Selasa, Oktober 26, 2010

Belajar Kesetiaan dari Si Mbah

Nama Mbah Maridjan serentak menjadi buah bibir masyarakat. Bukan karena iklan roso­nya ataupun duetnya dengan Chris John di layar kaca. Mbah Maridjan menjadi begitu terkenal karena “jabatan”nya sebagai juru kunci atau penjaga Gunung Merapi.

Mbah Maridjan lahir tahun 1927 di Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dia mempunyai seorang istri bernama Ponirah (73), 10 orang anak (lima di antaranya telah meninggal), 11 cucu, dan 6 orang cicit.

Di antara anak-anak Mbah Maridjan, juga ada yang siap mewarisi tugas sebagai juru kunci Gunung Merapi dan kini telah menjadi abdi dalem Keraton Yogyakarta.

Pada tahun 1970 Mbah Maridjan diangkat menjadi abdi dalem Keraton Kesultanan Yogyakarta dan oleh Sultan Hamengku Buwono IX diberi nama baru, yaitu Mas Penewu Suraksohargo. Pada saat itu, sebagai abdi dalem, Mbah Maridjan diberi jabatan sebagai wakil juru kunci dengan pangkat Mantri Juru Kunci, mendampingi ayahnya yang menjabat sebagai juru kunci Gunung Merapi.

Pada saat menjadi wakil juru kunci, Mbah Maridjan sudah sering mewakili ayahnya untuk memimpin upacara ritual labuhan di puncak Gunung Merapi. Setelah ayahnya wafat, pada tanggal 3 Maret 1982, Mbah Maridjan diangkat menjadi juru kunci Gunung Merapi.

Pada saat Merapi mulai “berulah”, Mbah Maridjan tetap diam, tenang dan terus menghabiskan waktunya di balik keangkeran Sang Merapi. Ajakan, rayuan dan bujukan untuk meninggalkan Merapi ditepisnya. Bagi Si Mbah, tugas yang sudah dimandatkan kepadanya oleh Sultan Hamengku Buwono IX harus tetap dilaksanakannya dengan penuh tanggung jawab, kesetiaan, bahkan jika tugas itu menuntut pengorbanan dan jiwa raga Mbah.

Mbah tetap tidak mau mematuhi perintah untuk turun gunung oleh Sultan Hamengkubuwono X. Akibatnya, mata dunia pun terbelalak pada sosok renta yang sangat sederhana ini.

Namun kini, sosok sederhana dan rendah hati ini telah tiada. Mbah Maridjan menepati janjinya kepada Sultan HB IX untuk terus menjaga Merapi sampai akhir hayat. Juru kunci Gunung Merapi itu ikut gugur di pangkuan gunung penebar kesuburan itu. Amanah Sultan HB IX untuk menjaga gunung paling berbahaya di Indonesia itu, selesai sudah.

Sudah selayaknya panglima perang mati di medan perang, nahkoda mati tenggelam di kapal, dan juru kunci gunung mati di lereng gunung.

Mbah, darimu kami belajar mengenai kesetiaan, semangat pengorbanan dan tanggungjawab dalam menunaikan tugas. Andaikan semua pemimpin negeri ini mau belajar dan mencontoh dirimu, Mbah.

Selamat jalan Mbah! Di mata kami, sampeyan tetap roso!

Jakarta, Oktober 2010

Emanuel.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar