Kamis, November 11, 2010

Nicholas Saputra: FLORES, Berlian Tak Tersentuh

Gunung dan pantainya sudah saya jelajahi. Inilah pulau terindah di nusantara.

Setiap kali saya, Nicholas Saputra, ditanya oleh teman, di manakah tempat tujuan liburan alternatif selain Bali atau Lombok, Pulau Flores selalu menjadi jawaban pertama yang saya berikan. Perjalanan ke pulau ini selama 7 hari, begitu mengena di hati dan ingatan saya. Keindahan alamnya sulit diungkapkan dengan kata-kata.

“Pintu Gerbang” Taman Komodo

Flores memiliki kota-kota penting dalam peta priwisata Indonesia. Labuan Bajo di ujung barat pulau ini adalah pintu masuk bagi wisatawan yang ingin mengunjungi Taman Nasional Komodo. Taman nasional tempat konservasi hewan langka peninggalan zaman purbakala ini sudah sejak lama didatangi wisatawan. Tentunya wisatawan yang datang juga tidak melewatkan untuk menyinggahi pulau-pulau kecil di sekitarnya.

Kapal-kapal asing dari berbagai negara bersandar sejajar dengan perahu nelayan dan kapal feri yang membawa saya ke dermaga Labuan Bajo. Saya perhatikan, tempat yang jauh ini ternyata diramaikan oleh turis mancanegara yang menyusuri jalanan kota, sambil sesekali mereka berbicara dengan tour guide. Dari Labuan bajo, saya memilih menyewa mobil untuk membawa saya mengeksplorasi pulau ini.

Ruteng, kota terdekat dari Labuan Bajo, kota tempat saya menginjakkan kaki pertama di Flores, begitu mengesankan. Dengan mengendarai mobil, ibu kota Kabupaten Manggarai ini dapat ditempuh sekitar 3 jam. Kota dengan ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut ini ternyata juga dikenal sebagai produsen kopi terbaik di Pulau Flores.

Dikelilingi perkebunan kopi, Ruteng menyimpan peninggalan budaya berupa rumah adat, yang konon sudah ada sejak zaman megalitikum. Angan saya melayang ke masa lalu, membayangkan kehidupan masyarakat setempat, entah berapa ratus atau berapa ribu tahun yang lalu. Dan hingga kinim keasrian alamnya masih sangat mengagumkan.

Karena kehabisan kamar hotel, saya terpaksa menginap di rumah penduduk setempat, seorang kepala sekolah SMA di Ruteng. Tapi, saya justru bersyukur, bisa mendapat banyak cerita tentang sejarah warga setempat. Masyarakat Manggarai, yang mendiami Ruteng, dikisahkan adalah keturunan dari Minangkabau. Memang, jika dibandingkan dengan daerah lain di Flores, masyarakat Manggarai memiliki perbedaan fisik. Kulit mereka lebih terang dengan rambut bergelombang. Berbeda dari masyarakat di kabupaten lain di Flores, seperti Ngada, yang kulitnya lebih gelap dan berambut keriting.

Sunrise & Sunset di Ende

Saya juga berkesempatan mengunjungi Bajawa, ibu kota Kabupaten Ngada. Sebuah kota yang sangat cantik. Kota ini dikelilingi bukit dan pegunungan, membuatnya terlihat seperti berada dalam sebuah mangkuk. Belakangan, saya diberitahu warga setempat, dari situlah nama Bajawa berasal. Kata ‘ba’ berarti mangkuk, dan kata ‘Jawa’ konon diambil dari nama Pulau Jawa. Alkisah, pada zaman Majapahit, banyak orang dari Pulau Jawa yang hijrah dan menghuni kota ini.

Berkeliling di Kota Bajawa, saya menemukan rumah-rumah dengan atap berbentuk limasan, khas rumah adat Jawa. Bahkan, beberapa terlihat persis seperti atap rumah joglo.

Kampung adat di daerah ini berbeda dari yang saya temui di Ruteng. Jika di Ruteng, kampung adat berbentuk melingkar, mengelilingi makam para leluhur, sementara di Ngada bentuk kampungnya memanjang, rumahnya saling berhadapan. Namun, mereka memiliki ciri yang sama, yakni terdapat makam para leluhur dan makam anggota keluarga mereka di halaman rumah maisng-masing.

Berikutnya, saya mengunjungi kampung adat Bena. Tempat ini sering juga dikunjungi para peneliti budaya dan antropologi. Peninggalan (tradisi maupun artefak) mereka yang luar biasa ini terletak di kaki Gunung Inerie. Gunung yang memiliki bentuk kerucut hamper sempurna ini merupakan gunung yang sangat dihormati oleh masyarakat sekitar. Inerie juga merupakan tujuan para pendaki gunung yang ingin menaklukkan puncaknya yang gersang dan berbatu.

Dari Bajawa berkendara ke arah timur selama 4 jam, maka kita akan tiba di Ende. Kota ini adalah tempat diasingkannya Presiden Soekarno oleh pemerintah Hindia Belanda pada 1938. Rumah sederhana yang dulu ditinggali Soekarno ini kini masih berdiri tegak, di Jl. Perwira, Kota Ende.

Kota Ende berbentuk tanjung yang menjorok ke arah Laut Sawu di selatan Flores. Ada dua pantai yang berada di sisi timur dan barat yang membuat saya bisa menikmati sunrise dan sunset di kota ini.

“Kota Suci” Larantuka

Saya melanjutkan perjalanan ke ujung timur pulau ini, Larantuka. Perjalanan ke Larantuka dari Moni melewati Maumere. Pemandangan sepanjang perjalanan dari Maumere ke Larantuka adalah pemandangan terindah. Di kanan-kiri jalan bisa kita temukan pastoran dan susteran yang tertata apik dengan pohon-pohon ditanam teratur di pintu gerbangnya. Pohon kapuk yang berjajar di sepanjang jalan terkadang melepaskan kapuknya yang beterbangan ditiup angin.

Kota Larantuka tidak kalah indah, dengan pemandangan di perjalanan menuju ke sana. Kota ini menghadap ke timur dan memunggungi sebuah gunung di belakangnya. Setiap tahun, saat Paskah, kota yang dihiasi gereja-gereja, patung Bunda Maria dan Kristus Raja ini menjadi tujuan bagi umat Katolik dari seluruh Indonesia.

Di tepi pantai terdapat Jalan Salib, yang biasa digunakan umat Katolik untuk melakukan prosesi keagamaan. Prosesi peribadatan di Larantuka masih sangat kental dengan budaya Portugis, yang membuatnya unik.

Danau Kelimutu yang Magis

Mengunjungi Flores belum sah bila tidak ke Kelimutu. Gunung ini memiliki 3 kawah yang menjadi danau dengan 3 warna air berbeda. Warna dari ketiga kawah ini selalu berganti dalam jangka beberapa tahun. Masyarakat sekitar Kelimutu percaya, perubahan warna air danau merupakan isyarat terjadinya hal penting. Misalnya, bila warna air danau berubah dari turquoise ke hijau, maka hasil panen akan melimpah. Bila warna air hitam berubah menjadi merah, maka aka nada bencana yang datang.

Untuk mengunjungi Gunung Kelimutu, saya menginap di Kampung Moni. Di situ terdapat penginapan-penginapan sederhana yang bisa ditinggali. Tarifnya sekitar Rp200.000. Ada cerita unik ketika di sini. Penginapan saya bersebelahan dengan kandang babi! Wah… Pengalaman yang belum pernah saya temui sebelumnya.

Tak perlu khawatir soal makanan. Di tempat yang lokasinya cukup terpencil ini saya malah tidak kesulitan menemukan tempat makan yang menyediakan hidangan ala Barat, seperti pasta dan sandwich. Mengejutkan, bukan? Mungkin, hal ini terjadi karena seringnya turis mancanegara mampir di kampung ini.

Biasanya, keindahan Kelimutu dinikmati pada pagi hari ketika matahari terbit. Perjalanan dari Kampung Moni dilakukan sejak pukul 3 pagi dengan berkendara hingga puncak gunung. Dari tempat parkir mobil, untuk bisa melihat kawah 3 warna, hanya membutuhkan waktu 10-15 menit. Jika beruntung, kita akan melihat warna ketiga danau itu tersiram oleh cahaya matahari pagi. Kilauan bebatuan di sekeliling sawah membuat suasana begitu magis dan megah. Namun, bila kabut dan mendung datang, jangan harap dapat melihat warna air danau. Melihat teman yang berjalan di depan kita saja, sulit.

Daya Tarik dari Bawah Laut

Belum habis ‘tersihir’ oleh kecantikan sudut-sudut kota di Flores, pulau-pulau di sekitar Taman Nasional Komodo ternyata juga menyimpan keindahan bawah laut yang luar biasa.

Dive site seperti Batu Colong dan Castle Rock adalah beberapa di antara lokasi penyelaman yang sangat terkenal dari perairan Taman Nasional Komodo. Air lautnya sangat jernih. Bahkan, dari atas perahu pun, keindahan karang dan ikan-ikannya sudah terlihat. Meski demikian, para penyelam pemula tidak disarankan menyelam di sini, sebab arusnya cukup kuat.

Ketika pagi hari saya menyelam di kedalaman Castle Rock, saya menjumpai ikan-ikan besar yang sedang berkumpul mencari makan. Saya melihat beberapa hiu seliweran tak jauh dari tempat saya menyelam. Tapi, saya tak takut. Setahu saya, hiu hanya makan ikan. Mereka tak akan memangsa manusia, selagi masih banyak makanan mereka tersedia. Yang saya takutkan hanya trigger fish. Ikan ini ukurannya lebih kecil dari hiu, giginya juga hanya dua, tapi cukup berbahaya jika menggigit. Dalam hati saya berdoa, semoga tak bersua dengan mereka.

Tak puas hanya di situ, saya juga menyelam di perairan Karang Makassar. Saya berharap bisa bertemu manta ray. Dengan kedalaman 10-12 meter, tak hanya satu yang saya temui, tapi ada segerombol manta ray yang sedang melintas. Mungkin jumlahnya sekitar seratusan. Sungguh mengagumkan!

Dunia bawah air Flores merupakan wilayah konservasi. Penyelam tak boleh menggeser apa pun, menyentuh ikan, atau terumbu karang. Beberapa pantai di sini terlarang untuk aktivitas nelayan.

Bagi Anda yang menyukai snorkeling, Pantai Merah atau Pink Beach, adalah tempat yang masuk dalam daftar yang harus dikunjungi. Terumbu karang di pantai ini sangat indah dan belum terjamah. Pasirnya berwarna merah muda. Ini terjadi karena banyaknya pipe coral berwarna merah tua, yang hidup di sekitar pantai. Ketika pipe coral mati, maka akan hancur tergerus dan terbawa ombak, lalu bercampur dengan pasir putih, menciptakan warna kemerahan.

1 komentar:

  1. saya tdk meragukan utk itu...
    kita hanya butuh sentuhan fasilitas penunjang dan promosi....
    jgn lupa intip link ini sebagai bagian promosi kita.. salam...

    http://www.youtube.com/watch?v=3NP6BHdvfYE

    BalasHapus