Senin, Februari 21, 2011

IKSSAS, GASSELI, TARSANTO, PERSIBA: Unity in Diversity

Sekilas dari luar, Seminari Mataloko tampak homogen. Satu jenis kelamin, satu rutinitas, satu tipe penampilan, satu metode pendidikan. Semuanya begitu sama, serasi dan selaras. Bagi yang baru melihat Seminari dari luar, kesan homogen akan pertama kali mereka rasakan. Orang bilang anak Seminari itu rata-rata sama. Kalau minggu pesiar, penampilannya rata-rata sama. Minyak rambut tebal, baju bola, celana jeans, sendal topsi atau Pirelli. Kalau diskusi, gaya bicara dan bahasanya sama juga. Putar-putar dulu, dengan bahasa yang sedikit ilmiah, sebelum akhirnya menuju pokok permasalahan. Kalau tulis surat cinta, metodologi penulisannya juga rata-rata sama. Personifikasi dan sangat hiperbolis. Itulah seminari. Kesan homogen sangat melekat erat pada Seminari Mataloko.

Namun, jika kita duc in altum, bertolak ke tempat yang lebih dalam, lebih mendalami Seminari, kita akan temukan juga sisi-sisi heterogenitasnya. Ada banyak perbedaan yang ada di Seminari. Mulai dari perbedaan fisik, daerah asal, suku, sampai pada perbedaan karakter masing-masing seminaris. Bukan sebuah hal yang mudah untuk menyelaraskan semua perbedaan itu dalam sebuah wadah Seminari. Saya pikir, ini salah satu tugas terberat yang pernah dialami oleh para pembina dan guru-guru Seminari. Mendidik, menggembleng, mengajar dan menerapkan disiplin ketat kepada ratusan siswa dengan ratusan perbedaan, bukanlah sebuah kesulitan yang bisa digampangkan. Butuh kesabaran, pengorbanan, kesetiaan, perjuangan dan dedikasi tinggi. Jika salah arah sedikit saja, maka dampaknya bisa jauh lebih buruk. Untungnya bahwa ora et labora selalu menjadi pegangan para pembina dan guru-guru. Selain bekerja dan berusaha keras, mereka juga tak lupa berserah pada Yang Kuasa. Menyerahkan perjalanan Seminari ke dalam Penyelenggaraan Ilahi, In Dei Providentia. Untuk yang satu ini, kita patut bersyukur dan berterima kasih kepada para pembina dan guru-guru di Seminari.

Salah satu bukti heterogenitas di Seminari adalah bercampurnya berbagai siswa dari berbagai daerah di Indonesia. Semasa saya di Seminari, tercatat beberapa teman datang dari luar NTT. Walaupun seminaris dari NTT masih mendominasi, tetapi ada banyak juga calon-calon imam yang berdatangan dari daerah di luar NTT. Teman-teman dari Papua cukup banyak kala itu. Semangat panggilan mereka sangat tinggi. Selain itu, ada juga yang dari Kalimantan, Jakarta dan Surabaya. Ini menjadi tanda kalau panggilan imamat suci itu melampaui batas-batas geografis dan suku. Tak peduli seberapa jauh perjalanan dari Jakarta, Surabaya, Kalimantan dan Papua untuk mencapai Flores, mereka tetap datang demi satu tujuan mulia: menjadi imam. Sebuah niat tulus yang patut diacungi jempol.

Perkumpulan seminaris berdasarkan daerah asal pun terbentuk. Secara pribadi, saya tidak tahu kapan ide dan pembentukan perkumpulan daerah ini pertama kali diresmikan. Yang pasti bahwa pada saat pertama kali masuk ke Seminari, perkumpulan-perkumpulan ini sudah ada. Walaupun terdiri atas siswa dari berbagai daerah, hanya ada 4 perkumpulan siswa seminari, yaitu IKSSAS, GASSELI, TARSANTO dan PERSIBA.

PERSIBA adalah singkatan dari Persatuan Siswa Seminari asal Bajawa. Jumlahnya paling besar. Maklum saja, mereka tuan tanah. Mereka siswa-siswa yang berasal dari lingkungan Kevikepan Bajawa, mulai dari Golewa sampai Aimere. Ciri fisik mereka rata-rata sama. Tinggi, kekar, tipe pemain bola. Dan logatnya sangat Bajawa. Mirip orang Perancis. Untuk urusan yang satu ini (bola), mereka adalah ahlinya. Timnas Seminari selalu didominasi oleh teman-teman dari Persiba ini. Dari 11 pemain utama, mereka biasanya menyumbang sekitar 5-6 pemain. Sangat monopolis. Tetapi, memang benar adanya. Bola sudah menjadi bagian dari keseharian mereka. Sejak kecil, mereka sudah terbiasa dengan bola. Berbeda dengan kami yang lainnya. Selain itu, teman-teman Persiba termasuk Seminaris yang paling beruntung. Dalam sebulan, mereka bisa dua kali bertemu keluarga. Itu hitungan normal, belum termasuk izin atau bolos, hehe…

TARSANTO (baca: Tersanto) adalah Tergabungnya Siswa Seminari Asal Nagekeo-Toto. Walaupun berada di dalam wilayah Kevikepan Bajawa, secara budaya, Nagekeo ini berbeda dengan Bajawa. Untuk itu, dirasa perlu adanya sebuah perkumpulan mahasiswa Nagekeo ini. Secara umum, ciri-ciri fisik teman-teman Tersanto tidak jauh berbeda dengan teman-teman dari Persiba. Rata-rata sama. Dan, rata-rata mereka juga mendominasi pasokan pemain untuk Timnas Seminari. Untuk urusan bola, Persiba dan Tarsanto memang jagonya.

IKSSAS (Ikatan Kekeluargaan Siswa Seminari Asal Sikka) dan GASSELI (Gabungan Siswa Seminari Ende-Lio) termasuk kelompok minoritas di seminari. Jumlahnya lebih sedikit dibanding teman-teman Persiba dan Tarsanto. Teman-teman Gasseli biasanya digabungkan dengan teman-teman dari Kupang. Sementara teman-teman dari Flotim, lebih suka bergabung dengan IKSSAS.

Walaupun berbeda-beda, hubungan persaudaraan dan persahabatan dibangun dengan sangat baik di antara para seminaris, tanpa memandang perbedaan di antara kami. Walaupun ada sedikit percekcokan atau konflik, secara umum, hubungan pertemanan berlangsung baik-baik saja. Walaupun ada riak-riak kecil, lautan pertemanan seminaris tetaplah adem-ayem. Hubungan pertemanan itu kemudian berlanjut terus setelah kami tamat dari Seminari.

Hubungan pertemanan di Seminari mempunyai akar yang kuat, bertumbuh dengan batang yang kokoh, dan pada akhirnya memberikan buah-buah yang manis. Bagi kami, tak penting itu kuantitas. Hubungan pertemanan dan persaudaraan harus didasarkan pada kualitas. Seminari mengajarkan kami Unity in Diversity..! Ini yang saya banggakan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar