Minggu, November 14, 2010

Viva Santo Pedro!

Dari berbagai sumber

Ada lima tempat yang dikunjungi Paus Yohanes Paulus II (almarhum) pada 1989, yakni Jakarta, Jogjakarta, Maumere (Flores), Medan, dan Timor Timur. Waktu itu Timtim masih menjadi bagian dari Indonesia. Kunjungan ke Flores paling heboh dan unik.

Presiden Soeharto berserta menteri-menteri 'Kabinet Pembangunan' plus ABRI saat itu agak ketar-ketir dengan rencana Paus Yohanes Paulus II menginap satu malam di Maumere, Flores. Bukan apa-apa. Pemerintah RI khawatir dengan keselamatan Sri Paus, yang nota bene Very-Very Important Person (VVIP).

Kenapa harus di Flores? Kenapa tidak menginap di Jakarta atau Denpasar saja? Lagi pula, Flores tidak punya hotel yang layak untuk menampung Sri Paus beserta rombongan besar. Jangankan hotel berbintang, mencari hotel melati di Flores dan tempat-tempat lain di Nusa Tenggara Timur (NTT) umumnya sangat sulit.

Tapi, Sri Paus asal Polandia ini, melalui Duta Besar Vatikan di Jakarta, menegaskan, tetap akan tinggal satu malam di 'pulau bunga' Flores. Kabarnya, ia ingin melihat dari dekat situasi umat Katolik di sana yang populasinya di atas 90 persen.

Di Flores, khususnya Kabupaten Sikka, juga ada dua seminari tinggi yang sangat terkenal: Seminari Tinggi Ledalero dan Seminari Tinggi Ritapiret. Ledalero menjadi tempat penggodokan para pastor Societas Verbi Divini (SVD) yang berorientasi internasional, dengan moto 'dunia adalah paroki kami'. Ritapiret menjadi tempat pembibitan para imam praja yang akan berkarya di wilayah Gereja Nusa Tenggara.

Nah, Sri Paus ingin merasakan langsung suasana seminari alias Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) di Flores itu. "Ini yang membuat beliau ngotot menginap di Flores, selain karena umat Katolik di Flores memang mayoritas. Sebagai gembala, dia ingin mengenal dari dekat domba-dombanya," ujar Pastor Antonius Waget SVD, alumnus Seminari Tinggi Ledalero.

Singkat cerita, sebulan sebelum kunjungan bersejarah ke Flores itu kawasan seminari 'disterilkan' oleh aparat keamanan dari Jakarta. Kamar-kamar seminari ditata sedemikian rupa untuk menyambut Bapa Suci yang juga kepala negara Kota Vatikan itu. Kamar-kamar seminari direnovasi total agar layak didiami Sri Paus dan ratusan anggota rombongan. "Sibuk luar biasa waktu itu," kenang Anton Waget.

Seminggu sebelum hari-H, ratusan warga Flores dari lima kabupaten (Manggarai, Ngada, Ende, Sikka, Flores Timur) sudah bergerak ke Maumere. Asal tahu saja, jalan raya di sepanjang Flores (trans-Flores) saat itu sangat buruk dan sempit.

Jarak Larantuka (Flores Timur) ke Maumere yang 'hanya' 136 kilometer makan waktu delapan hingga sembilan jam. Jika mogok di jalan, bisa lebih lama lagi. Tapi, begitulah, pekan pertama Oktober 1989 itu warga Flores rela bolos atau tidak bekerja agar bisa mengikuti misa agung di Maumere.

Seperti di Jogjakarta dan Medan, misa di Flores pun sangat kental dengan nuansa inkulturasi. Umat dari lima kabupaten seakan-akan berlomba untuk menampilkan tari-tarian dan musik tradisional untuk Sri Paus. "Kunjungan yang mengesankan," ujar Paus Yohanes Paulus II.

Ada lagi cerita ringan di balik kunjungan ke Flores. Kebetulan di sana ada Prof Dr Josef Glinka SVD, pastor dan antropolog asal Polandia, satu negara dengan Sri Paus. Pater Glinka, yang kini pindah ke Surabaya dan menjadi guru besar antropologi di Universitas Airlangga, kebagian tugas khusus.

Selain mendampingi dan menjadi penerjemah Sri Paus dalam bahasa Polandia, meski Sri Paus yang satu ini poliglot (menguasai banyak bahasa), Glinka berperan sebagai konsultan bagi penyedia masakan bagi Sri Paus.

Asal tahu saja, selain pakar antropologi ragawi, Pater Glinka punya hobi memasak di dapur. Sebagai warga Polandia, tentu saja Pater Glinka tahu persis makanan kegemaran Sri Paus. Menurut dia, Paus Yohanes Paulus II sebenarnya tidak rewel dalam soal makanan. Karena itu, ketika berada dua hari di Flores tidak ada persoalan serius. Sri Paus tetap sehat dan melanjutkan perjalanan ke Timor Timur.

Status Timtim di dunia internasional pada 1989 belum jelas. Secara de facto, Timtim diklaim sebagai provinsi ke-27 Indonesia karena 'berintegrasi' pada 1976. Namun, di sisi lain Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan dunia internasional tidak mengakuinya. Vatikan sendiri pun masih menganggap Timtim sebagai wilayah yang belum punya pemerintahan sendiri.

Konsekuensinya, Keuskupan Dili yang dipimpin Mgr Carlos Filipe Ximenes Bello (waktu itu) tidak masuk Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Kalaupun Mgr Bello kerap mengikuti acara-acara KWI di Jakarta, misalnya, statusnya hanyalah 'peninjau'.

Nah, karena itu, kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Timtim punya implikasi politik luar biasa. Pemerintah RI jelas berkepentingan agar Sri Paus menggunakan forum kunjungan ini untuk mengakui status Timtim sebagai bagian dari NKRI. Paus Yohanes Paulus II tentu saja tak ingin terjebak dalam perangkap politik. Dengan cerdik, Vatikan menyebut kunjungan ini hanyalah kunjungan pastoral biasa.

Dan, dalam misa di Dilli Sri Paus bersikap netral. Tak ada pernyataan politik yang bersifat pro atau kontra kemerdekaan Timor Timur. Sri Paus hanya meminta agar semua pihak menghormati hak-hak asasi manusia, menghormati kehidupan, memajukan keadilan dan perdamaian. Isi khotbah normatif yang juga sering disampaikan di tempat-tempat lain di dunia.

Mgr Bello, yang oleh rezim Orde Baru sering dituduh 'anti-integrasi', pun berusaha meredam kecurigaan pemerintahan Soeharto. Dia menegaskan, kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Timor Timur pada 1989 tak lebih sebagai kunjungan biasa seorang gembala kepada domba-dombanya. Bukankah Dioses (Keuskupan) Dilli langsung berada di bawah Vatikan?

Begitulah, dalam kenyataan, kiprah almarhum Karol Wojtyla (nama asli Paus Yohanes Paulus II) selama 26 tahun senantiasa mengandung dimensi politik baik langsung maupun tidak. Ini pulalah yang ia lakukan saat menghancurkan sistem komunisme di sejumlah negara Eropa.

***

Ia berkunjung ke Indonesia selama enam hari. Tapi dalam waktu kurang dari sepekan itu ia telah "menaklukkan" jutaan orang. Lihat saja betapa terpesonanya ratusan ribu orang yang dengan tertib, di Jakarta, Yogyakarta, Dili, Maumere, dan Medan, menyambutnya atau mengikuti misa yang dipimpinnya. Atau simaklah ucapan Frans Seda, bekas menteri keuangan yang menjadi Ketua Panitia Pelaksana Panitia Penyambutan Sri Paus, "Kini kami telah melihat wajahmu, Bapa Suci, dan kami mencintaimu."

Memang, ratusan ribu orang telah bisa melihat langsung wajah Sri Paus Yohanes Paulus II, yang kunjungannya ke Indonesia berakhir Sabtu pekan lalu. Kenangan mereka mungkin akan bertahan lama. Bahkan, bagi sejumlah umat Katolik yang beruntung menerima berkat dari Paus, inilah kenangan yang mungkin akan terbawa hingga akhir hayat. Bagaimana tidak. Kesempatan mendapat kunjungan pemimpin utama umat Katolik ini boleh dikata langka. Sebab, di Indonesia penganut agama Katolik tak sampai 3% dari jumlah penduduk. Karena itu, tentu tak termasuk dalam prioritas kunjungan seorang Sri Paus. Satu-satunya paus yang sebelumnya pernah mengunjungi Indonesia adalah Paulus VI, 1970. Sampai-sampai menurut Sri Paus Yohanes Paulus II sendiri, ia pernah menerima surat dari Indonesia, berisi keluhan mengapa ia tidak pernah "mampir" ke Indonesia, meski sering mengadakan lawatan ke mana-mana, termasuk terbang di atas Indonesia.

Toh akhirnya kunjungan itu terjadi juga. Bagi Yohanes Paulus II, Indonesia adalah negara ke-59 yang dikunjunginya secara resmi sejak ia diangkat menjadi Bapa Suci. Buat Indonesia sendiri lawatan ini sangat penting, bukan cuma buat warga Katolik sendiri. Tapi karena dalam rangkaian kunjungan ini Paus juga mengunjungi Dili Meski sejak jauh hari berkali-kali ditegaskan bahwa hal itu merupakan kunjungan pastoral (keagamaan) sebagai seorang gembala yang mengunjungi umatnya (karena Paus hingga kini secara resmi adalah Uskup Dili) kunjungan ke Dili selama empat jam itu tentu saja punya dampak politis yang menguntungkan posisi Indonesia di dunia internasional. Soalnya belum semua negara, termasuk Vatikan, mengakui integrasi Tim-Tim menjadi provinsi ke-27 RI.

Secara tidak langsung ucapan Gubernur Timor Timur Mario Viegas Carrascalao menyiratkan kepuasan atas "keberhasilan" itu. "Selama 450 tahun dijajah Portugis tak sekali pun Tim-Tim dikunjungi Paus,” kata Carrascalao. "Baru 13 tahun Tim-Tim berintegrasi dengan Indonesia Paus sudah datang,” tambahnya. Betapapun, Paus Yohanes Paulus II memang sangat memesonakan. Bukan cuma karena senyum, tatapan mata, keramahtamahannya, ataupun pidatonya yang diselingi Bahasa Indonesia. Sebelum ia datang ke sini pun, banyak orang yang telah terpukau oleh cerita-cerita tentang riwayat hidupnya, kesederhanaannya, sikap informalnya, serta sikap dan ucapannya yang inkonvensional.

Wajarlah kalau misa yang diadakan Paus di lima tempat di Indonesia selalu meriah. Di Jakarta, kurang lebih 120 ribu umat hadir di Senayan. Di Yogyakarta, sekitar 160 ribu penganut agama Katolik memenuhi Lapangan Dirgantara. Sedangkan di Maumere, lebih dari 100 ribu orang memadati lapangan sepak bola Samador. Misa terakhir Paus di Indonesia dilakukan di Medan. Di lapangan pacuan kuda Tuntungan, di perbatasan Medan dan Deli Serdang, sekitar 100 ribu umat menghadiri misa agung itu. Nyanyian gereja yang syahdu dan upacara keagamaan yang khidmat membuat rasa haru para peserta yang datang dari berbagai pelosok Indonesia Barat itu. Panas terik pun tak dihiraukan, kendati beberapa orang pingsan dan terpaksa digotong ke tempat perawatan yang sudah disiapkan panitia.

Agaknya, Sri Paus cukup yakin bahwa umat akan mengikuti anjuran yang disampaikannya dalam khotbah. Yakni anjuran agar umat melupakan masa silam yang kelam dan melakukan rujuk. "Kalian telah mengalami kehancuran dan kematian akibat konflik," kata Sri Paus dalam bahasa Inggris, yang langsung diterjemahkan ke Bahasa Tetun. "Banyak orang tak bersalah telah tewas, dan lainnya menjadi korban pembalasan serta dendam," tuturnya lagi. Dan sudah terlalu lama situasi tak stabil berjalan. "Situasi depresif ini menyebabkan kesulitan ekonomi yang, kendati diupayakan untuk mengatasinya, tetap ada", katanya. Maka, Paus pun mengatakan, "Tanah kalian sangat memerlukan penyembuhan Kristiani dan rekonsiliasi." Oleh karena itu, ia menganjurkan umat agar menjadi masyarakat yang rujuk. Kendati diakuinya, "Tidaklah selalu mudah untuk menemukan keberanian dan kesabaran yang diperlukan bagi rekonsiliasi."

Sri Paus, yang mendapat belasan kali tepuk tangan dalam khotbahnya itu, mengingatkan umat tentang keyakinan iman Katolik bahwa, "kasih akan mampu menembus semua batas, antarnegara, masyarakat, ataupun budaya." Dan pemimpin Vatikan yang mengenakan jubah putih berkombinasi hijau ini lantas mengutip sabda Yesus, "Maafkanlah, dan engkau akan dimaafkan." Maka, umat pun seolah teringat kembali akan maaf yang diberikan Sri Paus kepada penembaknya di Vatikan, enam tahun silam. Tanpa menyebut nama suatu pihak, pemimpin tertinggi umat Katolik ini menyatakan, "Saya berdoa agar mereka yang bertanggung jawab terhadap kehidupan di Timor Timur akan bertindak arif dan bersahabat pada semua pihak, dalam upaya mereka mencari penyelesaian terhadap kesulitan yang ada sekarang." Ia lalu mengimbau agar secepatnya dicari penyempurnaan kondisi, "yang membentuk kehidupan sosial yang harmonis, yang sesuai dengan tradisi dan kebutuhan kalian." Soal tradisi atau kebudayaan dan kaitannya dengan Iman memang menjadi tema umum khotbah Paus di Indonesia.

Pada intinya, Sri Paus berpendapat bahwa budaya tradisional justru akan memperkaya khazanah Gereja Katolik. Itulah sebabnya, panitia lokal selalu menyambut kedatangannya dengan atraksi tarian khas daerah. Karena itu, wajarlah kalau laporan bahwa pembangunan di Timor Timur menyebabkan terjadinya erosi budaya tradisional setempat sempat menggundahkan sang Bapa Suci, sebelum berkunjung ke Indonesia. Belum jelas benar apakah kegundahan itu masih ada ketika Paus meninggalkan Indonesia. Namun, Paus tampaknya cukup terkesan dengan kerukunan umat beragama di Indonesia. Hal itu, menurut Menteri Sekretaris Negara Moerdiono, terungkap dari pidato perpisahan yang disampaikan kepada Presiden Soeharto di Istana Negara, Jumat malam pekan lalu. Yakni ketika Paus mengatakan bahwa ideologi negara Indonesia, Pancasila, sangat berperan dalam menghasilkan kehidupan beragama yang harmonis dan dalam pembangunan nasionalnya.

Dialog tentang kerukunan beragama memang sempat dilakukan Sri Paus dengan para pimpinan agama di Indonesia. Selain mereka, pertemuan yang berlangsung di Taman Mini Indonesia Indah, juga dihadiri oleh anggota MPR, DPR, dlan DPA serta pejabat tinggi pemerintah. Termasuk di antaranya Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Soepardjo Rustam, Menteri P & K Fuad Hassan, dan Menteri Agama Munawir Sjadzali. Dalam pidato pembukaannya, Menteri Munawir menjelaskan, kendati sejarah menunjukkan bahwa perbedaan agama dapat meletupkan ketegangan dan perang, keragaman agama di Indonesia tak pernah menjadi sumber konflik. "Memang benar bahwa Islam merupakan mayoritas di negara ini, tetapi kami tak mengenal istilah mayoritas dan minoritas," kata Munawir.

Sementara itu, Sekjen Majelis Ulama Indonesia H. Sudjono mengatakan, kerukunan antarumat beragama sudah hadir di Indonesia sebelum penjajah Eropa datang ratusan tahun lalu. Adalah penjajah lropa ini, menurut H. Sudjono, yang merebakkan konflik di antara rakyat Indonesia dengan menggunakan isu perbedaan agama. Hanya setelah melalui perjuangan yang panjang dan berat, rakyat Indonesia berhasil merebut kemerdekaan, melahirkan UUD 45, yang menyebabkan semua agama di Indonesia dapat berkembang. Para wakil dari agama Protestan, Hindu, Budha, dan Katolik pada intinya menyatakan, kendati jumlah mereka relatif kecil sekali di Indonesia, pengembangan keyakinan agama masing-masing dapat berjalan lancar. Paus, yang tampak duduk terpekur mendengarkan ucapan para wakil umat beragama di Indonesia itu, kemudian berdiri dan berbicara. Dengan suara baritonnya yang berwibawa ia menganjurkan agar, "umat Katolik Indonesia, yang hidup di tengah budaya yang beragam ini, memperlakukan umat lainnya dengan semangat persaudaraan melalui dialog."

Semangat persaudaraan itu memang dilihat Paus dalam kunjungan enam harinya di Indonesia. Podium tempat ia memimpin misa di Dili, misalnya, dibuat di bawah pimpinan proyek yang beragama Islam. Juga di Medan, beberapa tamu VIP seperti Gubernur Radja Inal Siregar meninggalkan kursinya untuk sembahyang Jumat di tengah misa, lalu kembali lagi sesudah usai salat. Selain kerukunan umat beragama, Sri Paus juga sangat memperhatikan proses inkulturisasi agama di Indonesia. Dalam berbagai acara, Bapa Suci umat Katolik ini acap kali meluangkan waktu memperhatikan atraksi tarian tradisional secara saksama. Perhatian ini bukanlah mengada-ada. Terbukti Sri Paus, yang menerima ulos pada acara misa di Medan, sempat mempesonakan umat dengan mengucapkan salam khas Sumatera Utara di akhir khotbahnya "Horas, Mejuah-juah, Jahowu," ujarnya disambut tepuk tangan yang meriah.

Kemeriahan itu agaknya mampu menyingkap mendung kekhawatiran yang sempat melingkupi kehadiran Paus di Indonesia. Terutama menyangkut masalah Timor Timur, yang integrasinya ke Indonesia belum diakui Vatikan. Namun, khotbah Sri Paus di Dili yang berintikan anjuran rekonsiliasi, dan kenyataan bahwa ia tak mencium tanah di bandar udara Komoro, memang melegakan banyak pihak di Indonesia. "Saya sempat tak bisa tidur memikirkannya," kata seorang pejabat tinggi. Sebab, adalah kebiasaan Sri Paus untuk mencium tanah begitu tiba di sebuah negeri asing. Namun, menurut ketua pelaksana panitia penyambutan Sri Paus, Frans Seda, hal ini sudah diduga sebelumnya. Soalnya, Bapa Suci acap kali menyatakan gereja tak boleh terlibat dalam politik. "Soal politik, serahkan kepada politikus, jangan turut," kata Frans Seda, menirukan ucapan Paus. Apalagi kunjungan ke Dili ternyata relatif berjalan lancar. Tak ada keributan berarti, dan tak tampak militer bersenjata lengkap menjaga keamanan. Semua ini tampaknya membuat Sri Paus sangat terkesan dengan perjalanan 8.500 km-nya di Indonesia: "Lawatan ini akan lama sekali terkenang," katanya, dalam acara pertemuan dengan para uskup dan panitia penyambutan KWI di Kedutaan Vatikan. Jumat malam pekan lalu. Jutaan umat Katolik Indonesia agaknya mempunyai kesan yang serupa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar