Rabu, November 17, 2010

Mengubah Flores yang Tandus Menjadi Lahan Pertanian Jarak

Harian Kontan, 18 November 2010

Melalui tangan Elias Tona Moning, sebagian wilayah di Flores Tengah yang terkenal tandus, berubah menjadi lahan pertanian jarak. Dengan menggandeng warga di sejumlah desa di Kabupaten Sikka melalui sistem bagi hasil, doktor dari University of Massachusetts ini memproduksi minyak jarak untuk dijual ke perusahaan-perusahaan besar di Indonesia.

***

FLORES selama ini terkenal sebagai daerah yang sangat kering dengan curah hujan yang sangat rendah. Khususnya di bagian tengah pulau tersebut, yang masuk Kabupaten Sikka. Curah hujan di wilayah ini hanya 268 mm setahun. Tak heran, lahan di kawasan tersebut sangat sulit untuk ditanami.

Namun, Elias Tona Moning mampu menggerakkan masyarakat sekitarnya untuk mengubah daerah tandus tersebut menjadi lading jarak yang bisa mendongkrak taraf hidup penduduk di sana.

Tanaman bernama latin Jathropa curcas ini memang mampu tumbuh dan bertahan di daerah tandus. “Apalagi, banyak lahan kosong di Flores yang pemanfaatannya belum optimal,” ujarnya.

Melalui Outreach International Bioenergy, sejak 2007 lalu, Elias merangkul warga berbasis desa atau paroki gereja untuk memanfaatkan lahan mereka, dengan bercocok tanam jarak. “Sosialisasinya lumayan sulit, karena tanaman ini kurang familiar,” ungkap dia.

Yang pertama kali berminat menanam jarak adalah penduduk Desa Nawateu. Tapi, belakangan mereka membatalkannya setelah ada tawaran Program Gerakan Menanam Lahan yang datang satu bulan setelah program menanam jarak Elias. Maklum, program Kementerian Kehutanan itu cukup menggiurkan. Warga desa tidak cuma mendapatkan bibit pohon, tapi juga uang.

Tapi akhirnya, Gerakan Menanam Lahan tak berjalan. Sebab, bibit diberikan pada saat yang tidak tepat, yakni pada musim kemarau. “Akibatnya, uang diambil oleh para petani, namun bibit dibiarkan begitu saja, tidak ditanam,” ungkap Elias.

Beruntung, penduduk Desa Done kemudian merespon tawaran Elias, yang diikuti warga dari dua desa lainnya. Elias memberikan bibit jarak dan pupuk secara cuma-cuma alias gratis. Tidak Cuma itu, ia juga memberikan bimbingan tentang cara menanam jarak.

Bibit jarak ditanam di lahan milik pemerintah yang diberikan hak gunanya kepada warga desa, lahan adat milik bangsawan dengan pemberian upeti sebagai balas jasa atas hak guna, dan lahan milik pribadi. “Kami memberikan bagi hasil sebesar 10% dari keuntungan untuk petani, sesuai dengan luas lahannya,” ujar Elias.

Menurut Elias, minyak jarak yang berasal dari biji jarak kering dapat dimanfaatkan sebagai bioenergi. “terutama untuk bahan bakar mesin diesel sebagai pengganti solar,” jelasnya.

Setiap 4 kg biji jarak kering dapat menghasilkan 1 liter minyak jarak. Harga biji jarak kering sebesar Rp 1.500 per kg. Berarti 1 liter minyak jarak dibanderol dengan harga Rp 6.000. “Kendala memasarkan minyak jarak adalah harganya yang masih lebih mahal dibandingkan solar bersubsidi yang Rp 4.500 seliter,” kata Elias.

Tetapi, minyak jarak lebih ramah lingkungan. Untuk penggunaannya, minyak jarak dicampur ethanol dengan komposisi 90:10, agar tidak terlalu kental. “Minyak jarak berfungsi sebagai sumber energy alternative yang lebih ramah lingkungan karena bebas sulfur,” ujarnya.

Beberapa perusahaan pelat merah, seperti PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan PT Pertamina sudah menggunakan energy alternatif ini. “Perusahaan-perusahaan tersebut membeli minyak jarak seharga Rp 6.500 per liter dari saya,” kata Elias.

Sebetulnya, ia juga berencana mengekspor minyak jarak produksinya. Namun, “Kebanyakan perusahaan asing hanya mau membeli dengan harga Rp 4.000 per liter. Terpaksa saya tolak,” ujar Elias.

Ke depan, Elias bakal memanfaatkan minyak jarak sebagai bahan campuran bahan bakar pesawat atawa avtur, dengan perbandingan 50:50. Pasalnya, “Air New Zealand sudah menerapkan bahan bakar ini,” kata penulis buku Reinventing Indigenous Knowledge-The Indonesian Integrated Pest Management Farmers Experiences from Traditional to Eco-Agriculture ini.

Namun, dalam jangka pendek Elias akan mengembangkan komoditas lain. Bila tak ada aral melintang, akhir bulan ini, ia akan membudidayakan lebah madu dan menanam jati emas.

Lebah madu juga berfungsi sebagai penyerbuk (polinasi) untuk meningkatkan produktivitas buah jarak dan mengurangi kerontokan bunga. “Diharapkan komoditas baru ini akan lebih meningkatkan pendapatan para petani,” kata dia.

Para petani yang kini menjadi mitranya, dulu hanya menanam tanaman pangan, seperti jagung, ketela, ubi, dan kacang-kacangan untuk konsumsi pribadi alias berpenghasilan nol. Kini, dengan program penanaman jarak dan jati emas ditambah budidaya lebah madu, petani di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, memperoleh keuntungan lebih besar lagi. “Proyeksi keuntungan bersih untuk tiap petani per bulannya mencapai Rp 1,2 juta setiap satu hectare lahan,” kata Elias yang bergelar doktor dari University of Massachusetts, Amerika Serikat.

Ia juga berencana membudidayakan tanaman akar wangi di Flores. Tanaman ini juga berfungsi sebagai penahan air. Sementara, minyaknya diolah menjadi minyak atsiri. Harga per kilonya bisa US$ 350. “Akan saya realisasikan tahun depan,” ujar pria berdarah Flores-Betawi ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar