Minggu, November 14, 2010

Orang Flores Bernyanyi Tanpa Berharap Pamrih dan Pujian

Dari: www.inimaumere.com

Orang Flores umumnya mewarisi bakat musik yang sangat kental. Dimana-mana orang menyanyi, menari dan bergembira. Dalam keadaan sulitpun mereka tetap bersenandung. Meski masyarakat diwilayah ini akrab dengan kekurangan pangan, kelaparan (melarat), memang ada benarnya. Tapi jika Anda datang ke Flores Anda akan dengan mudah menemukan suasana yang segar. Nyanyian orang-orang Flores sudah indentik dengan keseharian warga setempat.

Bukankah Flores itu pulau miskin? Tempatnya orang susah? Mungkin ini benar adanya. Tapi sejak dulu warga setempat tidak merasa miskin. Meski kemisikinan itu meliliti hidup warga sehari-hari, tapi warga tidak merasa miskin. Malah dalam kondisi demikian, mereka juga tetap bersenandung merdu.

Musik, menyanyi dan menari bersama selalu seiring sejalan. Tiga aspek itu seolah membebaskan rakyat dari belenggu tekanan hidup nan berat. Nyanyian itu ibarat pelipur lara.

Yang menyanyi tak hanya anak-anak atau remaja dan anak-anak sekolah. Kakek-kakek 60-an tahun yang duduk ditangkai pohon lontar untuk mengambil nira (dijadikan tuak) juga selalu bersenandung, menyanyi dengan mudah.

Para nelayan menyanyi. Anak-anak menyanyi, ibu-ibu bersenandung sambil memutar alat pembuat benang atau menggarap tenun ikat. Itu semau dilakukan secara alamiah, spontan, tak mengharap pamrih atau pujian dari siapapun.

Karena itu tak salah kalau sejumlah penulis bahkan peneliti menuliskan kesan-kesannya bahwa Pulau Flores dari ujung barat hingga ujung timur, tak hanya pulau bunga tapi juga ‘pulau musik’.

Musikalitas orang Flores itu terasa sekali di Gereja Katolik di seluruh Flores bahkan Indonesia. Begitu banyak lagu-lagu liturgi inkulturasi dibawakan umat Katolik Indonesia adalah buah dari musik Flores.

Pelatih-pelatih koor, solis, penggubah lagu-lagu gereja sebagian besar berasal dari Flores, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Bahkan Pusat Musik Liturgi (PML) Jogja pun paling banyak menggelar lokakarya komposisi musik liturgi di Flores.

Adak Jap Kunst (1942), peneliti musik yang paling banyak melakukan riset tentang musik di Indonesia sebelum kemerdekaan.

Dia menulis:

“Sebenarnya menurut saya penduduk Flores lebih berbakat musik daripada suku-suku di Indonesia terkenal lainnya seperti Sumatera, Jawa dan Celebes. Saya pernah mendengar suara-suara yang cukup bagus menyanyikan nyanyian yang pas. Itu berbeda dengan yang ada di Flores. Banyak laki-laki bersuara sangat merdu, sambil menyanyikan lagu-lagu sederhana di tepi sungai, masih terngiang ditelinga saya, melodi yang juga sangat menyenangkan orang Eropa.”

“........ dan dimana orang Flores yang mendayung dengan tanpa menyanyikan pantunnya, lengkap dengan solis dan bagian pengulangan yang dinyanyikan dalam paduan suara? Diantara para solis tedapat suara-suara yang dengan latihan yang lebih baik dapat menjadi suara tenor, sopran dan bass yang baik.” (kunst, 1942, hlm 11). (*/kro/dari berbagai sumber/ Flores Star)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar