Selasa, November 30, 2010

Suatu Malam di Clarke Quay

“Are you a Singapore citizen?” Saya memulai perbincangan.

“No. I’m working here, but I am a Lithuanian,” jawabnya.

Perbincangan kami mulai dari situ. Udara malam yang segar di Clarke Quay turut mendukung perbincangan malam itu. Mulai dari hal-hal ringan, seperti hobi, pekerjaan, kuliah, sampai pada hal-hal yang lumayan “berat”, seperti politik, isu lingkungan hidup, kota yang ideal dan lain-lain.

Banyak hal yang bisa saya pelajari dari orang Lithuania ini. Secara fisik, penampilannya tidak jauh beda dengan kebanyakan orang Rusia atau Eropa Timur. Putih, tinggi, dengan rambut kuning keemasan. Ciri khas orang Eropa Timur. Sangat berbeda dengan orang-orang Eropa Utara yang warna kulitnya lebih kekuningan atau dengan orang Eropa Selatan. Namanya Gathan.

Waktu saya hampiri dan saya ajak ngobrol, dia tanpa sungkan mau berbagi banyak hal tentang Lithuania. Saya pun jadi tahu banyak tentang Lithuania, sebuah negara kecil yang terletak berdampingan dengan Swedia, Finlandia dan negara Eropa Timur lainnya. Satu hal yang dia banggakan dari Lithuania bahwa “Lithuania is similar with Singapore,” katanya. Negaranya kecil, dengan jumlah penduduk tidak jauh beda dengan Singapura. Di sana, bangunan tua sangat dirawat dan dilestarikan. Kotanya tertata rapi dengan nuansa hijau di mana-mana. Walaupun mayoritas warganya beragama Katolik, mereka lebih suka merayakan Natal di rumah masing-masing bersama keluarganya. Menghidangkan banyak masakan untuk dinikmati anggota keluarga. Sangat sedikit yang mau pergi merayakan Natal di gereja.

Kaum mudanya Lithuania dia sebut dengan istilah new thinker. Ini untuk membedakan kaum muda dan kaum tua Lithuania. Kaum tua biasanya lebih konservatif. Sangat menjunjung nilai agama, budaya dan adat istiadat Lithuania. Hampir semua orang tua di Lithuania tidak mau dan tidak bisa berbicara bahasa Inggris. “They always speak Lithuanian. In public places, you will only find words in Lithuanian,” jelasnya. Saya sejenak berpikir. Negara ini pasti seperti Perancis. Sangat menghargai bahasa nasional mereka. Namun, mengapa ini tidak terjadi di Indonesia? Bahasa sehari-hari orang Indonesia sangat kacau. Bercampur-aduk dengan berbagai bahasa gaul dan bahasa impor.

Lain bahasa, lain pula soal kehidupan anak muda. Bagi dia, anak muda Lithuania tidak jauh berbeda dengan anak muda Singapura. “They always go for parties. And, most of them speak English,” ujarnya. Mungkin ini yang dia maksudkan dengan new thinker. Anak muda Lithuania tidak terlalu terikat dengan adat istiadat Lithuania yang cukup mengikat.

Sebelum bekerja di Singapura, Gathan terlebih dahulu bekerja di India selama kurang lebih 1 tahun. Hal ini membuat dia cukup nyaman tinggal di Singapura karena jumlah warga India di Singapura terbilang banyak.

“So, have you ever been in Indonesia?”

“No. But, I’m thinking of visiting Indonesia,” katanya. “Ehmm, from mass media, I heard that Indonesia is a corrupt country. There are also so many robbers, killers and criminals happen there. And the Indonesians don’t really obey the traffic light. Although it’s red, they will still go on. Am I right?”

Sebuah pertanyaan yang sangat menusuk. Nilai jual Indonesia jatuh. Korupsi, kriminalitas dan ketidaktaatan terhadap hukum adalah beberapa hal yang menjadi pendapat Gathan tentang Indonesia. Negara yang kita banggakan ini, bagi seorang anak muda Lithuania, ternyata hanya sebuah bangsa dengan tingkat korupsi, kriminalitas dan pelanggaran hukum yang tinggi.

Waktu menunjukkan Pkl 11.30. Sudah hampir 3 jam kami berbincang. Saatnya harus kembali ke peraduan. Thanks, Gathan. Terima kasih untuk pendapatmu tentang Indonesia. Seperti itulah negara kami.

Awal Desember, 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar