Minggu, September 05, 2010

Kenangan Pesta Intan Seminari Mataloko

25 five years is a happiness. 50 years is a proud. Then, 75 years is amazing.

Saat itu tanggal 15 September 2004. Udara di Mataloko sangat sejuk. Matahari tidak terlalu bersinar terik. Hembusan angin dari Wolosasa sangat menyejukkan. Sesekali kicau burung terdengar di sana-sini. Rerumputan seminari terus bergoyang diterpa angin. Saat itu, kami duduk di bangku puncak. Bangku Kelas III SMA.

Ada yang berbeda dengan seminari saat itu. Seminari tampak sangat ramai. Ratusan orang hilir mudik di kompleks seminari. Tidak hanya para siswa, guru dan pembina seminari; tetapi juga masyarakat, simpatisan, dan alumni Seminari Mataloko. Ya, hari itu ada Perayaan Intan Seminari Mataloko. Tepat tanggal 15 September 2004, almamater tercinta merayakan ultahnya yang ke-75.

Seminari ini pertama kali didirikan di Desa Sikka, pada bulan Februari 1926, dengan 7 orang seminaris. Dalam perjalanannya, jumlah seminaris terus bertambah. Sementara, Desa Sikka sudah tidak kondusif lagi untuk perkembangan seminari yang lebih besar. Seminari kemudian dipindahkan ke Mataloko pada tanggal 15 September 1929. Tanggal 15 September kemudian dirayakan sebagai hari jadi seminari tertua kedua di Indonesia ini.

Pagi itu, lapangan sepak bola SMP Seminari tampak seperti Lapangan St Petrus, Roma. Persis di belakang kamar tidur SMP, dibangun altar utama. Sebuah altar yang dibangun dengan arsitektur tradisional. Beratapkan ilalang dengan lambang Seminari Mataloko tepat di puncak altar. Di samping kiri altar, berdiri megah tempat paduan suara. Panggung untuk paduan suara tersebut berkapasitas 1000 orang. Di sebelah kanan altar, didirikan tenda untuk para alumni, undangan dan para pejabat negara. Seingat saya, pada waktu itu hadir bupati dan wakil bupati sedaratan Flores, Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Bpk Frans Seda dan beberapa tamu penting lainnya. Sebenarnya mantan Panglima ABRI, Bpk. Leonardus Benyamin Moerdani atau yang lebih dikenal dengan LB Moerdani, berkenan hadir. Sayang, beliau meninggal sebelum pesta ini digelar. Di sebelah kiri altar atau tepat di depan panggung paduan suara, dibangun tenda untuk umat Paroki Mataloko dan simpatisan. Bagian tengah lapangan tersebut sengaja dikosongkan. Itu tempat buat para penari. Pada saat itu, para penari berasal dari 3 kevikepan dalam lingkungan Keuskupan Agung Ende.

Benar-benar bukti bahwa seminari ini adalah seminari umat. Kalau tidak ada umat, seminari ini tidak akan berkembang. Kalau bukan karena doa dan campur tangan umat, seminari ini sudah lama mati.

Selama perjalanannya, seminari ini telah menghasilkan ribuan awam yang tersebar di berbagai bidang kehidupan masyarakat. Banyak yg masuk dalam lingkungan birokrasi. Namun, tak sedikit pula yang mengabdi di bidang swasta. Selain kaum awam, seminari ini telah menelurkan lebih dari 500an imam dan 16 uskup (5 di antaranya telah meninggal dunia). Dari 16 uskup tersebut, 3 orang termasuk dalam jajaran uskup muda, yang baru ditahbiskan. Mereka adalah Mgr Vinsentius Sensi (Uskup Maumere), Mgr Edmundus Woga (Uskup Weetabula, Sumba), dan Mgr Silvester San (Uskup Denpasar). Sebuah pencapaian yang dahsyat.

Perayaan ekaristi pagi itu dimulai sekitar Pkl 09.00 WIB. Misa pagi itu dihadiri ribuan umat Keuskupan Agung Ende, undangan, tamu dan simpatisan. Barisan ajudan dan imam berawal di lapangan SMP Seminari dan berakhir di pojok lapangan bola SMA Seminari. Sangat panjang. Wajar saja. Pagi itu perayaan eksristi dipimpin oleh sekitar 200an imam dan 8 uskup. Seingat saya, yang hadir waktu Mgr Abdon Longinus da Cunha (Uskup Agung Ende) yang bertindak sebagai selebran utama. Berturut-turut hadir Mgr Donatus Djagom (Uskup Emeritus Keuskupan Agung Ende), Mgr Isaak Doera (Uskup Emeritus Keuskupan Sintang), Mgr Anton Pain Ratu (Uskup Emeritus Keuskupan Atambua), Mgr Kherubim Pareira (sekarang Uskup Maumere), Mgr Hilarius Moa Nurak (Uskup Pangkal Pinang), Mgr Mikhael Angkur (Uskup Bogor), Mgr Eduardus Sangsun (Uskup Ruteng) dan Mgr Darius Nggawa (Uskup Emeritus Keuskupan Larantuka).

Perayaan semakin dimeriahkan dengan barisan koor dibawah arahan konduktor handal, Bpk Ferdi Levi. Anggota koor terdiri atas siswa seminari, siswi SMP Kartini, siswa/i SMP Soepra, siswa/i SMA Thomas serta umat. Selain anggota koor, perayaan ekaristi juga diwarnai unsur inkulturasi. Barisan penari dari Kevikepan Maumere, Kevikepan Ende dan Kevikepan Bajawa turut memberikan nuansa tersendiri dalam Perayaan Pesta Intan tersebut.

Perayaan Pesta Intan ditutup dengan acara makan dan ja’i bersama. Penuh suasana kekeluargaan.

Jayalah terus Seminari St Yohanes Berkhmans Mataloko. Tetaplah menjadi kawah candradimuka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar