Selasa, Februari 22, 2011

Politikus Lembah Sasa

Hentakan kakinya begitu mantap. Melewati kerikil-kerikil kecil di belakang Gereja Mataloko, menyusuri rindangnya pepohonan antara ruang musik dan kamar tidur SMP Seminari, sampai di kawasan SMA Seminari, Bapak Guru yang satu ini begitu bersemangat. Menebar senyum ke siapa saja yang dijumpainya. Berpapasan. Semenit-dua menit berbincang-bincang. Terus, berjalan lagi. Setumpuk buku tergenggam erat tangan kekarnya. Ayunan langkahnya begitu tegas. Garis-garis perjuangan masih terpatri dengan erat dalam dirinya. Baginya, setiap hentakan langkah itu penuh perhitungan dan makna. Satu, dua, tiga. Semuanya begitu cepat. Perawakannya sangat Flores. Tipe orang Flores zaman dulu. Tinggi, tegap, meski di usia yang sudah tidak muda lagi. Kacamata yang melekat di wajahnya memberikan nilai tambah tersendiri. Sekali lagi, Bapak Guru yang satu ini bukan tipe guru sembarangan.

Pengalamannya sudah segudang. Lika-liku hidup dan perjuangannya patut dicontoh. Semangat, pengabdian dan kerja kerasnya membuat dirinya tetap awet muda. Susah menemukan orang dengan tipe seperti ini di zaman yang serba maju sekarang ini.

Spesialisasinya Tata Negara, walau untuk beberapa kelas beliau mengajar PPKn. Secara pribadi, saya banyak bertemu beliau di tahun terakhir saya di seminari. Bagi saya, beliau sangatlah istimewa. Pengetahuannya dalam bidang Tata Negara tak usah diragukan lagi. Pandangannya mengenai politik sangat nasionalis. Mungkin, ini tipe orang zaman dulu. Sangat mengedepankan nasionalisme. Tak ada perbedaan di antara mereka. Apapun warna kulit, agama, suku, bahasa dan budaya, Indonesia tetaplah satu. Sayangnya, generasi sekarang lebih mudah jatuh ke dalam primordialisme sempit. Persatuan dan kesatuan Indonesia dicampuradukkan dengan berbagai kepentingan pribadi dan golongan. Agama justru menjadi pelecut rusaknya keharmonisan bangsa. Suku dan budaya menjadi seperti pedang bermata dua. Menyatukan sekaligus meluluhlantakkan.

Jam pelajarannya selalu di bagian akhir. Istilah seminaris, pelajaran 7-8. Dimulai sekitar Pkl 11.30 siang dan berakhir Pkl 13.00 siang. Jam pelajaran yang notabene sangat dibenci seminaris. Apalagi, pelajaran Tata Negara tepat berada di antara pelajaran olah raga dan jam makan siang. Alhasil, keterlambatan dan rasa kantuk menjadi menu harian Bapak Guru ini. Setiap kali masuk kelas, kelas masih kosong. Paling banter, yang ada di kelas baru 3 sampai 4 orang. Yang lainnya masih menyebar, dari lapangan bola, kamar tidur sampai kamar mandi. Ada yang bahkan masih bersenda-gurau di kamar tidur, tanpa peduli bahwa guru yang penuh dedikasi ini sudah menunggu di kelas. Tak sedikit pula yang memperlama waktu mandi. Tujuannya, waktu di kelas semakin singkat. Sebuah keahlian yang turun-temurun. Tak tahu, sejak kapan keahlian ini pertama kali diciptakan. Yang selalu tepat waktu, biasanya mereka yang digolongkan dalam kelompok alim. Bagi mereka, keterlambatan adalah salah satu kegagalan hidup. Sebisa mungkin kegagalan itu dicegah. Supaya jangan berlarut-larut.

Yang biasa terlambat, biasanya masuk dalam kelompok kaco. Ada yang sudah terbiasa kaco, ada pula yang keahlian kaco hanya berkembang saat mata pelajaran Tata Negara. Berupaya sedemikian rupa supaya terlihat professional kaco. Ketika pelajaran sudah berjalan 20-30 menit, mereka biasanya masuk kelas tanpa perasaan bersalah. Melenggang begitu saja, hanya menggunakan sandal, rambut masih basah, celana robek-robek, baju terbuka di bagian dada. Aneh-aneh, tapi inilah sisi lain seminaris.

Meskipun demikian, Bapak Guru ini tetap sabar. Beliau tetaplah Sang Guru dan Sang Bapak yang selalu maklum akan kenakalan anak-anaknya. Suaranya tetap menggelegar di seantero kelas. Huruf-hurufnya tetap setia menghiasi papan tulis Kelas III IPS. Anak seminari bilang, “Baru tulis satu kata, papan sudah penuh.” Tak ada kemarahan. Tak ada raut muka penuh sinis dan kekecewaan. Baginya, tak masalah jika terlambat; asalkan kekuasaan, negara, partai politik, sistem politik Indonesia, dan berbagai ilmu Tata Negara lainnya bisa dikuasai dengan baik.

Penjelasannya sangat mudah dicerna. Bahasanya ilmiah, tapi sederhana. Tidak berbelit-belit. Pemikirannya sangat rasional, logis, sistematis dan nasionalis. Diselingi sesekali hentakan kakinya di podium dan gertakan tangannya di atas meja, pelajaran Tata Negara menjadi lebih semarak. Hentakan dan gertakan itu bukan hanya untuk menegaskan intisari pelajaran, melainkan juga untuk membangunkan anak-anaknya yang tertidur pulas. Untuk yang satu itu, anak seminari punya cara unik. Duduk tenang di balik meja, posisi duduk sedikit direndahkan, buku Tata Negara ditegakkan tepat di hadapan. Setelah posisi aman, kelopak mata perlahan-lahan mulai tertutup dan masuklah mereka dalam alam mimpi. Bisa juga, dibalik tegaknya buku Tata Negara; novel Mira W, S Mara Gd atau Sydney Sheldon menemani seminaris sepanjang 2 jam pelajaran tersebut.

Pak Agus Retu, sosok kaya pengalaman. Dari beliau, kami belajar tentang semangat hidup. Kami belajar tentang dedikasi dan pengorbanan. Kami belajar mengenai rasionalitas, logisme dan nasionalisme. Kami belajar bagaimana menjadi orang yang 100% Indonesia. Terima kasih, Pak Agus. Panjanglah umurmu selalu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar