Kamis, Agustus 19, 2010

Seni Berdebat itu Telah Dimulai di Mataloko

“Mas, ntar gak usah tanya-tanya ya. Biar diskusi cepat selesai,” ujar seorang teman kepada saya dan beberapa rekan yang baru saja akan memasuki ruang kuliah. Sebuah kalimat yang baru saya tahu maknanya setelah beberapa saat saya meninggalkan bangku kuliah.

Kalimat dari seorang teman ini bukanlah sebuah kalimat isapan jempol belaka. Bukan pula kalimat yang dilontarkan tanpa latar belakang alasan yang kuat. Ada sebuah pemahaman akan arti diskusi saat itu. Di kampus (kala itu), diskusi menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian orang. Walaupun bagi sebagian besar kelas, diskusi adalah saat emas untuk bertukar ide dan berbagi pengalaman, hal ini tidak berlaku bagi sebagian kecil rekan saya. Bagi mereka, diskusi kelas bak sebuah ketakutan yang amat sangat dalam merasuki mereka. Saat akan menjadi pembicara dalam sebuah diskusi kelas, waktu seminggu untuk persiapan dirasa tidaklah cukup. Buat mereka, lebih baik duduk diam di sudut kelas, daripada harus maju dan mempresentasikan bahan diskusi di depan kelas.

Ketakutan mereka lebih dalam menusuk mereka, karena kelas itu diisi dengan beberapa orang yang memang terkenal kritis dan mempunyai daya nalar yang kuat dalam diskusi. Jika mereka sudah berdiri dan bicara, seisi kelas menjadi hening. Mereka selalu menjadi pembuka dan penuntas masalah diskusi di kelas. Rasa-rasanya, diskusi kelas tak akan berlangsung hangat, jika beberapa orang tersebut tak hadir di kelas. Beberapa orang itu selalu menjadi faktor final pemecah diskusi kelas. Sampai-sampai, keluarlah kalimat di atas.

***

Tulisan ini sebenarnya bukan bermaksud untuk menggali, mengomentari atau membeberkan beberapa orang tersebut. Tulisan ini sebenarnya mau melihat, apa faktor utama di balik kemampuan beberapa orang tersebut dalam berpikir kritis dan bernalar panjang.

Memiliki pikiran yang kritis dan daya nalar yang kuat, bukanlah sebuah anugerah Tuhan yang didapat secara cuma-cuma. Kemampuan-kemampuan tersebut tidak diperoleh hanya dengan sebuah bim salabim belaka. Lebih dari itu, memiliki pikiran yang kritis dan daya nalar yang kuat adalah sebuah kebiasaan. Kebiasaan kita mengasah otak dan kemampuan kita, itulah yang menjadi faktor kunci tajam tidaknya pikiran kita, luas tidaknya nalar yang kita gunakan. Hemat saya, semuanya harus dilatih. Tidak ada sesuatu yang bisa kita peroleh hanya dengan berpangku tangan.

Bagi saya, adalah sebuah lembah yang terletak jauh di pedalaman Flores sana, yang mengajarkan saya bagaimana membentuk semua hal di atas. Di ketenangan lembah itulah, saya bisa melihat bahwa ternyata semua yang kita peroleh selama ini, merupakan buah dari kerja keras dan latihan yang dilakukan secara kontinu. Tidak dapat kita abaikan bahwa dari ketenangan sebuah alam, akan lahir tokoh-tokoh besar. Lihat saja, Pancasila lahir dari ketenangan Ende kala itu, yang dipadu dengan kecemerlangan otak Soekarno. Lihatlah pula, bagaimana Dalai Lama dapat mempengaruhi ratusan ribu pengikutnya hanya dengan berada di ketinggian Tibet. Bandingkan dengan jutaan orang yang terserang stroke, asma, serangan jantung dan berbagai penyakit lainnya akibat terlalu seringnya mereka menghirup udara kotor Jakarta dan terjebak dalam “hutan beton” Jakarta.

