Rabu, Desember 15, 2010

Lingkaran Setan dan Perlunya Big Push


Wajah Kemiskinan

Pada tanggal 20-22 September 2010 yang lalu, Perserikatan Bangsa-bangsa menyelenggarakan Pertemuan Tingkat Tinggi (UN Summit Meeting) untuk mengecek kemajuan Millenium Development Goals. Sekitar 150 kepala negara hadir dalam pertemuan tersebut. Delegasi Indonesia dipimpin Kepala Bappenas Armida Alisjahbana. Semua negara harus melaporkan tingkat pencapaian sasaran-sasaran MDGs.

Proyek global MDGs terdiri atas 8 sasaran yang mencakup pengurangan angka kemiskinan ekstrem dan kelaparan, peningkatan angka partisipasi pendidikan primer, peningkatan kesehatan ibu, pengurangan angka kematian anak, penyebaran HIV/AIDS, kesetaraan jender, kepastian lingkungan yang berkelanjutan, dan peningkatan kemitraan global.

Dalam kaitannya dengan kemiskinan, meski target pengurangan angka kemiskinan ekstrem dan kelaparan sebagai salah satu sasaran Tujuan Pembangunan Milenium tercapai, pada kenyataannya rakyat Indonesia masih miskin. Pendapatan 1 dollar AS (kurang dari Rp 9.000) per hari tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Hal ini disampaikan Utusan khusus Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals/MDGs), Nila Djuwita Moeloek, seusai acara Parliamentary Stand Up For MDGs di gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Jumat (17/9/2010). (Kompas, 20/9/2010).

Meskipun persentase kemiskinan terus berkurang sejak krisis moneter terakhir melanda Indonesia periode 1997/1998, jumlah penduduk miskin sampai dengan pertengahan 2010 ini tetap di atas angka 30 juta orang, yaitu sekitar 31,7 juta penduduk miskin. Sebuah angka yang masih relatif tinggi untuk sebuah negara yang telah melakukan reformasi selama hampir 12 tahun ini. Artinya, perjuangan mengentaskan dan menurunkan angka kemiskinan, masihlah perjuangan yang harus terus dilakukan oleh seluruh komponen bangsa ini.

Lingkaran Setan di NTT

Situasi ini terus berimbas ke seluruh pelosok negeri termasuk Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sudah sejak dulu, provinsi ini selalu dikenal dengan provinsi miskin. Selalu ada label-label negatif terhadap salah satu provinsi di bagian timur Indonesia ini.

Pada tanggal 14 September 2010, ketika mengambil sumpah dan melantik 187 pejabat struktural eselon III dan IV di lingkup Sekretariat Provinsi NTT, Gubernur NTT Drs. Frans Lebu Raya mengatakan bahwa sampai dengan Maret 2010, tercatat ada sekitar 1,014 juta orang miskin di NTT. Walaupun jumlah ini lebih rendah dari jumlah penduduk miskin pada Maret 2009 yang berkisar 1,103 juta orang, tetapi Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) terus meningkat. Pada Maret 2009, Indeks Kedalaman Kemiskinan berkisar 4,14 dan meningkat menjadi 4,74 pada Maret 2010. Di sisi lain, Indeks Keparahan Kemiskinan naik dari 1,14 pada Maret 2009 menjadi 1,43 pada Maret 2010.

Gubernur Lebu Raya mengatakan kondisi ini telah menempatkan Nusa Tenggara Timur masuk dalam kategori 10 dari 33 provinsi dengan angka kemiskinan tertinggi berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik tahun 2010. "Dari 10 provinsi tersebut, Nusa Tenggara Timur berada pada urutan ke-5 berdasarkan tingkat persentase kemiskinan tertinggi," katanya. (Website Pemerintah Provinsi NTT, www.nttprov.go.id).

Data-data ini semakin membuat NTT terpuruk dalam kemiskinan. Kemiskinan seolah sudah jauh menggerogoti “tubuh” bumi NTT. Hemat penulis, setidaknya ada satu hal yang membuat kenapa NTT ini tetap miskin, yaitu terlalu kuatnya lingkaran setan.

Bagi para pemerhati kemiskinan, kesejahteraan dan pembangunan, lingkaran setan ini bukanlah sebuah istilah yang asing. Istilah ini sangat sering digunakan untuk menjelaskan alasan-alasan dan latar belakang kemiskinan yang terjadi di Indonesia. Istilah lingkaran setan ini merujuk pada beberapa faktor kemiskinan yang saling berkaitan, membentuk lingkaran yang saling berhubungan satu sama lain. Lingkaran setan ini dapat diilustrasikan seperti gambar di pembuka tulisan ini.

Keadaan seperti inilah yang terjadi di NTT. Ilustrasi di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

Karena miskin, seseorang pasti memiliki pendapatan yang kecil. Karena pendapatannya kecil, daya beli informasi dan pengetahuannya, pastilah juga kecil. Daya beli pengetahuan dan informasi yang rendah ini, akan menyebabkan si miskin tidak memiliki pengetahuan yang cukup. Pengetahuan yang kurang, akan menyebabkan produktivitas seseorang menjadi kecil. Karena produktivitasnya yang kecil inilah, ia akan jatuh miskin lagi.

Karena miskin, seseorang pasti hanya akan memiliki tabungan yang kecil. Tabungan yang kecil, akan membuat kepemilikan modal seseorang menjadi kecil pula. Kepemilikan modal yang kecil akan mengakibatkan produksinya rendah serta pendapatannya kecil. Karena pendapatannya kecil, ia akan jatuh miskin lagi.

Karena miskin, seseorang pasti hanya akan memiliki kemampuan konsumsi yang rendah. Kemampuan konsumsi yang rendah ini akan membuat seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhan papan, sandang, dan pangannya secara layak. Hal ini juga akan berdampak pada buruknya status gizi seseorang. Seseorang dengan status gizi yang buruk akan memiliki produktivitas kerja yang buruk pula. Dari rendahnya produktivitas inilah, produksinya juga akan rendah, dan sekali lagi ia akan jatuh miskin.

Situasi inilah yang terjadi di NTT. Lingkaran-lingkaran ini saling berkaitan dan bertautan satu sama lain, mengungkung dan memagari masyarakat NTT. Masyarakat selalu berputar dari satu lingkaran ke lingkaran lainnya. Kemiskinan pun turut berputar di dalamnya. Dari satu kemiskinan ke kemiskinan yang lainnya. Dari kemiskinan modal dan pendapatan, ke kemiskinan pengetahuan dan pendidikan, ke kemiskinan kesehatan. Begitulah lingkaran kemiskinan ini terus berputar, menarik mayoritas masyarakat NTT ke dalamnya, tanpa ada satupun yang berusaha untuk memutus rantai “lingkaran setan” ini.

Dalam situasi konkret, lingkaran setan ini sangat dirasakan dampaknya terhadap 3 sektor unggulan di NTT, yaitu pertanian, peternakan serta pariwisata.

Bagi kebanyakan orang, NTT itu kaya akan sumber daya pertanian. Mayoritas orang NTT pun menggantungkan hidupnya dari pertanian. Pertanian seolah menjadi ciri khas masyarakat NTT. Sayangnya, pertanian di NTT masih didominasi oleh sistem pertanian subsisten. Sistem pertanian subsisten ini bukanlah sistem pertanian yang ideal. Sistem ini sangat bergantung pada modal yang minim, teknologi yang rendah, rendahnya proteksi negara, skill yang minim, lahan yang sempit serta jumlah tenaga kerja yang besar. Implikasinya, pertanian subsisten hanya akan menjadi sistem pertanian berskala kecil dan tidak bisa menjamin keberlangsungan hidup masyarakat dalam jangka waktu yang lama. Bandingkan dengan negara-negara lain yang sudah menerapkan agroindustri pertanian. Pertanian begitu dominan dan mampu menjadi penopang hidup masyarakat dalam jangka waktu panjang.

Hal ini kemudian didukung dengan fakta bahwa pertanian di NTT kurang didukung anggaran yang memadai dari pemerintah serta mulai menurunnya produktivitas pertanian di NTT dalam beberapa tahun terakhir. Dalam bidang anggaran, penelitian yang dilakukan oleh Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Artha Wacana Kupang, Frits O. Fanggidae dkk., bisa dijadikan bahan pertimbangan. Pada saat melakukan penelitian pertanian di 12 kabupaten induk di NTT (Kab. Kupang, TTS, TTU, Belu, Alor, Flotim, Sikka, Ende, Ngada, Manggarai, Sumba Barat dan Sumba Tiimur), mereka menemukan bahwa dari tahun 2001–2008, alokasi anggaran untuk sektor pertanian dari APBD rata-rata tidak lebih dari 5 persen per tahun. Alokasi anggaran sektor pertanian pada tingkat Provinsi NTT pun sama, tidak lebih dari 5 persen. Jika demikian, masih pantaskah kita menyebut sektor pertanian sebagai sektor yang menentukan hajat hidup orang banyak di NTT?

Lain anggaran, lain pula soal produktivitas. Pada tanggal 10 November 2009, dalam jumpa pers di ruang rapat BPS NTT, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Propinsi NTT, Ir. Poltak Sutrisno Sihaan menjelaskan bahwa pertumbuhan sektor pertanian di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), paling rendah dibandingkan dengan sektor lainnya. Pertumbuhan sektor ini mengalami penurunan 0,80 persen. Hal ini didukung dengan kenyataan bahwa dari luas daratan NTT, tercatat 96,74% merupakan lahan kering, sedangkan hanya 3,26% merupakan lahan basah. Impian menjadi Provinsi Jagung pun masih perlu usaha keras dan pembuktian. Jika mau tetap sebagai propinsi pertanian, sudah saatnya pertanian NTT dikembangkan dalam bentuk agroindustri, bukan lagi pertanian subsisten. Hanya saja, sistem agroindustri membutuhkan modal dan investasi yang besar.

Di bidang pariwisata dan peternakan pun demikian adanya. Di bidang pariwisata, perjuangan kepariwisataan di NTT masih bersifat kedaerahan. Berjuang sendiri-sendiri. Belum ada payung pariwisata bersama yang digunakan oleh masyarakat NTT secara keseluruhan untuk mengembangkan, mempromosikan dan memajukan sektor pariwisata NTT. Padahal, Indonesia dan dunia pun sudah tahu kalau NTT itu kaya akan situs pariwisata. Di bidang peternakan pun tak jauh beda. Usaha peternakan di NTT lebih didominasi usaha peternakan rumahan yang bersifat tradisional, hanya untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari dan urusan adat. Usaha menjadikan NTT sebagai lumbung ternak nasional melalui program Provinsi Ternak pun, seperti jauh panggang dari api.

Inilah bukti nyata “berkuasanya” lingkaran setan di NTT. Masyarakat NTT seolah tak mampu keluar dari jeratan lingkaran setan tersebut. Pun tidak ada satu pihak pun yang berusaha keras memutus rantai lingkaran tersebut. Lingkaran itu tidak akan pernah terpotong apabila tidak ada satu bagian saja dari lingkaran tersebut yang dihilangkan.

Perlunya Big Push

Jika kita berbicara mengenai kemiskinan serta usaha mencapai kesejahteraan, kiranya konsep Big Push bisa kita jadikan salah satu referensi. Teori Big Push ini pertama kali dicetuskan Paul Narcyz Rosenstein-Rodan. Rosenstein-Rodan adalah seorang ekonom Austria yang kental dengan mazhab Austrian. Rosenstein-Rodan pernah mengajar di University California Los Angeles dan London School of Economics, sebelum bergabung di Bank Dunia dan Massachusetts Institute of Technology.

Pada 1943, Rosenstein-Rodan menulis artikel tentang "Problems of Industrialisation of Eastern and South-Eastern Europe". Dalam teorinya, Rosenstein-Rodan menekankan perlunya rencana dan program aksi dengan investasi skala besar untuk mempercepat industrialisasi di negara-negara Eropa Timur dan Tenggara. Saat itu, memang negara-negara di kawasan tersebut sangat terbelakang dan masih mengandalkan surplus tenaga kerja yang bekerja di sektor pertanian. Big Push, dorongan yang besar, harus dilakukan untuk mengatasi ketertinggalan dengan daerah lain.

Teori ini kemudian mengilhami Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal merumuskan suatu Rencana Aksi Nasional (RAN) yang salah satu butirnya menekankan pada perlunya big push bagi percepatan pembangunan daerah tertinggal. Modal dan infrastruktur adalah dua big push yang sangat dibutuhkan daerah tertinggal saat ini.

Situasi NTT saat ini tidak jauh berbeda dengan situasi Eropa Timur-Eropa Tenggara saat itu. Keduanya (NTT & Eropa Timur-Eropa Tenggara) sama-sama merupakan daerah tertinggal dan sama-sama mengandalkan pertanian sebagai sektor utama penyokong perekonomian daerah. Padahal, pada saat yang bersamaan, daerah lain sudah jauh lebih maju, menikmati berbagai dampak modernisasi. Sebuah situasi yang persis sama dengan NTT saat ini.

Lantas, apa yang NTT butuhkan sekarang? Big Push jawabannya. Sekarang, NTT butuh rencana aksi, investasi dan modal dalam jumlah yang besar. NTT sudah jauh tertinggal dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia. Bukan saatnya lagi orang-orang NTT berwacana mengenai kemiskinan dan kesejahteraan. Sudah saatnya semua komponen masyarakat NTT bahu-membahu, bergotong-royong membangun NTT serta mendudukkannya dalam posisi yang setara dengan daerah lainnya di Indonesia.

Investasi dan modal yang dimaksud pun haruslah investasi dan modal yang datang dari “pihak luar”. Term “pihak luar” ini merujuk pada siapa saja yang berada di luar garis birokrasi. Terlalu berbelit-belitnya birokrasi, plus korupsi yang sudah membudaya di NTT membuat investasi yang dilakukan selama ini seperti menguap tak berbekas. Berbagai investasi di berbagai bidang yang dilakukan Pemprov dan Pemda selalu mentok. Padahal, kucuran dana dari berbagai pihak yang masuk ke NTT tidak bisa dibilang kecil. Sayangnya, dana-dana tersebut justru tidak digunakan untuk “….sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.

Pertambangan: Big Push saat ini

Saat ini, masyarakat NTT dihadapkan pada dua pilihan: tetap berada di dalam lingkaran setan atau berjuang keras untuk keluar dari lingkaran setan tersebut? Hemat penulis, sudah saatnya kita membuka mata dan menyadari bahwa selama ini kita justru hidup di tengah lingkaran setan yang terus mengungkung kita dengan kemiskinan. Sampai kapan pun, tanpa adanya usaha bersama dan big push, kita hanya akan tetap berada di dalam lingkaran setan ini. Kita hanya akan bekerja untuk makan hari ini dan berpikir bagaimana bisa makan hari ini.

Menyadari bahwa ketiga sektor unggulan di NTT (pertanian, pariwisata dan peternakan) ternyata belum mampu membawa masyarakat NTT ke gerbang kesejahteraan, perlu dipikirkan untuk mencoba sektor lain yang potensial di NTT, yaitu sektor pertambangan.

Terlepas dari berbagai pro-kontra yang ada selama ini, kita harus tahu dan sadar bahwa ini salah satu alternatif usaha yang bisa kita usahakan bersama. Di saat ketiga sektor unggulan tersebut ternyata hanya bergerak statis, kita tidak bisa terus-menerus berada dalam kestatisan tersebut. Dalam sebuah dunia yang dinamis, kestatisan bisa dianggap sebagai sebuah kemunduran. Sekarang bukan saatnya kita berdebat apakah pertambangan itu baik atau tidak? Semua sisi kehidupan itu punya dampak baik dan buruk, termasuk pertambangan. Sekarang bukan pula saatnya mencari-cari apakah pertambangan itu berkah atau kutuk? Kalau kutuk, mengapa Tuhan anugerahkan berbagai kekayaan mineral di dalam perut bumi NTT? Kemajuan sangat berkorelasi erat dengan investasi. Selama kita selalu berprasangka buruk terhadap berbagai investasi dari luar, kita tidak akan bisa keluar dari jerat lingkaran setan kemiskinan.

Menjelang Natal 2010

Emanuel.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar