutuskan tali diplomatiknya dengan Malaysia, yang telah terjalin lama. Teori Dependensia-lah alasannya. Ada berjuta-juta orang Indonesia yang dipekerjakan majikan-majikan Malaysia. Tak dapat disangkal pula, TKI-TKI tersebut selalu memberikan sumbangsih bagi negeri ini, dalam rupa penerimaan devisa negara tiap tahunnya.

Demikianlah Teori Dependensia selalu membawa efek ketergantungan yang sangat tinggi.

Indonesia Masa Kini

Dalam lingkup nasional, Teori Dependensia sangat terasa di Indonesia. Ketimpangan pembangunan antara Indonesia Timur dan Indonesia Barat merupakan bukti nyata kedigdayaan Teori Dependensia di Indonesia. Sulawesi, Maluku, NTT dan Papua seolah menjadi anak tiri. Menjadi “negara yang tidak mampu” ketika berhadapan dengan Jawa, Bali, Sumatera dan Kalimantan yang bisa digolongkan sebagai “negara yang mampu.”

Ketimpangan pembangunan di antara “dua jenis Indonesia” ini setidaknya membuat Indonesia timur sangat bergantung kepada Indonesia barat. Ketergantungan Indonesia timur terhadap Indonesia barat bisa dilihat dari beberapa aspek ini.

Yang pertama, aspek pendidikan. Tiap tahunnya, ratusan putera-puteri terbaik Indonesia timur melakukan eksodus besar-besaran ke Pulau Jawa dan Bali. Alasan utamanya, kuliah. Hal ini terasa sangat menyedihkan lantaran kurang meratanya pembangunan dalam bidang pendidikan. Di Pulau Jawa misalnya. Sekolah, akademi, sekolah tinggi dan universitas bertebaran di mana-mana. Orang dengan mudah mampu mendapatkan akses pendidikan yang terbaik. Orang-orang Indonesia barat dengan sangat mudah mampu memperoleh pendidikan terbaik.

Padahal, jika mau dihitung, ada berjuta-juta orang pintar yang datang dari Indonesia timur. Pintar alamiah. Pintar karena dibentuk oleh segala kealamiahan lingkungan di Indonesia timur. Sayangnya, mereka justru “dipaksa” untuk datang, mengabdi, bekerja dan membangun Indonesia barat. Bukan karena kemauan mereka, tetapi lebih karena sistem yang membuat demikian. Sangat strukturalis dan sistematis.

Lain kualitas, lain pula soal sarana pendidikan. Ketika bangun pagi, sebelum ke sekolah, seorang anak di Jawa sudah bisa menyantap roti keju plus diantar sopir ke sekolah. Bandingkan dengan anak sekolah di pedalaman Papua atau NTT sana. Bangun pagi, masih harus membantu orang tua, kemudian melanjutkan perjalanan berkilo-kilometer untuk sampai ke sekolah. Mendaki bukit, menyeberangi lembah. Syukur-syukur ada kuda yang bisa dijadikan kendaraan. Ketika saat pelajaran tiba, energi sang anak sudah habis terkuras.

Yang kedua, aspek transportasi. Indonesia timur itu ibaratnya “gudang transportasi tua”. Dalam bidang transportasi, Indonesia timur hanya akan mendapat jatah ala-alat transportasi yang sebenarnya sudah purnatugas. Kapal laut, kendaraan dan pesawat yang “dihibahkan” ke Indonesia timur rata-rata sudah termakan usia. Wajar saja, banyak kecelakaan terjadi.

Selain itu, terlalu terpusatnya pembangunan di Indonesia barat membuat biaya operasional ke Indonesia timur pun amatlah mahal. Harga-harga tiket menuju kawasan Indonesia timur melonjak tinggi. Di bidang transportasi laut dan udara, misalnya. Semuanya berpusat di Surabaya dan Denpasar. Mau ke mana-mana, harus melewati kedua kota ini. Semuanya menumpuk di sana. Barang. Orang. Jasa. Dan Uang.

Yang ketiga, aspek sosial. Ini salah satu aspek terpenting dalam membahas ketimpangan dan ketergantungan antara Indonesia timur dan Indonesia barat. Di Indonesia, hanya ada satu magnet yang mampu menarik bagian Indonesia lainnya. Magnet itu bernama Pulau Jawa. Di pulau ini, semuanya sudah ada. Pekerjaan, tekonologi, modernitas, kebebasan, kemudahan akses. Semuanya sudah tersedia. Implikasinya, pulau ini akan menarik berbagai jenis orang dari berbagai daerah untuk datang dan berjubel di pulau ini. Ini salah satu sisi negatif pembangunan di Indonesia. Sangat Jawasentris.

Eksodus orang-orang ke Jawa, bukan hanya sebatas eksodus fisik semata. Di sana ada eksodus uang, ada eksodus pengetahuan, ada eksodus keahlian, ada eksodus budaya. Semuanya menyatu di Pulau Jawa. Wajar saja jika Pulau Jawa maju dan unggul dari daerah lainnya di Indonesia. Semuanya berpusat di Jawa.

Akibatnya, beragam masalah sosial muncul di Jawa. Jawa menjadi satu-satunya pulau yang perkembangan pengemis, gepeng, anak jalanan dan peminta-minta sangat tinggi. Sesuatu yang tidak terjadi di daerah lain. Belum lagi jika kita melihat berbagai tindakan anarkis dan kriminal yang marak terjadi akhir-akhir ini.

Harus Berani

Saya tidak sedang menganjurkan agar Indonesia timur memisahkan diri dari NKRI. Yang menjadi pemikiran saya pada kesempatan ini adalah bahwa Indonesia timur sebenarnya bisa berdiri sendiri tanpa terlalu banyak campur tangan dan sistem yang ada di Indonesia barat pada umumnya dan Jawa pada khususnya.

Bagi saya, Teori Dependensia itu bisa dilawan dengan pemerataan pembangunan di Indonesia. Jika semua merata, tidak akan ada penumpukan di satu daerah saja. Sayangnya, frasa “pemerataan pembangunan” ini hanya menjadi janji kosong pemerintah. Janji tanpa realisasi.

Hasilnya, Indonesia akan begini-begini saja. Semuanya tetap Jawasentris. Indonesia timur hanya akan dimanfaatkan kekayaan alamnya tanpa ada implikasi positif. Indonesia barat pun hanya akan mengeruk hasil laut dan pariwisata dari Sulawesi dan NTT serta hasil pertambangan dan komoditas perkebunan lainnya dari Maluku dan Papua. Sesudah itu, biarlah masyarakat Indonesia timur tetap kesulitas pendidikan, kesulitas pekerjaan, kesulitan sandang, pangan, papan dan kesehatan serta tetap menjadi daerah terbelakang di nusantara ini. Amanah Pasal 33 UUD 1945 dan sila ke-5 Pancasila pun hanya menjadi sebuah rumusan kalimat tanpa ada aksi nyata.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar