Minggu, April 10, 2011

Belajar dari Sang Pekerja

Nama lengkapnya Yusuf Bilyarta Mangunwijaya. Dilahirkan di Ambarawa, 6 Mei 2009, kaca mata tebal selalu melekat di wajahnya. Dikenal sebagai rohaniwan, budayawan, arsitek, penulis, aktivis dan pembela wong cilik; beliau akrab disapa Romo Mangun.

Ketika meninggal pada tanggal 10 Februari 1999, beliau baru saja memberikan ceramah dalam Seminar Meningkatkan Peran Buku dalam Upaya Membentuk Masyarakat Indonesia Baru di Hotel Le Meridien, Jakarta. Sosok Romo Mangun dikenal, bukan saja sebagai rohaniwan Katolik, tetapi lebih jauh dari itu, beliau dikenal sebagai orang yang selalu dekat dengan lapisan masyarakat terbawah, merasakan suka-duka hidup sebagai orang tak berkepunyaan.

***

Setelah menamatkan pendidikannya di HIS Fransiscus Xaverius, Muntilan, Magelang (1936-1943), Romo Mangun kemudian masuk menjadi siswa seminari di Seminari Menengah Kotabaru, Yogyakarta (1951) dan pindah ke Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius, Mertoyudan, Magelang setahun kemudian. Pada tahun 1953, Romo Wong Cilik ini melanjutkan pendidikannya ke Institut Filsafat dan Teologi Santo Paulus di Kotabaru. Salah satu pengajarnya adalah Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ. Setelah menamatkan pendidikannya, Romo Mangun banting setir. Pendidikannya dilanjutkan di Intitut Teknologi Bandung, mengambil Jurusan Teknik Arsitektur.

Bagi kebanyakan orang, sosok Romo Mangun ini sungguh bermakna. Setidaknya, bisa dilihat dari dual hal ini.

Pertama, selain sebagai seorang Pastor, Romo Mangun adalah juga pembela wong cilik. Kedekatannya dengan wong cilik terlihat dari berbagai kegiatan sosial yang dilakukannya. Pada tahun 1980-1986, misalnya, Romo Mangun mendampingi warga tepi Kali Code yang terancam penggusuran. Ia juga turut melakukan mogok makan menolak rencana penggusuran. Pada periode selanjutnya, tepatnya 1986-1994, Romo yang setia dengan janggut putihnya ini mendampingi warga Kedung Ombo yang menjadi korban proyek pembangunan waduk. Keberpihakannya terhadap masyarakat kecil juga terlihat ketika Rama Mangun (bahasa Jawa) mendirikan laboratorium Dinamika Edukasi Dasar. Model pendidikan DED ini diterapkan di SD Kanisius Mangunan, di Kalasan, Sleman, Yogyakarta.

Beberapa contoh ini setidaknya membuktikan kalau Romo Mangun tetaplah Romo yang rendah hati. Romo yang mau turun langsung ke tengah umat. Romo yang mau langsung merasakan suka-duka hidup sebagai orang miskin, kecil dan tak berharta. Romo yang mau merasakan dulu realitas hidup umat, sebelum memberikan kotbah berapi-api dengan kata-kata manis dari balik mimbar. Romo yang lebih mementingkan aksi dan kerja nyata, ketimbang permainan kata-kata filsafat dan teologi.

Kedua, selain dikenal sebagai Romo Wong Cilik, Romo Mangun juga terkenal sebagai arsitekt handal. Ilmu yang diperolehnya di ITB membawa beliau memperoleh penghargaan The Aga Khan Award, yang merupakan penghargaan tertinggi karya arsitektural di dunia berkembang, untuk arsitektur Kali Code, pada tahun 1992. Beberapa karya Romo Mangun adalah pemukiman warga tepi Kali Code, kompleks religi Sendangsono, Gedung Keuskupan Agung Semarang, Gedung Bentara Budaya Jakarta, Gereja Katolik Jetis Yogyakarta, Gereja Katolik Cilincing Jakarta, Markas Kowihan II, Gereja Maria Assumpta Klaten dan masih banyak lagi.

Baginya, menjadi Romo, haruslah bisa menjawabi kebutuhan umat yang paling mendasar. Mungkin itu yang ada di benak beliau saat itu. Dengan ilmu arsitekturnya, ia berbuat banyak hal bagi umat. Ia malah sama sekali “mengenyampingkan” ilmu filsafat dan teologinya, karena baginya, umat lebih membutuhkan ilmu yang langsung “menyentuh”.

***

Hal yang tak jauh berbeda, juga dilakukan oleh P. Samuel Oton Sidin, OFM Cap. Hutan yang terus berkurang di Kalimantan Barat, akibat pembalakan liar dan pembukaan perkebunan kelapa sawit besar-besaran, membuat Pater ini khawatir. “kalau hutan habis, air juga akan habis, terutama ketika kemarau. Bagaimana kita bisa hidup tanpa air?” ungkapnya sebagaimana diberitakan Harian Kompas, 5 April 2011. Ekspansi perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat pada tahun 1998 membuat ia prihatin, sekaligus sedih. Samuel bukan tak setuju dengan perkebunan kelapa sawit, tetapi ia menyayangkan cara ekspansi dan dampaknya terhadap lingkungan.

Setelah membeli beberapa hektar tanah pada tahun 2003, bersama beberapa anggota komunitas Kapusin, ia kemudian menanami kawasan yang disebut Bukit Tunggal. Ia turun tangan mulai dari pembenihan, mencangkul lubang, hingga merawat tanaman. Hingga tahun 2011, sekitar 100 hektar lahan di Bukit Tunggal telah dihutankan.

Pater Samuel jelas patut dicontoh. Imamatnya, ia wujudnyatakan, dengan turun langsung ke tengah umat, merasakan situasi riil yang terjadi di masyarakat dan melakukan aksi nyata. Penolakannya terhadap ekspansi kelapa sawit, karena alasan lingkungan, langsung dibuktikannya dengan menghutankan kawasan Bukit Tunggal. Jadi, ia tidak hanya mengkritik, tapi juga langsung bekerja dan menawarkan solusi.

***

Romo Mangun dan Pater Samuel adalah dua imam yang memberikan pelajaran lain kepada kita. Bagi saya, mereka bukan hanya filsuf dan teolog, mereka juga adalah imam yang peduli dan mau bekerja. Mungkin bagi mereka, tidak cukup hanya memiliki ilmu filsafat dan teologi. Harus juga memiliki ilmu praktis, yang bisa langsung “menyentuh” umat, yang dampaknya langsung dirasakan umat. Jadi, tidak sekedar berbusa-busa bicara, harus juga berkeringat bekerja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar