Minggu, Maret 06, 2011

Motivasi yang (Mulai) Memudar

Berbicara mengenai Seminari atau lembaga pendidikan seminari, mau tidak mau, kita harus berbicara pula mengenai motivasi. Motivasi itu bagai benih, yang jika terus dipupuk dan dirawat dengan baik, akan mampu tumbuh menjadi sebuah pohon yang mampu berbuah banyak. Motivasi itu bak fondasi dasar sebuah bangunan. Kuat tidaknya sebuah bangunan menahan kencangnya angin yang bertiup, salah satunya, sangat ditentukan oleh rangka fondasi. Semakin baik rangkanya, semakin kokoh bangunan itu. Sebaliknya, semakin keropos rangka fondasinya, semakin riskan pula bangunan tersebut.

Ketika calon seminaris menjalankan sesi interview atau pengisian form pendaftaran masuk seminari di masing-masing paroki, pertanyaan mengenai motivasi itu selalu hadir. Itu pertanyaan wajib. Calon seminaris harus menjawabnya. Tidak bisa tidak. Pertanyaan itu bisa berwujud apa motivasi Anda menjadi calon imam? Bisa juga berupa terangkan motivasi Anda masuk Seminari. Bisa juga dalam format lainnya.

Jawabannya pun beragam. Melayani umat. Bekerja di ladang anggur Tuhan. Memikul salibNya. Meninggalkan ke-duniawi-an. Dan masih banyak lagi. Rata-rata semua motivasi itu luhur. Mulia. Suci. Sangat mendalam. Sangat imamat. Sangat persuasif. Menunjukkan kesungguhan hati seorang calon seminaris untuk diterima menjadi seminaris.

Setidaknya inilah motivasi-motivasi awal ketika Gereja Katolik baru saja menginjakkan kakinya di tanah Flores. Terhitung sejak abad ke-16, setidaknya sampai dengan satu atau dua dekade terakhir, motivasi dipandang sebagai sebuah aspek penting dalam keseharian seminaris. Motivasi ini sangat penting. Ibarat kereta api, motivasi ini lokomotif-nya. Lokomotif-lah yang menggerakkan gerbong-gerbong kereta lainnya. Ke mana lokomotif berbelok, ke situ pula kereta berjalan. Tanpa lokomotif, kereta tak ada apa-apanya. Tak akan berfungsi layaknya sebuah kereta. Motivasi begitu dihargai saat itu.

Di kalangan misionaris asing, motivasi mereka saat itu hanyalah bagaimana meng-Katolik-kan orang Flores yang rata-rata masih memegang teguh agama alam dan adat. Pada saat itu, bagi mereka, orang Flores adalah gens naturaliter Christiana. Secara alamiah bersifat Kristen. Orang Flores sudah punya tata, ritual, kebiasaan, pola ibadah tersendiri. Walaupun masih bersifat alamiah, semuanya itu begitu terorganisir rapi dan sangat sistematis. Kebiasaan mereka saat itu mirip dengan tradisi dan tata ibadat Katolik saat ini. Mereka percaya pada Tuhan. Tak jauh beda dengan saat sekarang. Mereka memberikan sesajen dan persembahan-persembahan. Persis dengan saat ini. Mereka melakukan ritual-ritual adat. Sama persis dengan keadaan sekarang. Oleh karena itu, tidak terlalu sulit bagi para misionaris asing untuk menyebarkan agama Katolik di Flores. Mereka hanya perlu mem-transfer kebiasaan-kebiasaan itu ke dalam sebuah agama resmi yang diakui pemerintah. Sesajen kemudian diartikan sebagai persembahan. Hutan dan batu tempat ibadah kemudian dimaknai sebagai gereja. Ritual dan tata cara perayaan kemudian diartikan sebagai ekaristi. Dengan kata sederhana, para misionaris hanya perlu membimbing dan mengarahkan orang Flores kala itu untuk berada dalam sebuah agama resmi.

Meskipun demikian, upaya itu tidak bisa dianggap sebagai sebuah usaha gampangan. Menembus komunitas-komunitas Flores yang primitif kala itu, mengajarkan mereka tentang agama yang lebih formal dan mengubah budaya dan tradisi mereka, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Ada banyak tantangan. Halangan. Cobaan. Namun, sekali lagi motivasi yang berbicara. Motivasi yang baik akan melahirkan hasil yang baik pula.

Kerja keras, kesungguhan hati, tekad dan motivasi yang kuat, membuat sosok imam begitu dihargai saat itu. Melihat seorang Pastor berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya, mengenakan jubah dan menunggang seekor kuda, adalah sebuah pemandangan yang sangat langka untuk ukuran sebuah pulau yang masih sangat terisolir dan primitif. Motivasi yang kuat dari para misionaris asing untuk menyebarkan dan menanamkan agama katolik di Flores, mengilhami orang Flores untuk menjadi dan berbuat serupa. Pola perilaku para imam saat itu pun sangat pantas dianut. Bagi mereka, panggilan menjadi imam adalah sebuah panggilan suci. Panggilan yang harus murni datang dari lubuk hati terdalam. Datang dari kepercayaan insan akan luhurnya nilai imamat. Datang dari kegersangan hati yang mendambakan oase, bagaikan rusa mendamba air. Imam begitu dihargai saat itu, bukan karena status sosialnya yang tinggi, melainkan karena motivasi, kerja keras, kesungguhan hati dan kesantunan perilakunya. Bukan saja untuk mendidik masyarakat Flores mengenai arti dan nilai Katolik, melainkan juga bagaimana nilai Katolik itu disebarkan, dipertahankan dan dihayati oleh masing-masing orang Flores. Kalau dilihat, pekerjaan mereka memang amat sangat sulit. Otomatis, kuda menjadi sarana transportasi andalan saat itu. Perjalanan jauh kadang harus dilakukan, hanya untuk meng-Katolik-kan orang Flores. Mereka betul-betul menjalankan imamat mereka secara baik. Mereka menjadi nabi bagi orang Flores. Seperti Musa yang memimpin bangsa terpilih keluar dari Tanah Mesir.

Sosok imam seperti inilah yang kemudian mengilhami dan memotivasi orang Flores untuk menjadi imam. Di Flores, seminari pertama kali berdiri pada bulan Februari 1926 di Desa Sikka, Kabupaten Sikka. Alasannya sederhana, saat itu Sikka sudah memiliki komunitas-komunitas Katolik, seperti di Nita, Nele dan Koting. Sejak 1926, jumlah seminaris kian bertambah. Orang Flores begitu termotivasi untuk, bukan hanya menjadi imam, melainkan juga untuk mempertahankan nilai-nilai Katolik yang telah dirintis para misionaris asing. Ketika Seminari di Sikka dipindah ke Mataloko pada tahun 1929, para misionaris tetap berperan besar. Khususnya dalam mendirikan seminari ala sekolah gymnasium Eropa. Saat itu, Rektor pertama Seminari, P. Cornelissen SVD hanya ditugaskan untuk “ajarkan saja semua hal yang Anda anggap penting”. Fondasi-fondasi Katolik itu sudah dibangun dengan begitu baik dan kokohnya. Sekali lagi, kerja keras dan motivasi-lah yang menggerakkan semua ini. Orang Flores, kala itu, melihat imam sebagai sosok pekerja keras dan motivator ulung. Sifat-sifat inilah yang patut dicontoh. Tak heran, jika pada masa-masa itu, orang Flores berduyun-duyun masuk ke Seminari dan menjadi imam.

Sayangnya, motivasi itu mulai memudar. Orang bilang, lebih baik membuat/menciptakan daripada mempertahankan. Memang benar adanya. Di saat Gereja Katolik membutuhkan orang-orang tangguh yang bisa mempertahankan Gereja Katolik di Flores, motivasi masuk seminari justru mulai memudar. Orang tidak lagi berpikir untuk menjadi imam, melayani Tuhan, bekerja di ladang anggur-Nya, menyebarkan nilai cinta kasih Tuhan serta mempertahankan Gereja Katolik di Flores dari serbuan badai zaman.

Saat sekarang, orang masuk seminari bukanlah lagi, murni mau menjadi imam. Seminari justru “hanya” dianggap sebagai tempat mencuri ilmu, tempat penitipan anak-anak nakal, tempat belajar disiplin. Sayang sekali. Amat sangat disayangkan. Memang, tidak semua. Tapi, rata-rata seperti itu. Wajah seminari sudah bukan lagi wajah gymnasium seperti yang dirintis para misionaris asing. Wajah seminari bukan lagi Kawah Candradimuka. Wajah Seminari tercoreng oleh memudarnya motivasi para seminaris.

Implikasinya, imamat pun tidak dianggap sebagai sebuah panggilan suci. Tujuan menjadi imam bukan lagi untuk menjawabi panggilan Tuhan. Tujuannya mulai merembet ke mana-mana. Menyenangkan keluarga-lah. Agar status sosialnya tinggi-lah. Menjadi orang yang terpandanglah. Memang, tidak semua. Tapi, tren seperti itu mulai ada di Flores. Sebisa mungkin, tren ini dipangkas sejak dini, supaya tidak menjadi penyakit kronis yang menggerogoti seluruh tubuh Gereja Katolik di Flores. Apalagi, Flores terkenal dengan kemiskinan dan pengangguran yang tinggi. Bukan tidak mungkin bahwa imamat, kemudian tidak dianggap sebagai panggilan suci lagi, melainkan menjadi lapangan pekerjaan. Alasannya sederhana, kebutuhan mendasar kita terpenuhi ketika kita menjadi imam.

Jakarta, awal Maret, 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar