Selasa, Oktober 12, 2010

Bapak Mikhael Remi: Mendidik dengan Cinta

(Diambil dari Buku In Dei Providentia)

Sekalipun Seminari Todabelu merupakan lembaga pendidikan calon imam, bukan berarti pendidiknya harus terdiri dari para imam. Pada awal mula berdirinya seminari, kehadiran guru awam cukup langka dan bahkan tidak ada. Namun, melihat kebutuhan guru yang kompeten dan profesional serta keterbatasan imam pembina, maka guru-guru awam mulai direkrut.

Mikhael Remi, pemuda yang baru tamat PGSLP tahun 1958 segera direkrut menjadi guru Bahasa Indonesia. Tepatnya tanggal 1 Oktober 1958 beliau mulai mengabdikan diri di seminari. Pada usia intan seminari, tahun-tahun pengabdian beliau telah mencapai angka 46. Pria kelahiran Kefamenanu tanggal 15 Mei 1938 ini mengakui bahwa hatinya sangat gembira mengenangkan masa pengabdiannya yang panjang. Jika dijumlahkan dengan masa 4 tahun sebagai siswa seminari, maka keberadaan beliau genap berusia emas.

Tentang awal mula pengabdiannya, Bapak Mikhael mengisahkan bahwa ia menjadi guru seminari karena mendapat penempatan dari keuskupan. Sebagai orang muda, ia amat senang dan bangga dengan karir awalnya. Rekan sekerjanya pada masa itu kebanyakan para misionaris barat, sementara jumlah guru awam hanya beberapa orang saja. Para guru awam ditugaskan mengajar mata pelajaran-mata pelajaran yang tidak dapat ditangani para imam Eropa, antara lain, mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dalam tahun-tahun berikutnya, jumlah guru awam semakin bertambah hingga melampaui jumlah klerus.

Sebagai guru yang profesional, Bapak Mikhael menaruh perhatian serius pada mutu pendidikan. Dikatakannya, ketika seminari masih menerapkan kuriulum gymnasium, pendidikan terasa sangat bermutu. Namun ketika perlahan-ahan tunduk pada kurikulum pemerintah, seminari kehilangan kebebasan untuk mengembangkan kurikulum sendiri dan mutu pendidikan menurun. Turunnya mutu pendidikan diperparah oleh longgarnya disiplin, baik di kalangan siswa, maupun di kalangan guru. Di kalangan guru sendiri, kurangnya perhatian lembaga seminari terhadap kesejahteraan mereka menjadi salah satu penyebab menurunnya kadar kedisiplinan.

Selain disiplin, yang juga turut menentukan mutu pendidikan adalah motivasi yang menjiwai kehidupan siswa. Bapak Guru, demikian beliau disapa para muridnya, merasakan adanya perbedaan motivasi di dalam diri siswa yang dulu dan sekarang. Kalau dulu, para siswa masuk ke seminari dengan motivasi yang jelas, yakni menjadi imam. Sekarang ini cukup banyak siswa yang tidak menyadari bahwa mereka adalah calon imam. Karena itu, kualitas watak dan pengetahuan mereka tidak berbeda dari rekan-rekannya di luar seminari. Hal ini menjadi keprihatinan utama beliau, dan seyogyanya, menjadi keprihatinan utama seminari.

Bagaimanapun juga, Bapak Mikhael tetap bertahan untuk bekerja di seminari. Apa kekuatannya? Dengan terus terang, ia mengatakan: “Bekerja di seminari adalah suatu pengabdian. Ini merupakan suatu kebanggaan sekaligus kehormatan karena saya boleh mengambil bagian dalam pendidikan para calon imam. Karena itu saya akan tetap bekerja di seminari sampai kapan pun sejauh kemampuan saya apabila memang masih dibutuhkan.”

Kegembiraan dan kebahagiaan dalam pengabdian memang terpancar dari wajahnya. “Mengajar adalah member tanpa menjadi miskin, malah memperkaya budi dan hati. Dalam mengajar, usia bertambah tua, namun pikiran dan hati tetap remaja,” demikian kata Lo Ginting suatu ketika. Itulah juga dasar kegembiraan dan kebahagiaan Bapak Mikhael dalam pengabdian. Bapak Mikhael mendidik dengan hati, mendidik dengan cinta.

Kegembiraan dan kebahagiaan juga dirasakannya dalam kehidupan berkeluarga. Melalui pernikahan dengan Agnes Ndae, yang diberkati P. Kertjens, SVD tahun 1967, beliau dikaruniai tiga putera dan tiga puteri. Seorang puteranya, Asno Remi, adalah imam SVD. P. Asno, SVD memahkotai kebahagiaan ayahnya pada tahun 1998 ketika bersama ratusan imam, para mantan siswa Bapak Mikhael Remi (termasuk Mgr. Longinus da Cunha), merayakan syukur 40 tahun pengabdian Bapak Guru di seminari. Perayaan ekaristi tersebut sekaligus merupakan misa perdana P. Asno di tengah keluarga.

Menatap masa depan seminari, Bapak Mikhael mengemukakan beberapa hal. Pertama, dari sejarahnya, mutu pendidikan seminari sangat ditentukan oleh figure pemimpinnya. Rektor memiliki pengaruh besar, karena itu ia harus menjadi tokoh anutan. P. Ebben, SVD dapat diambil sebagai contohnya. Kedua, seleksi untuk para siswa harus diperketat, agar citra seminari yang gemilang dapat dikembalikan dan terpancar di dalam peri hidup mereka. Untuk itu, para pembina dan guru harus dapat menjadi tokoh anutan.

Proficiat Bapak Guru. Terima kasih atas jasa dan pengabdianmu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar