Kamis, Juni 30, 2011

Di San Diego, Merah Putih Berkibar

Kepergian Bapak masih menyisakan dukacita mendalam bagi kami. Setidaknya, suasana di gerbang depan kantor terasa berbeda. Sedikit lebih sepi. Biasanya, ketika akan memasuki kantor, para pengawal Bapak tampak ramai di depan kantor, menanti kapan Bapak akan berangkat meeting atau sekedar memanggil mereka. Sekarang situasinya berbeda. Seolah ada “roh” dari kantor ini yang hilang, terbang entah ke mana, meninggalkan jiwa-jiwa kami yang sebenarnya tak dapat berbuat banyak. Jiwa-jiwa yang sebenarnya masih mengharapkan dan membutuhkan petuah, nasihat, arahan, sedikit gertakan dari Bapak. Pun, kedipan mata Bapak saat di ruang meeting, termasuk panggilan “Ananda”-nya kepada semua karyawan.

Internal meeting perdana, kemarin, selepas kepergian Bapak pun terasa berbeda. Walaupun dimulai dengan beberapa gebrakan baru yang cukup menjanjikan oleh satu-satunya putra Bapak, pertemuan kemarin tetap meninggalkan nostalgia akan Bapak. Biasanya Bapak duduk di kursi itu. Tepat di tengah meja panjang yang biasa kami gunakan untuk pertemuan. Lengkap dengan kemeja lengan panjang, jas dan beberapa pulpen di saku jasnya. Pulpen biru, ciri khas pulpen Ritz-Carlton Hotel. Tak lupa, sambil memimpin rapat, Bapak akan sesekali merapikan rambutnya dan mengunyah permen. Jika kesempatan bicaranya tiba, permen akan dikeluarkannya, digenggamnya di tangan kirinya, sambil tangan kanannya memegang mic untuk berbicara. Setelah selesai, permen akan dikunyahnya kembali. Di samping Bapak, keempat orang anaknya setia menemani. Minus salah satu putrinya.

Bapak biasanya mulai dengan arahan-arahan umum sebelum sesekali bertanya kepada kami. Diselipi candaan-candaan khasnya, Bapak bukan sekedar chairman bagi kami. Jauh melampaui itu, rasa sayang dan perhatian Bapak kepada kami membuat kami seolah menemukan figur Bapak lain, selain Bapak biologis kami masing-masing. Suasana kekeluargaan jelas sekali terasa setiap kali kami bertemu Bapak di meja panjang itu. Pertemuan biasanya diakhiri dengan makan bersama. Di meja yang sama, kami makan bersama. Sebuah situasi yang sangat jarang bisa kita jumpai. Bapak seolah membuka mata kami semua, seperti inilah seorang pemimpin seharusnya menjadi.

Terlepas dari begitu banyaknya kontroversi seputar ekspansi perusahaan ini, khususnya di NTT, tempat Bapak dilahirkan dan dibesarkan, banyak yang tidak menyadari betapa nasionalisnya Bapak. Ini juga salah satu poin penting yang selalu ditanamkan Bapak kepada kami. Seolah sedang membangun rumah, Bapak menempatkan rasa nasionalisme dan kecintaannya kepada pertiwi ini sebagai fondasi rumah. Bapak itu amat sangat nasionalis. Bapak, bahkan jauh lebih mencintai negara ini, bangsa ini, ketimbang Bapak mencintai dirinya sendiri. Bagi Bapak, Indonesia harus diselamatkan. Bagi Bapak, bangsa Indonesia harus menjadi tuan di rumahnya sendiri. Sebagai orang yang hidup juga dalam masa pemerintahan Soekarno, Bapak tahu betul bagaimana perjuangan bangsa ini keluar dari penjajahan. Bapak tahu betul bagaimana susah dan sulitnya bangsa ini berdikari, berdiri di atas kaki dan tanah sendiri. Dan, itulah nilai yang diajarkan Bapak kepada kami. Indonesia itu bukan merah-putih-biru, merah-putih-hijau, atau kombinasi warna lainnya. Indonesia itu MERAH-PUTIH.

Perlakuan Bapak kepada semua karyawannya pun mencerminkan nilai nasionalis ini. Bapak tidak pernah pandang bulu. Dalam setahun, perusahaan merayakan 3 hari besar: Imlek, Idul Fitri dan Natal. Semua orang harus diperlakukan karena eksistensinya sebagai orang Indonesia, bukan karena dia Kristiani, Islam, Hindu atau Budha. Indonesia itu majemuk, plural. Indonesia itu Pancasila. Indonesia itu bukan Kristiani, Islam, Hindu atau Budha. Di tengah lunturnya nilai-nilai Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan semangat nasionalis, masih ada Bapak, seorang yang lahir di pulau terselatan Indonesia, yang selalu menjunjung tinggi merah-putih. Bagi Bapak, merah putih itu harga mati.

Dalam setiap kegiatan dan/atau perayaan perusahaan, lagu Indonesia Raya senantiasa dikumandangkan. Bahkan, di perayaan Natal 2010, Bapak sendirilah yang naik ke mimbar dan memimpin kami menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kecintaan Bapak kepada negara ini sungguh sangat pantas dan harus dicontoh, bukan saja oleh karyawannya, melainkan juga oleh semua orang yang mengaku orang Indonesia. Selain Indonesia Raya, tak jarang Bapak juga memimpin kami dalam lagu Indonesia Pusaka. Bagi Bapak, Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya. Indonesia sejak dulu kala, tetap dipuja-puja bangsa. Dalam sebuah pertemuan di Ritz-Carlton Hotel bersama sekelompok masyarakat dari Sumbawa, seperti yang tercatat dalam buku agenda saya, Bapak pernah berujar, “Ananda, mineral itu punya rakyat. Tuhan anugerahkan itu untuk dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, bukan kemakmuran perusahaan.”

Di bidang bisnis, Bapak juga sangat menjunjung tinggi kepentingan bangsa ini. Bapak selalu menekankan agar pihak nasional (Indonesia) menjadi mayoritas, mampu menguasai sumber daya alam yang ada di bawah perut bangsa ini. Pasal 33 ayat 3 harus diimplementasikan sejelas-jelasnya. Dalam kasus Newmont misalnya, atas prakarsa Bapak, dikenallah apa yang dinamakan divestasi. Pihak asing, setelah tahun kelima berproduksi, harus mengembalikan saham kepada Indonesia, sampai dengan minimal 51%. Tujuannya, agar pihak Indonesia menjadi tuan atas sumber dayanya sendiri. Selain itu, Bapak juga mulai melakukan gebrakan baru. Di saat pemerintah daerah lain terlilit hutang akibat menggandeng beberapa perusahaan tambang, Bapak sudah mulai dengan program hibah saham untuk pemerintah daerah. Di saat banyak pemerintah daerah masih bertanya-tanya seputar berapa banyak keuntungan yang akan mereka dapat, Bapak sudah bicara soal, bukan lagi pembagian saham, melainkan juga pembagian keuntungan. Prinsip Bapak hanya satu, “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.”

Di saat negara ini dikerubuti pihak asing, kita butuh orang-orang nasionalis seperti Bapak. Di saat negara ini digigit tikus-tikus koruptor, kita butuh Bapak yang selalu menjunjung kebenaran.

Kini, Bapak sudah tiada. Beberapa bulan yang lalu, saat perayaan Paskah 2011, Bapak masih tampil perkasa. Didahului pengawalnya, Bapak turun dari mobil dengan gagahnya, lengkap dengan kacamata hitamnya. Beberapa hari yang lalu, 25 Juni 2011, Bapak tetap turun dari mobil. Tetap didahului beberapa pengawal. Namun, bukan di Ritz-Carlton. Melainkan di San Diego Hills. Bukan dengan kaca hitamnya, melainkan dalam peti putih.

“Kalau kita merasa sudah cukup mengabdi, kita tidak lagi diperlukan dunia dan Tuhan. Lantas, dunia dan Tuhan akan berkata: untuk apa berlama-lama menahan orang ini?” Bapak, kepergianmu bukan berarti Engkau sudah merasa cukup mengabdi. Justru Sang Pencipta, Sang Empunya kehidupan-lah yang melihat begitu besar pengabdianmu untuk bangsa dan sesama. Engkau sudah menyelesaikan pertandingan kehidupan ini. Di tanganmu, kini ada Piala Yusuf, piala kemenangan atas pengabdian. Piala Yusuf itu kini didapati di surge. Selamat jalan, Bpk DR Jusuf Merukh. Doa kami menyertaimu. Di San Diego, Merah Putih itu Berkibar….

5 komentar:

  1. baguuzzzz,maann...
    hukzzz...
    jadi terharu...
    trut b'duka,maann...

    BalasHapus
  2. Eman, Bapak adalah PAHLAWAN SEJATI bagiku. Bapak pantas mendapatkan gelar itu bukan karena pertumpahan darah untuk merebut kemerdekaan tapi karena kharismanya yang membuat kami berperang melawan nurani untuk terus memperhatikan kaum lemah, untuk trus menyalurkan berkat kepada sesama...... Bapak, kami rindu senyumanmu, kami rindu sapaanmu, kami rindu "roh"mu di dalam ruang hati kami... Tuhan, titip salam dan rindu kami untuk Bapak Jusuf Merukh..... Amin

    BalasHapus
  3. he'll always be the father to all of us,, live forever in our heart :)

    BalasHapus
  4. Manceeee.... Lo bikin gue jadi mewek lagi yah. Hikshikshiks... Missing him so much for his strong nationalism views and humble fatherly figure to all of us. Always remember everything he said when I was being too soften and told me that a makassar woman should be confident and bold on what she believes. Also hard to forget anytime he challenged me and said that i was a westernized education product which i always replied with smile... lol what should i say?? :p

    BalasHapus