Senin, November 22, 2010

Bahasa Asing di Seminari

Sumber: In Dei Providentia

Bahasa Belanda

Bahasa Belanda sudah diajarkan sejak di Kelas 1 Seminari dengan jadwal yang padat. Para siswa dituntut menguasai bahasa tersebut baik secara pasif maupun aktif. Mereka dituntut untuk menyimak dan memahami pembicaraan orang dan bacaan-bacaan. Mereka juga harus dapat berbicara dan menulis karangan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan sendiri dalam bahasa itu. Di Kelas 2, bahasa tersebut menjadi bahsa pengantar. Karena itu, pengajaran Bahasa Belanda dijalankan amat intensif dan berlangsung tidak hanya di dalam kelas, tetapi juga di luar jam-jam pelajaran. Para siswa harus sering membaca buku-buku berbahasa Belanda; mereka harus bisa memahami isi bacaan itu dan menuliskan intisarinya. Istilah-istilah harus dihafalkan karena nanti harus dipergunakan dalam percakapan sehari-hari dan dalam karangan wajib. Karangan wajib dibuat sekali per minggu dan diberi nilai. Mula-mula karangan pendek dan setelah naik kelas yang lebih tinggi, karangan harus dapat memenuhi syarat-sarat komposisi dengan gramatika dab idiomatika yang baik serta isi yang logis. Para siswa juga harus mendengarkan pelajaran dalam bahasa Belanda dan harus dapat menangkap maksudnya. Di setiap tingkatan, pelajaran bahasa Belanda diberikan dengan cakupan yang semakin luas sampai pada kesusasteraan Belanda, di mana buku-buku sastra Belanda menjadi bacaan wajib.

Keharusan menguasai bahasa Belanda tidak hanya merupakan tuntutan akademis, tapi terlebih tuntutan kehidupan. Di Kelas 2, bahasa Belanda menjadi bahasa pengantar. Di luar jam pelajaran, bahasa Belanda menjadi bahasa pergaulan sehari-hari. Lingkungan pergaulan para imam dan seminaris adalah lingkungan Belanda.

Bahasa Latin

Seperti bahasa Belanda, bahasa Latin sudah diajarkan sejak di Kelas 1. Mulai tahun 1934, bahasa Latin diajarkan mulai Kelas 2. Betapapun sukar, kerja keras pembina membuahkan hasilnya. Di Kelas 3, para siswa sudah dapat menerjemahkan buku klasik karangan Julius Caesar berjudul De Bello Galico (Tentang Perang Galia). Di Kelas 4, para siswa menerjemahkan karya sastra Ovidius, seorang pujangga klasik Roma dan di Kelas 5 menerjemahkan karya Cicero dan Salustius. Di kelas terakhir, Kelas 6, mereka membaca buku Analia karangan Tacitus dan Confessio karangan Agustinus. Bahasa Latin menjadi primadona di seminari. Setelah tamat Kelas 6, para siswa harus menambah satu tahun ekstra lagi untuk menyelesaikan materi pelajaran Bahasa Latin.

Bahasa Jerman dan Inggris

Bahasa Jerman diajarkan di seminari oleh para imam berkebangsaan Jerman. Bahasa ini dipelajari selama 4 tahun, mulai Kelas 3 sampai Kelas 6. Tujuannya agar para siswa dapat membaca buku-buku dalam bahasa Jerman.

Bahasa Inggris sendiri awalnya diberikan di Kelas 4 sampai Kelas 6. Tujuannya adalah agar siswa dapat membaca buku-buku dan memahami percakapan dalam bahasa Inggris.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar