Kamis, Agustus 19, 2010

Katolik Flores

Flores identik dengan alam yang kering, masyarakat yang miskin, dan mayoritas beragama Katolik. Itulah pandangan orang luar terhadap pulau terbesar kedua di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Katolik Flores sering diibaratkan sebagai lilin, yang harus memancar dan menerangi. Beda dengan Katolik Jawa, yang harus menjadi garam. Tidak kelihatan tetapi terasa keberadaannya. Pandangan stereotip tidak selamanya benar. Manggarai dan Ngada adalah kawasan yang banyak air, subur, dan masyarakatnya makmur. Bahkan, kalau kita berkendaraan dari Ende ke Gunung Kelimutu, akan tampak di kiri kanan jalan yang menanjak itu sawah, dengan sungai-sungainya yang berair jernih.

Tetapi, mengapa banyak masyarakat dari kawasan yang makmur ini merantau ke luar Flrores, bahkan ke luar negeri? Hasrat untuk merantau tidak selalu disebabkan oleh kemiskinan, serta kawasan yang tandus. Sumatera Barat adalah kawasan yang subur dan makmur. Akan tetapi dari kawasan yang subur inilah berasal para perantau yang menyebar ke seluruh negeri, terutama ke Jakarta. Masyarakat Flores, khususnya Manggarai, gemar merantau karena adanya hasrat untuk menunjukkan eksistensi mereka sebagai “lilin”. Mereka terpanggil untuk menerangi kawasan di sekitar tempat perantauan mereka. Maka, di manapun ada komunitas Katolik, kita akan selalu bertemu dengan orang Flores.

Selain sebagai imam, biarawan, dan biarawati, para perantau Flores juga banyak yang mengadu nasib ke Malaysia sebagai TKI.

Sebagai pemasok imam, biarawan, dan biarawati, Flores adalah lahan panggilan yang sampai sekarang masih erus subur dan produktif. Para imam, biarawan, dan biarawati Flores bukan hanya berkarya di Indonesia, melainkan di banyak negara di dunia. Bagaimana mungkin pulau sekecil ini, dengan populasi tak sampai dua juta jiwa, bisa menjadi ladang subur bagi panggilan imamat?

Hal ini bisa kita maklumi, apabila kita sedikit menyimak kehidupan menggereja di pulau ini. Flores memang sebuah pulau kecil, dengan luas 14.300 km2, dan populasi penduduknya sekitar 1,5 juta jiwa pada tahun 2006. Bandingkan dengan Jawa, pulau terkecil dari enam pulau besar di Indonesia, yang luasnya 132.187 km2, dengan populasi penduduk 130 juta jiwa.

Namun, di pulau kecil dengan populasi penduduk yang juga kecil itu, ada satu keuskupan agung dengan tiga keuskupan: Keuskupan Agung Ende (55 paroki), Keuskupan Maumere (35 paroki), Keuskupan Larantuka (45 paroki), dan Keuskupan Ruteng (76 paroki). Hingga di seluruh keuskupan di Flores dan pulau-pulau sekitarnya, ada 211 paroki. Sebab, wilayah Keuskupan Larantuka juga meliputi Pulau Solor, Adonara, dan Lembata. Provinsi Gerejawi Ende, bahkan juga mengkoordinasi Keuskupan Denpasar di Pulau Bali. Hingga Flores bisa disebut “Pusat Kekatolikan di Indonesia”, yang pengaruhnya tidak hanya terasa di dalam negeri, melainkan sampai ke luar negeri.

Di Flores juga ada enam seminari: 1. Seminari Menengah San Dominggo, di Hokeng, Larantuka; 2. Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero, Maumere; 3. Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret, Maumere; 4. Seminari Menengah Santo Yohanes Berkhmas Todabelu, Mataloko, Bajawa; 5. Seminari Pius XII, Kisol, Ruteng, dan 6. Seminari Menengah Yohanes Paulus II di Labuan Bajo. Enam seminari ini seakan menjadi ladang persemaian bagi panggilan imamat para putra Flores. Di tingkat nasional, kita kenal beberapa tokoh Flores, seperti Almarhum Frans Seda (Menteri Perkebunan, Perhubungan, Keuangan); dan Sonny Keraf (Menteri Lingkungan Hidup).

Di hirarki Gereja, tercatat beberapa uskup asal Flores di luar pulau Flores, yakni Uskup Pangkalpinang, Mgr Hilarius Moa Nurak SVD; Uskup Bogor, Mgr Cosmas Michael Angkur OFM; Uskup Denpasar, Mgr Dr Silvester Tung Kiem San; Uskup Jayapura, Mgr Dr Leo Laba Lajar OFM; dan Uskup Manokwari-Sorong, Mgr Hilarion Datus Lega. Dari 37 keuskupan di Indonesia, ternyata ada lima uskup asal Flores di luar pulau Flores, dan ditambah empat uskup di Pulau Flores sendiri, ada sembilan uskup yang berasal dari Flores. Kekatolikan Flores tentu tidak hanya bisa kita kagumi dari segi kuantitas. Dari sisi kualitas, selain tampil sebagai pejabat pemerintah dan gereja, etnis Flores juga dominan sebagai penulis, wartawan, dan terutama intelektual.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar