Jumat, September 03, 2010

Hukuman Setelah Natal

Pagi itu semua tampak tergopoh-gopoh. Buru-buru. Biasanya, setelah misa, ada sesi silentium magnum. Tapi, saat ini tidak. Ada suara di sana-sini. Ada yang berbisik. Ada yang setengah berteriak. Semua wajah tampak ceria.

Di kamar tidur beda lagi. Tikar sudah terikat rapi. Tali rafia berhamburan di mana-mana. Tas sudah dalam posisi siap. Siap diletakkan di pundak-pundak seminaris. Ya, ini hari pertama liburan Natal. Semua seminaris tampak sibuk. Setengah pikiran mereka malah sudah berada di rumah masing-masing. Ingin cepat-cepat sampai di rumah dan bertemu keluarga tercinta.

Tepat pukul 07.00 pagi, 21 Desember 2004, kami keluar dari kamar tidur. Semua saling berpamitan. Ada yang berjabat tangan. Ada yang berpelukan. Ada yang sekedar melakukan toast. Dua minggu lamanya kami akan berpisah. Sebuah waktu yang terbilang lama untuk para siswa asrama.

Empat buah bis sudah menunggu di pendopo. Dua buah Bis Emanuel untuk siswa GASSELI (Gabungan Siswa Seminari Ende Lio) dan dua buah bis Surya Agung untuk siswa IKSSAS (Ikatan Siswa Seminari Asal Sikka). Bunyi klakson bis saling bersahutan. Mereka rupanya sudah tak sabar mengangkut para calon imam ini kembali ke tengah keluarga mereka.

Perlahan-lahan kami melewati perpustakaan dan ruangan kelas. Kami hendak sarapan pagi dulu sebelum berangkat. Maklum, perjalanan ke Maumere akan ditempuh dalam waktu kurang lebih 8 jam. Itupun kalau mulus. Kalau ada longsor atau jembatan putus, perjalanan bisa lebih panjang.

Waktu makan pun dipercepat. Pagi itu, semua makanan kelihatan lezat. Walaupun sebenarnya ini adalah makanan rutin yang selalu menghiasi meja makan kami. Sayur kacang ijo. Nasi jagung. Plus air putih. Semua menyantap dalam ketergesa-gesaan. Saat itu Pkl. 07.30. setengah jam lagi kami harus berangkat. Sementara, teman-teman lain sudah berangkat. Tinggallah kami sendiri.

Setelah menyantap makan pagi, kami pun naik ke dalam bis. Bis berjalan perlahan. Tepat di gerbang SMA, kami berdoa bersama. Intensinya, semoga perjalanan kami diberkati dan kami tiba dengan selamat. Sesudah itu, tepat Pkl 08.00, perjalanan dimulai. And Christmas holiday started.

Dua minggu kemudian.

Kamar makan tampak sepi. Senyap. Diam. Ada seorang frater di pojok kamar makan.

“Ketua OSIS mana?” Tanya sang frater.

“Ada, frater!” seru sang ketua OSIS seraya berdiri.

“Sebelum pulang liburan Natal dua minggu lalu, siapa yang makan terakhir?” tanya sang frater. Wajahnya tampak memerah. Pertanda ia sedang marah besar.

Seisi kamar makan hening. Masing-masing saling berbisik. Tunduk di meja makan masing-masing.

“Anggota IKSSAS, frater. Mereka yang pulang paling akhir!” jelas sang Ketua OSIS.

Sang frater memalingkan wajahnya ke pojok lain kamar makan. Lehernya meninggi seolah sedang mencari seseorang.

“Ketua IKSSAS mana?” Kali ini sang frater bertanya dengan nada yang lebih tinggi. Jelas sudah, kemarahannya sudah memuncak.

Seorang teman saya berdiri. Posisinya dekat pintu kamar makan. Agak jauh dari meja makan saya. Ia berusaha menelan sisa-sisa makanan di mulutnya. Ia tampak kaget. Terlihat jelas dari wajahnya.

“Kenapa waktu mau pulang liburan Natal, kalian tinggalkan kamar makan dalam keadaan berantakan? Piring belum dicuci. Lantai kamar makan belum di sapu. Termos-termos nasi dan sayur pun kalian tinggalkan begitu saja di loket. Air mengalir terus. Kamu pikir seminari ini kaya?”

Sang Ketua IKSSAS terdiam. Dia berusaha mencari alasan yang tepat. Saat itu semua tampak sadar. Betul juga, mungkin karena pagi itu kami semua buru-buru, makanya lupa akan segala hal, termasuk membersihkan kamar makan dan perlengkapan makan.

“Maaf, frater. Waktu itu kami buru-buru. Kami lupa.” Sang ketua berusaha menjelaskan dengan suara terbata-bata.

“Alasan klasik. Selalu bilang lupa. Kamu pikir di sini ada orang yang mau bersihkan kamu punya sisa-sisa makanan?”

“Tidak ada, frater.”

“Terus?”

Lagi-lagi sang ketua terdiam.

“Oke, sebagai hukumannya, semua anggota IKSSAS harus bertugas membersihkan kamar makan dan semua perlengkapan makan. Pagi, siang dan malam, selama satu minggu ke depan. Titik. Selamat malam. Terima kasih untuk perhatiannya!!” tegas sang frater sembari membanting lonceng makan di meja makan terdekatnya dan berlalu meninggalkan kamar makan.

Sang Ketua IKSSAS pun hanya bisa berdiri kaku dan terdiam.

Hukuman itu pun kami jalankan dengan penuh tanggungjawab. Mungkin masih ada sisa-sisa semangat Natal dalam diri kami.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar