Senin, September 27, 2010

Berguru kepada Kawan

Jarum jam menunjukkan pukul 17.00. Kuperhatikan sekelilingku, belum banyak yang beranjak dari duduknya. Masing-masing masih terpaku menatap layar komputernya. Entah masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan atau sekedar berselancar di dunia maya, Aku tak tahu dan tak mau tahu. Toh mereka juga tak pernah peduli dengan apa yang ada di dalam komputerku. Kecuali yang menyangkut pekerjaan. Ada yang sekedar tertawa bersama rekannya. Ada yang terlihat sibuk menyelesaikan materi yang tersisa. Selebihnya, hanya diam di depan komputer. Menatap benda mati itu dengan tatapan kosong. Pada jam ini, kantor terlihat layaknya sebuah rumah. Kehangatan suasana, keharmonisan hubungan dan kedekatan para personalnya, membuat kantor ini serasa keluarga kedua bagiku. Ada banyak orang dengan beragam karakter tinggal di sini. Bagiku, hal itu bukanlah masalah. Hal itu Aku syukuri sebagai berkat dari pencipta. Layaknya manusia lainnya, Aku selalu membutuhkan orang lain dalam hidupku. Di tempat inilah, Aku menemukan makna keluarga bagiku.

Kutengok ke dalam ruangan di samping mejaku. Ah, Ibu itu masih duduk dengan wajah serius di depan komputernya. Sambil sesekali menelepon, Ibu itu terlihat begitu anggun. Wanita perkasa sangat tepat dialamatkan ke wanita itu. Di dalam ruangan itu, wanita itu terlihat jauh lebih perkasa daripada wanita seusianya. Dari semangatnya, dari cara bicaranya, dari hentakan kakinya saat melangkah, dari ketegasan nada bicaranya, wanita itu adalah tipikal pemimpin sejati. Sudah sering Aku menjadi korban amarahnya. Sudah sering pula Aku berdiri terpaku di hadapannya, mengakui berbagai keteledoranku. Sudah sering pula, Aku mendapatkan nasihat-nasihat bijak darinya. Ruangan itu selalu menjadi momok menakutkan buatKu. Selalu ada perasaan gugup, takut dan sungkan untuk dapat menggapai ruangan itu. Kaca-kaca itu, Kuibaratkan sebagai pembatas antara surga dan neraka. Antara ketakutan dan kebebasan. Antara kegelapan dan terang. Antara kesesakan dan alam bebas.

Tak mau berlama-lama dengan pemandangan itu, Kupalingkan wajahku ke sosok yang lain. Kuperhatikan wanita berkacamata itu. Dia tengah serius menatap layar komputernya, sambil sesekali jari-jarinya mengetik pesan singkat di handphone-nya. Dalam hati, ada perasaan kagum kepadanya. Kuamati dia secara mendalam. Wanita itu pasti amat istimewa. Ketika diciptakan, Tuhan pasti memberikan porsi yang lebih untuk wanita ini. Ketenangan bicaranya dan kelembutan kata-katanya, menjadikan wanita ini lebih di mataku. Ada banyak hal berharga yang dia ajarkan. Ada banyak kebajikan hidup yang Kupetik dari dia. Sungguh, Aku bersyukur bisa bertemu dengan wanita ini.

Wanita yang lain turut mencuri perhatianku. Pandanganku menuju arah yang lain. Kupandangi wanita berjilbab itu. Sungguh serasi jilbabnya dengan pakaian yang ia kenakan. Sosok ibu yang soleha sungguh melekat dalam dirinya. Tak banyak yang dia lakukan sekarang. Sambil menyelesaikan pekerjaannya, wanita ini sesekali terlihat tertawa lepas, seolah ingin melepaskan segala penat di dada. Bagiku, inilah wanita pejuang sejati. Wanita yang dalam kesehariannya harus berbagi waktu dengan keluarga dan pekerjaanya. Wanita yang tak pernah mengeluh akan keadaannya sendiri. Wanita yang selalu tampil tegar meski berbagai masalah hidup menghantuinya. Wanita yang tak cepat berputus-asa.

Kali ini, satu lagi pelajaran hidup Aku peroleh dari rekan kerjaku.

Ekor mataku menangkap sosok yang lain. Kali ini, pengamatanku tertuju ke arah pria itu. Ah, pria ini selalu fenomenal di mataku. Tingkahnya, ketenangannya, tutur katanya, sungguh mencirikan sosok pria yang matang. Matang dalam pekerjaan dan matang dalam tutur kata. Kuamati dia perlahan-lahan. Sambil sesekali menghirup kopi dari cangkirnya, kulihat tak banyak perkerjaan yang dia punya. Aku pun yakin memang tak banyak perkerjaan yang dia punya sekarang. Sosok pria itu lebih kuanggap sebagai saudara. Ada banyak kemiripan yang kami punya. Bukan karena kami bekerja di tempat yang sama, tetapi lebih karena naluri kelelakian kami lebih hidup ketika kami berbincang-bincang bersama. Mulai dari obrolan menggelikan sampai dengan candaan-candaan lucu, selalu menjadi bagian dari perbincangan kami selama di kantor. Dia terlihat lebih sibuk berbincang dengan seorang gadis. Bersama gadis itu, pria itu lebih terlihat sebagai seorang kakak yang tengah mengayomi adik perempuannya. Yang mencoba mengajarkan adik perempuannya tentang kesulitan, tantangan dan kejamnya hidup ini. Sambil sesekali memberikan gesture, pria itu terlihat sedang berdiplomasi dengan gadis itu. Entah apa yang mereka perbincangkan.

Gadis itu pun berusaha memahami dan memberikan perhatian kepada pria itu. Dilihat dari perawakannya, gadis itu tak bisa dibilang seorang gadis yang semampai. Dengan umur yang masih muda, garis-garis semangat betul terlihat di wajahnya. Sudah cukup lama Aku berkenalan dengan gadis itu. Dalam kurun waktu itu, Kudapati gadis itu sebagai orang yang tegas dalam prinsip dan kuat dalam keyakinan. Sulit mencari orang dengan karakter seperti itu. Di zaman yang keras ini, prinsip dan keyakinan sungguh sangat dibutuhkan. Dan gadis itu sudah memiliki semuanya. Untuk gadis yang satu ini, Aku membutuhkan waktu yang lebih untuk mengamatinya.

Waktu menunjukkan pukul 17.57. Tak terasa, hampir sejam Aku mengamati pola tingkah rekan-rekanku dengan berbagai kekhasannya. Tak terasa, hampir sejam itu pula Aku berguru kepada rekan-rekanku. Berguru tentang kepemimpinan, berguru tentang kebajikan hidup, berguru tentang perjuangan hidup, tentang kematangan, serta berguru tentang prinsip dan keyakinan.

Bagiku, teman/kawan/rekan/apapun istilahnya, adalah harta berharga yang harus kita jaga, hormati dan kita sayang. Melalui merekalah, kita dapat belajar tentang berbagai nilai hidup ini. Terima kasih kawan. Terima kasih telah menjadi guru buatku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar