Rabu, Oktober 27, 2010

Di Tanah Ini, Semangat itu Telah Lenyap!

Semangat Sumpah Pemuda selalu kita rayakan tiap tanggal 28 Oktober setiap tahunnya. Banyak yang berharap bahwa perayaan itu harusnya tidak menjadi sebuah seremonial belaka. Banyak yang bilang, semangat para pemuda kala itu harus tetap diteruskan oleh para pemuda saat ini. Kerja keras, perjuangan, semangat persatuan dan pengorbanan mereka harus dimaknai dan dicontoh oleh generasi muda Indonesia saat ini.

Hemat saya, pada saat Soempah Pemoeda itu pertama kali dikumandangkan, semuanya bersatu dalam sebuah Indonesia Raya. Tak peduli apakah dia Jong Java, Jong Sunda, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Tionghoa; semuanya “mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia; mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Sungguh sebuah perjuangan yang mulia. Semuanya didasari pada semangat persatuan yang sama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.

Sumpah Pemuda pun lantas dimaknai sebagai simbol persatuan Indonesia. Dimaknai sebagai simbol pemersatu perjuangan kedaerahan, menjadi sebuah perjuangan nasional. Dimaknai sebagai ungkapan batin setiap orang Indonesia kala itu. Bagi mereka, apalah arti perjuangan melawan penjajah jika perjuangan itu dilakukan daerah per daerah, golongan per golongan, orang per orang. Jika itu terus-menerus dipelihara, tak akan ada kemerdekaan yang bisa dicicip. Sumpah Pemuda lahir sebagai tonggak Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tonggak itu menjadi semakin kuat karena hadir dari berbagai perbedaan ras, agama, suku dan bahasa yang beragam. Bukankah sapu itu menjadi kuat karena terdiri atas berbagai lidi yang diikat dalam satu ikatan?

Delapan puluh dua tahun sudah Sumpah Pemuda berkumandang di seantero negeri. Selama kurun waktu itu, banyak cara kita memaknai Sumpah Pemuda. Ada yang bilang nilai-nilai luhur sumpah pemuda mulai habis dikikis kemajuan zaman. Namun, tak sedikit pula yang berujar, selama Indonesia masih NKRI, selama itu pula gema Sumpah Pemuda tetap bergaung.

Bagi saya, Sumpah Pemuda tidak bisa dilihat hanya dari aspek geografis saja. Sumpah Pemuda tidak bisa dilihat dalam konteks “selama Indonesia masih utuh, di situlah nilai-nilai luhur Sumpah Pemuda masih terjaga”. Hemat saya, Sumpah Pemuda menyimpan nilai yang sangat komprehensif. Keluasan maknanya ini lebih disebabkan beragamnya orang, ras, agama, suku dan bahasa yang membentuk Sumpah Pemuda tersebut. Ada banyak kemunduran yang terjadi saat ini. Entah karena tidak lagi dihargainya Sumpah Pemuda atau karena Sumpah Pemuda dinilai tidak kontekstual lagi. Saya pun enggan berkomentar.

Dalam kaitannya dengan sumpah “bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia”, sumpah ini bak hilang ditiup angin perkembangan zaman. Semangat “bertumpah darah” itu mulai hilang dalam diri generasi Indonesia saat ini. Tipe orang Indonesia sebagai orang yang rela berkorban dan pantang menyerah, hanyalah historia keagungan masa lalu. Orang Indonesia saat ini lebih dikenal bermental easy going. Segala cara ditempuh, misalnya, untuk bisa kaya. Segala cara dilakukan, misalnya, untuk mendapatkan dan melanggengkan kekuasaan. Kita rindu sosok-sosok pahlawan masa lampau. Tanpa mobil, tanpa AC, tanpa teknologi yang memadai, toh mereka masih bisa memberikan yang terbaik buat republik ini. Bagi saya, dari lapisan teratas sampai lapisan terbawah republik ini, nilai-nilai “bertumpah darah” itu sudah usai.

Semangat “bertumpah darah” justru diartikan secara lurus-lurus. Benar-benar tumpah darah. Lihat saja kerusuhan Ampera dan Tarakan yang menjadi buah bibir beberapa waktu yang lalu. Seperti itulah para pemuda dan orang Indonesia memaknai sumpah “bertumpah darah”. Belum lagi konflik mahasiswa yang sering sekali terjadi di beberapa kota di Indonesia, khususnya di Jogjakarta, tempat saya kuliah. Prinsip mata ganti mata, gigi ganti gigi diamini sebagai “pesan” dari sumpah “bertumpah darah”. Masyarakat Indonesia pecinta damai berganti menjadi masyarakat pecinta darah. Tak percaya? Itulah Indonesia!

Dalam kaitannya dengan sumpah “berbangsa yang satu, bangsa Indonesia”, pola diskriminasi masih sangat kental di Indonesia ini. Jika saja kita tahu, kita pahami dan kita renungkan; bahwa perjuangan para pemuda kala itu adalah demi tegak dan bersatunya negara Indonesia. Bukan negara Jawa, Sumatera atau Bali. Tapi, itulah yang terjadi saat ini. Jawa masih sangat mendominasi pembangunan di Indonesia. Amat sangat diskriminatif. Sangat Jawasentris. Padahal, berdirinya negara ini adalah juga karena andil seluruh komponen bangsa. Berdirinya negara ini adalah juga berkat perjuangan Cut Nyak Dien, Sisingamangaraja, Dewi Sartika, Pangeran Diponegoro, Pangeran Antasari, Cilik Riwut, I Gusti Ngurah Rai, I Gusti Ketut Jelantik, Patimura, Martha Christina Tiahahu, Frans Kaisiepo dan WZ Yohanes. Artinya, semua komponen bangsa kala itu memberikan sumbangsih dengan caranya masing-masing demi kemerdekaan dan persatuan negara ini. Jika demikian, lantas kenapa Jawa selalu mendapatkan porsi pembangunan yang lebih besar? Mengapa semua kemudahan aksesibilitas hanya bisa dijumpai di Jawa? Apakah ada yang bisa menjamin bahwa suku Jawa memiliki status sosial yang lebih tinggi daripada suku lainnya, sehingga di Jawa harus diberikan porsi pembangunan yang lebih besar? Sampai di titik ini, sila kelima Pancasila sudah diingkari.

Diskriminasi itu semakin meluas, bukan hanya berkaitan dengan perkembangan infrastruktur, melainkan juga berkaitan dengan bagaimana bangsa ini menghargai perbedaan suku dan agama yang ada di Indonesia. Karena mayoritas, suku tertentu dan agama tertentu selalu bertindak seenak hati mereka, tanpa menghargai keragaman yang ada, intimidatif dan selalu menunjukkan dominasi mayoritas mereka melalui cara-cara penuh kekerasan. Oh Indonesia, tidakkah kau tahu bahwa sekecil atau se-minoritas apapun agama atau suku yang ada di Indonesia, mereka adalah bagian dari keluarga kita, mereka adalah juga pejuang-pejuang kemerdekaan dan persatuan bangsa ini? Sayangnya, pejabat dan petinggi negara seolah menutup mata mereka. Bagi mereka, tak apalah kita mengabaikan Flores, Papua, Maluku, Kei, Wetar, Alor, Paniai, Wamena, dll. Toh tidak ada yang bisa disumbangkan daerah-daerah itu untuk langgengnya kekuasaan kita. Ah, tak apalah kita merobohkan patung itu. Kan di daerah kita tidak boleh ada simbol-simbol agama lain. Yang boleh berdiri adalah simbol agama kita. Oh, Indonesia tidakkah kau sadar bahwa semua agama adalah sama di mata Tuhan? Tak apalah pembangunan difokuskan di Jawa. Toh, daerah di luar Jawa itu kan identik dengan kemiskinan dan kebodohan. Oh Indonesiaku, tidakkah kau tahu bahwa Indonesia ini bukan hanya Jawa saja? Tapi, itulah Indonesia. Sebobrok apapun Indonesia, dia tetaplah negara saya. Masih terlihat dengan jelas darah nenek moyang saya tumpah dan membasahi pertiwi ini.

Dalam kaitannya dengan sumpah “menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”, sumpah ini hanya menjadi sebuah guratan pena tanpa makna. Bahasa Indonesia mengalami degradasi. Kian terpuruk. Kian tak teratur. Kian tak bermakna. Kian banyak yang melupakan bahasa persatuan ini. Saya sungguh beruntung bahwa saya dididik di sebuah sekolah yang sangat menjunjung tinggi Bahasa Indonesia. Saya juga patut berterima kasih karena saya dilahirkan di sebuah daerah yang sangat menjunjung tinggi bahasa nasional ini. Saya tidak dilahirkan di tanah ini. Tanah yang kemajuan pembangunannya sudah sangat cepat, tetapi penghargaan terhadap bahasa nasional masih sangat rendah. Di tanah ini, Bahasa Indonesia kalah pamor dengan bahasa daerah. Bahasa Indonesia menjadi rusak, bercampur-aduk dengan bahasa daerah, bahasa prokem dan dialek kedaerahan.

Di kampus-kampus pun seperti itu. Selama saya kuliah, ada banyak kok dosen yang masih menggunakan bahasa Jawa di dalam kelas. Kalaupun menggunakan Bahasa Indonesia, pasti Bahasa Indonesia yang sukar dimengerti karena dicampur dengan berbagai aksen dan dialek Jawa. Padahal, mereka adalah dosen bergelar minimal S2 dan lulusan universitas ternama. Jika boleh saya berujar, Bahasa Indonesia sangat tidak dihargai di tanah ini, di tanah Jawa, tanah yang pertumbuhan ekonomi dan perkembangan infrastrukturnya berlari begitu cepat. Malam menjadi malem. Cepat menjadi cepet. Datang menjadi dateng. Dapat menjadi dapet. Tidak menjadi gak. Sudah menjadi udah. Ketika ada yang mampu berbahasa Indonesia secara baik dan benar, hal itu justru dianggap sebagai sebuah kejanggalan yang patut dipertanyakan. Saya pikir, kita butuh Goris Keraf-Goris Keraf baru saat ini.

Itulah Indonesia. Tentu, sangat tidak fair jika saya berpikir bahwa Indonesia telah kehilangan Sumpah Pemuda. Tidak! Sumpah Pemuda itu tetap akan ada, dikenang dan tetap bersemi di dalam tubuh ibu pertiwi ini. Yang membuat Sumpah Pemuda itu “mati” adalah bagaimana generasi Indonesia saat ini memahami, mencerna, memaknai dan melaksanakan semangat Sumpah Pemuda tersebut.

Salam.

Jakarta, Oktober 2010

Emanuel

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar