Selasa, September 07, 2010

Kisah Roti dan Ikan

Saat itu jarum jam menunjukkan Pkl 22.00 WIB. Seharusnya, semua sudah berada di kamar tidur. Maklum, selain karena memang itu waktunya untuk tidur, terlebih karena cuaca Mataloko malam itu sangat tidak bersahabat. Saat itu musim hujan. Seharian Mataloko diguyur hujan lebat. Kabut pula. Di Mataloko, yang namanya hujan seharian, pasti selalu disertai dengan kabut tebal. Bukan saja membuat cuaca semakin ekstrem, melainkan juga menghalangi pandangan kami. Jarak pandang tak lebih dari 10 meter.

Cuaca yang seperti ini ternyata membawa berkah bagi sebagian seminaris, termasuk bagi kami berempat. Saat teman-teman yang lain sudah dalam posisi manis di balik selimut, kami berempat masih mengendap-endap di lorong kelas III IPS. Ya, malam itu ada tugas yang harus dilakukan, yaitu supper.

Secara harafiah, supper ini sebenarnya bermakna “makan malam”. Makan yang dilakukan pada tengah malam. Ini untuk membedakan supper dengan dinner. Jika dinner dilakukan pada jam-jam makan malam seperti biasanya, maka supper dilakukan di tengah malam.

Di seminari, supper ini sudah menjadi kebiasaan para seminaris. Kebiasaan yang dilakukan turun-temurun. Seingat saya, ketika kami beranjak ke jenjang SMA Seminari, kebiasaan supper ini sudah mentradisi. Tujuan supper ini hanya satu: memperbaiki gizi. Maklum, kala itu, menu makanan di seminari sangat memprihatinkan. Yang termasuk dalam golongan lauk (ikan, daging, dll) hanya bisa dikonsumsi pada Selasa siang dan Jumat siang saja. Di luar kedua kesempatan itu, meja makan seminaris hanya dihiasi nasi dan sayur saja. Itu pun jauh dari ukuran higienis dan kelezatan. Nasi jagung lebih dilihat sebagai jagung nasi, karena jumlah jagung lebih banyak dari nasi. Besar-besar pula jagungnya. Sayur pun demikian. Sayur kacang ijo dan labu jepang menjadi menu rutin kami. Hanya dikasih garam dan bawang putih, sayur pun siap dihidangkan. Sebuah menu makan yang selalu menemani kami selama 6 tahun perjalanan kami di almamater tercinta.

Alasan inilah yang mendasari langgengnya budaya supper di kalangan seminaris. Untuk supper ini, para seminaris juga sudah mempunyai kebiasaan yang unik. Biasanya, supper sudah diagendakan sejak siang atau pada saat jam tidur siang. Ini dilakukan agar pada jam belajar atau jam olahraga, ada teman yang bisa minta izin untuk pergi membeli menu supper ini. Tentunya, dengan alibi mau beli ballpoint, celana dalam, sabun atau odol. Kalau tidak diizinkan, cara bolos pun ditempuh. Tentu dengan keahlian dan sistem pengamatan yang handal. Menu supper biasanya berupa tahu, telur, ikan atau daging. Itu sudah lebih dari cukup. Sudah bisa membuat kami menyantap lahap dua piring nasi.

Malam itu pun demikian. Masing-masing mengendap-endap dengan piring dan sendok di tangan. Menu supper kami malam itu berupa ikan. Empat potong ikan sudah cukup buat kami berempat. Ditambah empat porsi nasi yang kami curi dari dapur sesaat setelah doa malam selesai. Kami pun melangkah pasti ke kelas III IPS. Ini tempat yang favorit. Selain karena ini adalah kelas kami, juga karena tempat ini sangat strategis. Jauh dari jangkauan frater atau romo. Posisinya di pojok sekali. Kelas ini hanya berbatasan dengan kamar Romo Kepsek dan lahan perkebunan. Sang Romo Kepsek pun, menurut perkiraan kami, pasti sedang menonton televisi di ruang nonton para romo yang letaknya sangat jauh dari kelas III IPS.

Pintu kelas tak dikunci. Kami masuk dengan pasti. Semuanya saling berbisik. Maklum, sedikit saja kita bersuara keras, maka hukuman sudah menanti. Lampu kelas kami padamkan. Hanya lampu koridor depan kelas saja yang masih menyala. Kami masih bisa menikmati biasan cahayanya. Syukurlah, kelas akhirnya tidak gelap-gelap amat.

Kami berempat bersimpuh di podium kelas. Meja dan kursi guru kami geser ke pojok kelas. Biar kami bisa leluasa menyantap makanan. Perlahan-lahan kami membuka plastik yang berisi ikan. Hmmmmmm, harum ikan goreng seketika menyeruak dan memenuhi ruangan kelas. Membuat perut ini semakin lapar. Kami sudah tak sabar. Ikan pun dibagi-bagi. Diletakkan di atas piring masing-masing. Inilah salah satu nilai positif pendidikan seminari. Selalu bisa berbagi dalam suka dan duka.

Setelah mendapat pembagian ikan, saya bersama seorang teman saya lantas berpindah ke posisi paling belakang kelas. Paling belakang dan paling pojok. Mungkin malam itu feeling kami lagi bagus. Kami takut saja jangan-jangan ada romo yang datang dan kami semua tertangkap basah. Sayang, kedua teman yang lain tak mengindahkan anjuran kami. Mereka malah menyalakan lilin. Sudah seperti candle light supper. Kami pun berpisah. Dua di pojok belakang III IPS, dua lagi di posisi paling depan III IPS. Persis di bawah papan tulis.

Setelah semua siap di posisi masing-masing, kami pun menyantap makanan kami. Ada yang tidak biasa masuk ke perut kami. Kami sangat meresapi bagaimana potongan ikan goreng masuk, dikunyah, dan ditelan. Rasanya beda. Tidak seperti biasanya. Benar-benar malam itu malam yang spesial. Walaupun tergolong indisipliner karena melanggar waktu tidur, toh itu adalah indisipliner yang membawa berkah.

Tiba-tiba.

Ada yang berdiri di depan kelas kami. Karena kelas kami dalam keadaan gelap dan hanya diterangi oleh lampu koridor, maka siapa saja yang berada di luar kelas pasti sangat jelas kelihatan dari dalam kelas. Hanya saja, yang berada di luar kelas tidak bisa melakukan hal yang sama.

Saya yang pertama kali melihatnya. Dari potongan rambut dan postur tubuhnya, ini pasti Romo Kepala Sekolah. Posturnya tinggi, agak kurus, potongan pemain voli. Memang benar. Beliau gemar bermain voli. Romo itu orang Maumere juga, sama seperti kami berempat. Mungkin malam itu romo hanya sekedar keliling, mau memastikan bahwa semua seminaris sudah tidur.

Saya lantas berbisik ke teman saya. Karena kami berdua sama-sama di pojok belakang kelas, penglihatan ini pun dengan cepat kami respon. Piring yang masih berisikan setengah potongan ikan dan setengah nasi, kami masukan ke dalam laci meja. Terserah, mau ikan itu kemudian menodai buku Akuntansi, Sosiologi atau Antropologi, yang penting kami bisa selamat. Kami lantas berusaha memberitahu kedua teman kami di depan. Sayang, kami dipisahkan jarak yang jauh. Kalaupun berteriak, risikonya ketahuan romo. Kedua teman itu seperti tidak mengetahui bahaya yang sedang mengintai. Mereka sangat asyik makan.

Posisi kami di belakang sudah aman. Sudah tertutup kursi dan meja. Dari balik kursi saya melihat ada gelagat buruk yang romo lakukan. Mula-mula posisinya membelakangi kelas. Kemudian beliau berbalik arah menghadap ke dalam kelas. Di saat itulah, beliau melihat cahaya lilin dari podium kelas. Seperti sudah punya firasat bahwa ada orang di dalamnya, romo lantas membuka pintu kelas. Ini lagi keteledoran kami. Lupa mengunci pintu kelas. Kedua teman saya nampak kaget. Mereka terperangah dengan piring masih di masing-masing tangan. Sementara kami yang di belakang, berusaha menahan napas. Takut ketahuan.

“Kamu buat apa?”

“Makan, Romo,” jawab teman saya.

“Tadi pas jam makan, kamu makan tidak?”

“Tidak, Romo. Kami kerja tugas.” Seorang dari antara mereka yang di depan itu mencoba mencari-cari alasan.

“Oooo… Kamu makan apa?” Romo tetap bertanya penuh penyelidikan.

“Makan roti, Romo.”

Secepat kilat Romo menyalakan lampu. Dan secepat kilat itu pula, potongan kepala ikan jatuh dari piring teman saya ke lantai podium.

“Ke kamar!!” Sang romo setengah membentak. Romo rupanya sudah kehilangan kesabaran. Sudah melanggar aturan, ditambah dengan sebuah alibi. Makan ikan, tapi bilang makan roti.

Romo berlalu disusul kedua teman saya. Kami yang di belakang selamat. Saat bertemu lagi di kamar tidur sekitar Pkl 23.00 WIB, mereka ternyata disuruh membuat refleksi setebal 4 halaman. Hahahaha… Rasakan!

2 komentar:

  1. Kau selalu mengingat hal kecil....
    I Love every detils yang kau tulis,,,Tetap menulis tetap belajar..!!GBU

    BalasHapus
  2. Saya belajar banyak dr kau teman... GBU2..

    BalasHapus