Rabu, Januari 26, 2011

Saatnya People Power

Kisah mengenai Daud dan Goliat mungkin amat sangat jelas kita pahami. Goliat yang digambarkan sebagai sosok yang kuat, gagah dan perkasa harus bertekuk lutut di tangan Daud. Dengan kata lain, kesombongan, keangkuhan dan ketidakpedulian Goliat bisa dipatahkan dengan sangat mudah oleh kesederhanaan, kerendahan hati dan kekuatan Daud. Walaupun kisah ini hanya tersurat dalam lembaran cerita, nyawa dan nafas cerita ini tetap ada sampai sekarang.

***

Tunisia hanyalah salah satu negara di Afrika Utara. Beribukotakan Tunis, negara ini mayoritas didominasi kaum muslim Arab. Cerita mengenai Daud dan Goliat sangat nyata terjadi di Tunisia. Tergulingnya Presiden Zine Al Abidin Ben Ali menjadi bukti betapa people power bukanlah hal sederhana yang patut diabaikan. Dilatarbelakangi atas melonjaknya harga bahan-bahan kebutuhan pokok dan angka kemiskinan yang masih tinggi, masyarakat menjadi brutal. Konflik berdarah mulai menjamur di seluruh pelosok negeri yang 40% wilayahnya berupa padang pasir itu. Selama 23 tahun berkuasa, terhitung sejak 7 November 1987, Presiden Ben Ali terbukti tidak mampu mengangkat warganya dari jerat kemiskinan. Hal ini diperparah lagi dengan pemerintahan diktator dan koruptif yang dijalankan Ben Ali. Kemarahan warga Tunisia ini seolah air bah yang memecah tanggul pembatas. Sangat dahsyat. Mencekam. Warga bertindak ganas. Yang terpenting bagi mereka adalah bagaimana bisa menjatuhkan dan mengganti pemerintahan yang sangat jelas mengabaikan kepentingan warganya. Seorang analis politik Mesir, Nabil Al Makki, berpendapat, “Pergolakan politik di Tunisia tak bisa lagi dibendung dan yang terbaik adalah pengunduran diri presiden dan perubahan pemerintahan.” Dan memang benar, pada 14 Januari 2011, Presiden Zine Al Abidin Ben Ali akhirnya jatuh dalam genggaman people power.

Belum reda kerusuhan di Tunisia, kini gelombang kerusuhan itu sudah menjalar ke Aljazair (negara tetangga Tunisia) sebagai protes atas naiknya harga barang dan kondisi buruk ekonomi di negara itu. Pada Rabu malam lalu diberitakan telah meletup kerusuhan di berbagai distrik di ibu kota Algiers dan kota-kota lain di Aljazair sebagai protes atas kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok yang mencekik kaum miskin. Bukan tidak mungkin bahwa people power, Daud, kemudian akan dengan mudahnya menggalang kekuatan dan menjatuhkan pemerintahan, Goliat, yang sedang berkuasa.

Situasi serupa terjadi di negara Afrika lainnya, Mesir. Ribuan massa turun ke jalan. Massa mendesak Presiden Hosni Mubarak, yang sudah 30 tahun berkuasa, mundur karena maraknya kasus korupsi, kemiskinan dan pengangguran. Emosi massa meledak-ledak. Mereka marah karena kemiskinan yang tidak kunjung diatasi. Menurut mereka, demonstrasi ini terinspirasi gerakan rakyat Tunisia yang berhasil menggulingkan Presiden Ben Ali. Bukan tidak mungkin coup d'état bisa saja terjadi di Mesir.

Di Belgia lain lagi. Bukan Daud melawan Goliat, melainkan pertikaian antara sesama Goliat. Menjelang akhir Januari ini, tujuh bulan sudah terjadi kekosongan pemerintahan Belgia. Pertikaian antara para politisi berbahasa Belanda dan Perancis menjadi pemicunya. Demonstrasi besar-besaran pun terjadi. Warga Belgia menuntut dibentuknya pemerintahan Belgia yang sah, terlepas dari perbedaan bahasa yang mereka miliki. Bagi mereka, Belgia seharusnya bercermin dari Luksemburg. Negara itu tetap aman tenteram walaupun ada tiga bahasa di dalamnya, yaitu Perancis, Jerman dan bahasa lokal.

***

Lalu, di manakah posisi Indonesia? Indonesia memang tidak mengambil bagian dalam konflik Tunisia, Aljazair, Mesir dan Belgia. Pun, Indonesia tidak berkontribusi terhadap terjadinya konflik-konflik tersebut. Hemat penulis, konflik ekonomi (Tunisia, Aljazair dan Mesir) dan konflik politik (Belgia), terlihat dengan sangat jelas di Indonesia ini. Kenaikan harga pangan, kemiskinan yang terus mendera, ketidakpastian hukum, pemerintahan yang koruptif dan cenderung diktator, adanya kesenjangan antara Daud dan Goliat serta konflik kepentingan antarelit pemerintahan adalah beberapa hal yang sangat membelenggu Indonesia. Persis sama dengan keadaan yang ada di Tunisia, Aljazair, Mesir dan Belgia. Rakyat dilupakan. Ditelantarkan. Diabaikan. Hanya demi kepentingan para penguasa dan aparat pemerintahan.

Lalu, apakah konflik, demonstrasi dan pertikaian itu akan terjadi di Indonesia? Bukan tidak mungkin. Jika pemerintah tetap menutup mata dan telinga terhadap keluhan masyarakat. Jika pemerintah tetap menjalankan praktik-praktik korupsi. Jika pemerintah tetap mempertahankan ketidakpastian hukum. Jika pemerintah tetap membiarkan langgengnya konflik kepentingan antarelit. Jika pemerintah tetap tidak mau memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat. Jika pemerintah tetap bergelimang harta di atas penderitaan dan kemiskinan masyarakat. Bukan tidak mungkin peristiwa 1998 akan terulang kembali.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar