Kamis, November 18, 2010

Empat Pelindung Maumere dan Sikka

Jika sekilas kita melihat dan mengamati Kabupaten Sikka, wilayah ini tampak seperti kebanyakan kabupaten di Flores. Mayoritas wilayahnya terdiri atas dataran landai yang kering. Namun, jauh dari unsur kegersangan. Selebihnya, adalah dataran tinggi. Itu pun hanya di bagian selatan kabupaten. Topografi khas Flores. Maklum, Kabupaten Sikka adalah kabupaten dengan wilayah terkecil di bilangan Flores. Luasnya bahkan lebih kecil dibandingkan Kabupaten Ende atau Flores Timur.

Banyak julukan yang disematkan pada wilayah ini. Satu yang cukup sering terdengar adalah Kabupaten Nyiur Melambai. Maklum, mayoritas wilayah ini ditutupi perkebunan kelapa. Entah itu perkebunan rakyat atau yang diusahakan komunitas-komunitas Katolik. Itulah alasan kenapa Nyiur Melambai menjadi julukan kabupaten ini.

Terletak persis di pesisir utara Pulau Flores, Kota Maumere menjadi ibu kota kabupaten ini. Konon, nama Maumere terdiri atas dua kata Lio, yaitu Mau yang berarti besar dan Mere yang berarti pantai. Karena letaknya di bibir pantai, perkembangan kota ini berjalan cukup pesat. Maumere pantas dikategorikan sebagai “kota besar” untuk ukuran Pulau Flores. Selain potensi perkebunan dan pertanian, potensi pariwisata bahari pun menjadi komoditas andalan kota ini.

Kota Maumere pernah menjadi salah satu tujuan kunjungan Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1989. Pun, kota ini pernah menjadi tuan rumah Perayaan Tahun Maria. Wajar saja jika kota ini kemudian dijuluki Kota Tahun Maria. Hampir sama dengan julukan Kota Reinha Rosari untuk Larantuka. Maklum, perkembangan Katolik di Flores bermula dari dua kota ini.

***

Kota-kota maupun kabupaten di Flores selalu mempunyai ciri khas unik, yaitu ada semacam “pelindung” kota. Larantuka dan Ende adalah dua kota di pesisir timur dan selatan Pulau Flores. Keduanya berdiri megah, memunggungi Gunung Meja dan Ilemandiri. Pemandangan lautan luas di depan dan gunung menjulang tinggi di belakangnya. Sangat eksotis. Bajawa, lain lagi. Kota ini bak sebuah mangkuk. Dikelilingi bukit dan dilindungi Gunung Inerie, kota ini amat sunyi dan sejuk. Amat tenang. Penuh suasana kedamaian. Ruteng pun demikian. Berdiri tegak di ketinggian Flores. Ibarat sebuah singgasana yang berdiri kokoh.

Lain lagi cerita soal Maumere. Kota ini, buat saya yang orang Maumere, amat istimewa. Bukan karena saya dilahirkan dan dibesarkan di kota ini, melainkan karena ada ciri khas Maumere yang amat membanggakan. Salah satunya adalah empat pelindung kota Maumere dan Kabupaten Sikka.

Jika kita masuk Maumere melalui jalur laut, tempat pertama yang kita injakkan kaki kita adalah Pelabuhan Laurens Say. Tapi, bukan itu pelindung yang saya maksudkan. PATUNG KRISTUS RAJA. Itulah pelindung di bagian utara Maumere dan Sikka. Dengan warna kuning keemasan, patung Yesus ini berdiri begitu kokoh, berseberangan dengan Gereja Katedral Maumere. Pernah runtuh pada saat tentara Jepang menduduki Maumere, dibangun lagi menjelang kedatangan Bapa Paus. Tepat ketika Bapa Paus memimpin misa di Gelora Samador, patung ini pun diberkati. Langsung dari tangan His Holiness Pope John Paul II. Wajar saja jika Kristus Raja kemudian menjadi pelindung Keuskupan Maumere.

Dalam bukunya I Remember Flores, Tasuku Sato, Kapten Angkatan Laut Jepang yang menjadi Komandan Angkatan Laut Kerajaan Jepang di Ende–Flores (1943–1945), antara lain menulis sebagai berikut:”Penjaga Kota Maumere adalah sebuah patung Kristus yang berwarna putih, sangat bagus dan hidup. Di pagi hari ketika sinar lembut menimpalinya, patung itu tampak keramat, persis seperti patung Katedral Ende yang diterangi cahaya lilin. Akan tetapi, situasi keramat sekelilingku sekarang mendapat amukan perang. Kegiatan perang yang memanikkan telah menyelinap masuk kewilayah keramat dan tenteram sekitar penjaga Kota Maumere.” Itulah Kristus Raja. Sampai sekarang tetap berdiri kokoh, melindungi Maumere dan Sikka.

Lain di utara, lain pula di selatan. Jika Kristus Raja menjadi pelindung di utara, maka di selatan, Kabupaten Sikka memiliki WATU CRUZ. Dalam bahasa setempat, watu artinya batu, sedangkan cruz artinya salib. Sebuah salib setinggi 3 meter terpancang tepat di atas sebuah batu karang, persis di bibir Pantai Bola, pantai di bagian selatan Kabupaten Sikka. Ya, Portugis menandai Bola dengan Salib. Artinya, Bola sudah dibaptis menjadi katolik. Ditengah hamparan samudera, Salib setinggi 3 meter itu terpampang jelas, tertancap di atas batu karang dan dapat disaksikan dari lintasan jalan raya yang berada di sekitar pesisir pantai. Masyarakat setempat menghayati dan mengimani bahwa yang datang di tahun 1630 ialah Pastor Dominicus dan Fransiskus Xaverius. Sebelumnya, para pastor itu tiba pertama kali di Doreng (wilayah pesisir pantai selatan yang berdekatan dengan Bola). Di Pantai Doreng para misionaris ini juga menggantung sebuah Salib Besar. Kalau di Doreng hanya menggantungkan, tapi di Pantai Bola, Salib itu ditancapkan.

Salib tersebut telah mengalami perbaikan beberapa kali. Di tahun 1939 oleh Pastor Yan Roots SVD dengan misa yang meriah, kemudian tahun 1981 oleh masyarakat Bola sendiri dengan mendapat bantuan dari Bupati Kabupaten Sikka saat itu Drs. Daniel Woda Palle. Tahun 1988 saat Tahun Maria (berlangsung di Gelora Samador da Cunha Maumere), Pater A Groots SVD ikut memperbaikinya. Inilah pelindung di selatan Kabupaten Sikka.

Di bagian barat, Maumere dan Sikka tepat berada di bawah kaki BUNDA MARIA SEGALA BANGSA. Terletak sekitar 7 km dari Maumere, tepatnya di Bukit Keling-Nilo, Desa Wuliwutik, Kecamatan Nita, patung perunggu yang didirikan mulai tahun 2004 ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para peziarah, baik dalam maupun luar negeri. Jika kita berkendara ke Nilo, kita akan melewati jalan lengang dengan hutan bambu di kiri kanan jalan dan akhirnya kita sampai di jalan masuk ke tempat ziarah di bukit Keling-Nilo. Sampai di sini perjalanan jadi menarik. Karena patung Bunda Maria Nilo didirikan tepat di atas bukit, maka mulai dari beberapa kilometer dari bawah bukit kita sudah bisa melihat patung Bunda Maria Nilo yang berdiri anggun dari kejauhan. Pertama-tama patung Bunda Maria terlihat sangat kecil, lalu lama kelamaan semakin besar dan semakin besar. Yang uniknya lagi, seolah-olah kita memutari Bunda Maria, atau seolah-olah Bunda Maria-lah yang memutari kita. Apalagi, suasana di sekeliling jalan masih suasana yang sangat alami, hanya ada padang rumput dan pepohonan. Sungguh hijau dan segar!

Patung yang dibangun oleh Tarekat Pasionis (CP) dengan kerja sama umat ini diberkati dan dibuka secara resmi sebagai tempat ziarah oleh Almarhum Uskup Agung Ende Mgr. Abdon Longinus da Cunha pada 31 Mei 2005, akhir bulan Maria. Tidak lama setelah itu, tepatnya Desember 2005, Keuskupan Maumere kemudian melepaskan diri dari wilayah Keuskupan Agung Ende. Bagi umat katolik Maumere, ini tentu merupakan berkat yang tidak terhingga. Sampai sekarang mereka percaya, campur tangan Bunda Maria-lah yang memungkinkan hal itu terjadi. Bunda Maria adalah ibu yang melindungi anak-anaknya di Maumere dan Sikka secara keseluruhan.

Di bagian timur, GUNUNG EGON berdiri angker. Seiring dengan meletusnya “Mbah dari seluruh gunung api di Indonesia” Gunung Merapi, Egon mulai menunjukkan aktivitasnya. Berita terakhir menyebutkan satu-satunya gunung berapi di Sikka itu mulai mengepulkan asap dan memancarkan sinar api dari kawahnya sebagai tanda bahwa aktivitas gunung itu terus meningkat dengan intensitas kegempaan tinggi. Terlepas dari semua itu, Egon adalah penjaga Sikka dan Maumere di sisi timur. Kesuburan tanah dan air yang berlimpah, bisa dinikmati masyarakat di bagian timur kabupaten ini. Sungguh, sebuah kekuatan alam yang menghidupkan.

***

Empat pelindung tersebut memberikan gambaran sifat dasar orang Sikka dan Maumere. Sangat religius dan sangat kuat memegang adat istiadat setempat. Tujuannya, agar hubungan manusia dan alam berjalan harmonis. Orang Sikka dan Maumere itu sangat menjunjung tinggi ajaran agama dan adat istiadat. Agama dan adat selalu diposisikan sejajar dan selalu mengalami perpaduan. Inkulturasi agama dan budaya itulah yang membuat orang Sikka menjadi kuat dan tidak gampang dipengaruhi kekuatan-kekuatan asing dari luar. Seperti ini jugalah orang Flores pada umumnya.

Jakarta, menjelang akhir November 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar