Minggu, Oktober 10, 2010

Malanuza: Eden-nya Seminari

Keseringan pergi ke Malanusa biasanya terjadi pada saat musim jagung, cengkeh, kopi atau lemon (jeruk). Anak seminari biasanya paling senang kalau diberi kesempatan ke Malanuza. Bukan hanya karena itu kesempatan paling bagus untuk sejenak keluar dari kungkungan tembok asrama, melainkan juga karena kami bisa langsung merasakan Taman Eden-nya seminari. Malanuza itu seperti Taman Eden yang dikisahkan di dalam Kitab Suci. Tanahnya subur, udaranya sejuk, air mengalir jernih, tanaman tumbuh dengan suburnya.

Jika mendapat kesempatan ke Malanuza, kami biasanya berjalan kaki dari seminari ke Malanuza. Waktu tempuhnya bisa cepat sekali, sekitar 30 menit, bisa juga lama sekali, sekitar 40 menit. Yang lama ini biasanya karena masih banyak tempat yang harus disinggahi. Kebanyakan singgah sebentar di Pasar Toda. Beli molen sebagai teman jalan ke Malanuza.

Kalau sudah dikasih kesempatan ke Malanuza, semuanya pasti senang. Berjalan kaki menuruni bukit Mataloko, sambil menghirup udara segar Mataloko, membuat kami seolah merasakan dunia yang berbeda. Jauh dari “penjara asrama”. Apalagi, sejauh mata memandang, yang ada hanya pemandangan alam yang dibalut warna hijau. Iya, Mataloko itu begitu hijau. Begitu segar. Begitu tenteram mendamaikan.

Berjalan bergerombolan, sambil sesekali becanda di jalan utama Ende-Bajawa, membuat waktu perjalanan ke Malanuza bisa terasa lebih singkat. Meskipun harus berjalan kaki, tak apalah, yang penting bisa sedikit keluar dari asrama.

Sesampainya di Malanuza, ketika memasuki gerbang utama, kita akan langsung tahu bahwa ini benar-benar kebun peninggalan orang-orang Eropa. Persis di sebelah kanan gerbang, deretan pohon-pohon cengkeh berjajar rapi. Sangat rapi. Di sebelah kiri gerbang, lebih luas wilayahnya, ratusan pohon kopi dan lemon (jeruk) tumbuh dengan suburnya. Deretan pohon cengkeh dan kopi dipisahkan dengan sebuah jalan tanah, tempat traktor biasanya lewat, mengangkut dan menurunkan barang-barang. Sebuah gudang tua berdiri kokoh di barisan depan kebun Malanuza, persis di pinggir jalan raya. Ciri khas Eropa sangat kental di kebun kebanggaan seminari(s) ini.

Di bagian belakang kebun, terbentang luas kebun jagung. Luasnya berhektar-hektar. Kalau musim jagung tiba, menu makan malam di seminari biasanya terdiri atas dua pilihan. Kalau malam ini makan nasi, berarti besok malam makan jagung saja. Begitu seterusnya.

Selain kebun jagung, kebun kopi juga terdapat di bagian belakang Malanuza. Luas lahannya lebih besar dibandingkan kebun kopi yang terdapat di bagian depan. Di bagian paling belakang dari kebun Malanuza, berdiri kokoh pohon-pohon jati dan akasia yang umurnya bahkan jauh lebih tua dari umur kami. Pohon-pohon itu bak pembatas dan pelindung kebun Malanuza. Di situlah keunggulan tanah Mataloko. Sangat subur. Apa saja bisa tumbuh.

Setibanya di Malanuza, kami biasanya langsung berpencar melaksanakan tugas. Entah itu petik jagung atau kopi. Semasa kami, supaya pekerjaan cepat selesai, kami dibagi ke dalam kelompok-kelompok meja makan. Satu kelompok meja makan, misalnya, harus bertanggungjawab memetik 1 karung kopi atau 2 karung jagung. Jika sudah selesai, kami boleh pulang ke seminari lebih awal. Tapi, biasanya banyak yang suka berlama-lama. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekali memetik, dua tiga jagung, kopi dan jeruk, masuk ke dalam karung. Kami selalu bisa memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

Setelah selesai, semuanya harus dikumpulkan di gudang. Ada yang diangkut dengan traktor, ada pula yang harus terpaksa pikul sendiri. Biasanya, kami pulang kembali ke asrama sekitar sore hari, menjelang jam olahraga atau jam belajar. Pada saat pulang pun, kami lebih suka naik di atas traktor. Mungkin sesuatu yang aneh, tapi ada kegembiraan tersendiri ketika kami duduk di atas traktor, di atas tumpukan jagung, sambil menghirup udara bebas nan segar, disejukkan dengan angin Mataloko yang berhembus sepoi-sepoi. Traktor itu kemudian dengan gagahnya melewati jalanan Mataloko, menaklukkan beberapa tanjakan sebelum akhirnya sampai ke asrama. Selain menggunakan traktor, beberapa teman malah lebih suka berjalan kaki, dengan tujuan memperlama waktu di luar asrama. Ada juga yang gantung di beberapa bis Ende-Bajawa atau Maumere-Bajawa yang kebetulan lewat.

Itulah Malanuza. Kami selalu punya kisah tentang Malanuza, Taman Eden-nya seminari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar