Selasa, September 07, 2010

Bermodal Kacang Ijo, Beroleh Prestasi

Dari segi makanan, tidak ada yang bisa dibanggakan dari seminari. Sayur kacang ijo tawar menjadi menu penunggu siswa seminari setelah misa pagi. Belum lagi sayur labu dengan beberapa lalat sebagai lauk tambahan. Setidaknya, kalau mau dibandingkan, menu di rumah jelas lebih punya nilai gizi. Walaupun hanya ikan teri, setidaknya ikan teri yang segar dan tidak pernah “dipenjara” di gudang berbulan-bulan lamanya.

Ribuan orang mantan Seminari Mataloko pasti pernah mengalami dan masuk dalam kenangan kacang ijo dan sayur labu. Tak terkecuali. Menu-menu itu selalu hadir dalam setiap jam makan siswa seminari, ditemani termos-termos dan cerek-cerek tua, yang selalu dicat tiap bulan sebagai penanda meja “pemilik” termos dan cerek tersebut. Jika tidak, urusannya bisa rumit. Termos nasi tetangga bisa ada di meja kita. Sementara termos sayur kita bisa ada di meja yang paling ujung. Kamar makan pun menjadi semacam tempat lost and found. “Pengumuman, mewakili meja nomor 13, kami merasa kehilangan termos sayur. Yang menemukan, harap kembalikan.” Pengumuman yang kadang membuat bosan, karena hampir terdengar di seluruh penjuru kamar makan pada setiap jam makan.

Jangan tanyakan salah siapa menu makan Seminari seperti itu? Tanyakan kepada tanah Mataloko. Kenapa tanah tersebut hanya cocok untuk ditanam labu, kol dan kacang ijo. Alhasil, sayur-sayur itulah yang selalu menghiasi meja makan. Beruntung kalau dimasak dengan perhitungan ”asin-manis", "pahit-asam". Namun, kalau dimasak hanya dengan standar "yang penting kenyang", maka ratusan siswa SMP dan ratusan ka’e-ka’e SMA-lah yang menjadi korban.

Terlepas dari semua itu, pernahkah kita berpikir manfaat dan nilai utilitas kacang ijo? Jika kita mengurai ke belakang, pernahkah kita berpikir mengapa siswa seminari selalu menjadi yang terbaik dalam berbagai perlombaan bidang studi? (Semoga masih sampai sekarang). Pernahkah kita mencermati kelulusan Seminari selalu didominasi angka 100% setiap tahunnya? Pernahkah kita bertanya mengapa ribuan awam telah mampu meraih kesuksesan di luar sana? Mengapa seminari ini sudah mampu menapaki usia kepala delapan ?

Dengan alasan itulah, renungan singkat ini saya beri judul “Bermodal Kacang Ijo, Beroleh Prestasi”. Sebagai seorang mantan Semmath (begitulah biasa terpampang tulisan ini di kertas surat), saya menyadari betul khasiat makanan-makanan seminari. Kacang ijo mendapat porsi teratas, karena memang menjadi menu langganan. Mari kita berkalkulasi. Tiap tahun, seorang siswa seminari harus membawa 25kg kacang ijo. Kita andaikan total siswa seminari ada 400 orang, diperkirakan dalam satu tahun, gudang seminari mampu menampung 10000kg kacang ijo. Jumlah yang cukup membuat sibuk Om Goris Geka dan Om Anis Tai. Sampai di sini, kita boleh berujar, “Pantas….”

Kita kembali ke soal prestasi. Secara pribadi, 6 tahun menjadi salah seorang seminaris merupakan pengalaman yang tak terlupakan dan tak tergantikan. Di sana, banyak hal indah yang saya dapat. Kedisiplinan, kekeluargaan, kerohanian, kepatuhan, kemampuan berargumentasi, berorganisasi; semuanya diasah di sana. Kalau di seminari, otak itu tidak dianggap seperti sabun. Semakin dipakai, semakin habis. Otak justru dipandang seperti parang. Semakin diasah, semakin tajam. Itulah sebenarnya kekuatan kita. Lain lagi kalau kita bicara bakat. Di seminari-lah kita bisa tahu apa bakat kita. Berbagai bakat sangat diapresiasi di seminari. Jangan heran, dari seminari kemudian muncul banyak penulis berbakat, banyak olahragawan terkenal, banyak politikus piawai dan tidak sedikit musisi handal.

Ketika memutuskan untuk "berbelok arah" setelah tamat SMA dan merantau, saya baru menyadari betul manfaat semua hal yang saya dapat selama di seminari. Soal ketepatan waktu, tak masalah. Mengerjakan tugas kampus dalam waktu singkat, sudah biasa. Masuk dalam organisasi, itu sudah saya lakoni sejak SMP. Tak masalah. Berdebat dengan dosen di ruang kuliah, ayo. Menyampaikan gagasan dan berbicara di depan umum, seminari sudah sering menggelar ajang serupa. Apalagi? Membuat paper, mempresentasikannya dan mempertahankannya, para seminaris tidak asing dengan hal ini. Sungguh, 6 tahun yang membanggakan. Semuanya itu hanyalah semacam pengulangan apa yang sudah saya dapat di seminari. Sungguh, seminari benar-benar telah mempersiapkan segalanya.

Belum lagi pengalaman ribuan alumni yang sudah tersebar di seantero jagad. Semuanya memiliki kisah sendiri-sendiri, perjuangan sendiri-sendiri, kesuksesan sendiri-sendiri. Dan saya yakin, semuanya pasti bersumber dari seminari. Apa yang sudah diajar dan ditanamkan oleh seminari, menjadi pupuk yang paling ampuh untuk membuat bunga kesuksesan dan prestasi kita tetap mekar.

Bermodal kacang ijo, beroleh prestasi. Walaupun prestasi masihlah jauh dari harapan, saya patut senang karena hal-hal mendasar untuk memperoleh prestasi itu sudah saya dapatkan dari seminari. Berbanggalah kita yang pernah digembleng di Kawah Candradimuka. Lembah Sasa. Kota Kabut. Jangan pernah menyesal pernah menjadi bagian dari sejarah seminari. Sebagaimana nama kita, nama seminari akan tetap terukir dengan tinta emas di hati kita. Tak ada yang dapat menghapusnya. Tidak juga waktu. Jayalah terus Seminari Mataloko!!

3 komentar:

  1. Eja,,,bon lauk ko??hahaha........

    BalasHapus
  2. Hahahha... Itu satu kebiasaan yang tidak ada di sekolah lain..

    BalasHapus
  3. Suruh pedor beli di om onde atau tanta geny sa..hehehe..."

    BalasHapus