Di ketenangan pedalaman ini, berbagai kegiatan yang bertujuan untuk mengasah otak kerap dijalankan. Hitung saja, berapa banyak renungan meditasi yang harus dibuat setiap harinya, misalkan. Hitung pula, berapa banyak ringkasan bacaan yang harus dibuat. Belum termasuk berapa banyak hari Sabtu yang harus dihabiskan di kamar makan untuk melakukan kegiatan diskusi. Belum termasuk pula, berapa banyak kegiatan diskusi yang dilakukan di luar sekolah, sebagai ekstrakurikuler. Jumlah ini belum termasuk kegiatan-kegiatan penelitian, perlombaan menulis, serta kebiasaan menulis di Florete, Berkhmawan News dan majalah dinding. Hal yang sebenarnya sangat biasa, tetapi jika dilakukan secara kontinyu dalam sebuah ketenangan lembah, kebiasaan ini bisa berbuah ke-luarbiasa-an.

Di lembah ini, kami diajarkan untuk selalu mendasarkan pikiran kami pada 3 hal utama kala berdiskusi atau berdebat, yaitu pikiran utama, alasan dan fakta. Sebuah diskusi yang baik selalu berdasar pada 3 hal ini. Pun sebuah bantahan atau usulan atau apapun istilahnya, selalu dimulai dengan 3 hal ini. Ada pikiran utama yang disampaikan, lantas didukung dengan alasan yang kuat dan fakta akurat. Hal yang sudah diketahui secara umum oleh siswa di sebuah sekolah di lembah ini.

Secara pribadi, kegiatan diskusi dan tulis-menulis di pedalaman ini, mampu membantu saya dalam banyak hal. Keteraturan pikiran, kelogisan nalar, kekuatan alasan dan seni berdebat, merupakan beberapa hal yang bisa saya petik hikmahnya. Bukan karena itu adalah anugerah dari sebuah sekolah calon pastor. Justru itu adalah buah dari usaha keras dan latihan yang dilakukan tiap saat.

***

Hal berbeda saya rasakan ketika saya bergerak keluar dari pedalaman ini, masuk ke dalam sebuah suasana kota yang hingar-bingar, jauh dari kesan ketenangan dan kesepian sebuah lembah. Hemat saya (kala itu), suasana kota dengan segala kemudahan aksesibilitasnya, akan sangat mudah memampukan seseorang untuk berpikir dengan jauh lebih kritis daripada kami-kami yang berasal dari daerah pedalaman. Apalagi, kala itu saya masuk ke suasana kota dengan sebuah anggapan bahwa orang kota pasti jauh lebih pintar dari orang daerah.

Namun, saya terpaksa harus meralat anggapan saya sendiri. Orang bilang, pengalaman pertama menentukan segala-galanya. Ya, betul. Pengalaman pertama di kampus lantas membelokkan pemikiran saya. Apakah karena kurangnya sebuah situasi tenang di kota, ataukah karena kurangnya kebiasaan? Pada berbagai kegiatan diskusi dan debat di kampus, pemikiran orang-orang kota lebih menampakkan orang kota yang kering dan miskin secara psikologis. Kata-kata mereka standar. Alasan mereka tidaklah cukup kuat, baik untuk mendukung argumen maupun sebaliknya untuk membantah. Nalar mereka tidak berjalan. Semuanya tekstual. Hafal lurus-lurus. Sampai pada suatu kesempatan ngobrol lepas dengan teman, saya pernah berujar, “Jika mahasiswa di kampus kita disandingkan dengan adik-adik kelas di sekolah saya, saya berani jamin, adik-adik kelas saya jauh lebih bisa mempertontonkan seni berdebat dengan kualitas yang tak diragukan lagi.” Lantas mereka akan bertanya, “Dari mana kamu dan adik-adik kelasmu itu belajar seni berdebat?” Jawabannya hanya satu, “Seni Berdebat itu Telah Dimulai di Mataloko!”

Terima kasih Seminari Mataloko.

Menyongsong Ultah ke-81 Seminari Mataloko.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar