Senin, Desember 26, 2011

Amerika Latin. Flores?


Pertama kali datang ke Jepang, saya berkenalan dengan banyak teman dari Amerika Latin. Brazil, Paraguay, Ekuador, Bolivia, Peru, Argentina. Plus Guatemala. Mereka teman-teman yang menyenangkan. Saya suka ketika mereka berbicara dalam bahasa Spanyol dengan aksen yang berbeda-beda, kecuali orang Brazil yang berbahasa Portugis. Saya juga suka ketika mereka berkumpul bersama. Selalu ada pesta, daging dan minuman beralkohol. Persis orang Flores. Mungkin karena Portugis-lah yang datang ke Flores, sehingga Flores mewarisi tradisi Portugis yang juga tidak jauh berbeda dengan pola hidup orang Spanyol dan Amerika Latin. Rasa kekeluargaan mereka juga tinggi. Mereka selalu saling menyapa dan merangkul satu sama lain ketika bertemu atau berpapasan. Sesuatu yang mengingatkan saya akan tingginya rasa kekeluargaan orang Flores. Saat berkenalan dengan mereka, tanpa disadari, saya merasa nyaman dangan komunitas mereka. Waktu itu, saya berpikir mungkin karena mayoritas mereka adalah Katolik, sehingga saya bisa berbicara banyak hal dengan mereka. Saya bisa nyambung dengan mereka.

Seorang teman dari Bolivia, seorang yang sangat Katolik,-lah yang mengantarkan saya pertama kali ke gereja Katolik di Kobe. Gereja yang sangat sederhana, tapi umatnya selalu bersukacita. Ada berberapa dari Afrika. Uganda misalnya. Ada juga yang datang dari negara-negara Eropa walaupun jumlahnya tidak banyak. Mayoritas datang dari Amerika Serikat dan Filipina. Orang Filipina ini memang spesial sekali. Mereka selalu aktif dalam kegiatan gereja. Maklum, Filipina adalah negara dengan umat Katolik terbesar di Asia. Beberapa kali, dalam perayaan ekaristi di Vatikan, doa umat dibacakan dalam bahasa Tagalok. Jumlah mereka juga mendominasi umat di gereja Katolik di Kobe. Tidak jauh berbeda dengan orang Flores. Di luar dan di dalam Flores, orang Flores selalu aktif dalam berbagai kegiatan gereja atau yang berkaitan dengan Katolik.

Sayang, perkiraan saya mengenai ke-Katolik-an teman-teman Amerika Latin sedikit meleset. Kedekatan saya dengan mereka, membuat saya bisa berdiskusi banyak hal, khususnya tentang agama Katolik. Walaupun datang dari negara-negara Katolik yang terkenal konservatif, mereka sangat open-minded. Mereka selalu berpikir praktis. Hari ini, ya hari ini. Agama, ya agama. Katolik, ya Katolik. Tuhan, ya Tuhan. Rupanya mereka tidak suka berdebat tentang agama secara filsafat atau teologis. Waste of time. Satu dan/atau dua generasi di atas mereka memang sangat Katolik. Selalu ke gereja setiap hari Minggu. Selalu aktif dalam kegiatan-kegiatan gereja. Selalu mengajar di setiap Sekolah Minggu. Selalu menerapkan prinsip-prinsip Katolik dalam keseharian hidup mereka.

Hal ini berbeda dengan generasi sekarang. Setidaknya, ini yang bisa saya simpulkan dari mereka. Banyak dari antara teman-teman saya, mayoritas bahkan, sudah meninggalkan agama Katolik dan beralih ke Agnostic. Ini fenomena yang baru buat saya, tapi tidak buat negara-negara Amerika Latin. Agnostic beda dengan Atheis. Kaum Atheis tidak percaya pada adanya Tuhan. Sebaliknya, kaum Agnostic tidak peduli apakah Tuhan itu ada atau tidak. Yang terpenting bagi mereka adalah berbuat baik kepada sesama. Moral-lah yang terpenting, bukan agama. Mirip-mirip orang Jepang. Di Jepang, semua orang merayakan Natal, tapi sebagai sebuah perayaan komersial belaka, bukan sebuah perayaan keagamaan. Hal inilah yang dikecam Paus dalam kotbahnya di Vatikan. “The number of agnostic is increasing,” kata teman dari Bolivia. Anak-anak muda yang paling rentan terhadap fenomena ini. Seorang teman dari Ekuador juga menganut paham Agnostic. Baginya, hubungannya dengan Tuhan adalah sesuatu yang sangat privat. Agama hanyalah media. Baginya, semua manusia itu sama. “We’re all equal,” katanya. Ini untuk menunjukkan bahwa ia tidak percaya pada hirarki gereja. Baginya, buat apa beragama kalau moral kita buruk. Buat apa ke gereja tiap hari Minggu, kalau setiap pulang gereja kita langsung berbuat dosa.

Teman dari Brazil beda lagi. Ketika kami sedang berada di dalam sebuah bis menuju Kanazawa, dia bercerita banyak tentang bagaimana ia meninggalkan Katolik dan berpindah ke Agnostic. “Emanuel, when I was young, I was very-very Catholic. I did every Catholic prayers, went to church every Sunday. But, after being teenager, I read all religious books and found that every religion was different one to another. I decided not to have religion. I told my mother I didn’t wanna go to church anymore. But, my families are still Catholic.” Setidaknya, ini kalimatnya yang masih saya ingat. Teman lain, juga dari Brazil, ketika saya tanya apakah dia mau menemani saya ke gereja saat Malam Natal, dengan enteng dia menjawab, “I hate the church.” Tentu, ada alasan di balik pernyataan ini. Tapi, dia memberikan ucapan Merry Christmas ketika kami bertemu lagi setelah saya kembali dari gereja.

Teman dari Paraguay, yang juga satu jurusan dengan saya, punya kisah tersendiri. Dia bilang, “I became Catholic until I was fifteen or sixteen. After that, I left Catholic.” Lebih lanjut, dan ini bagian yang juga menarik, dia bilang, “President of Paraguay was an ex-Bishop. People chose him because people thought that he was a good person, as he was an ex-Bishop. But, he does many bad things after being elected. That’s why I didn’t like Catholic hierarchy.”

Mereka malah heran ketika saya bercerita tentang Pulau Flores. Tentang orang-orang Flores yang sangat mencintai Katolik, tentang gereja yang penuh di setiap hari Minggu, tentang sekolah-sekolah seminari, tentang bagaimana orang Flores sangat menghormati dan selalu memberikan yang terbaik kepada hirarki gereja walaupun mereka sebenarnya sedang berusaha keluar dari lingkaran kemiskinan. Seorang teman dari Ekuador menjawab, “Wow, you are a serious Catholic”, sambil menambahkan bahwa masalah kemiskinan juga dihadapi oleh Amerika Latin, karena mayoritas mereka adalah negara berkembang, kecuali Brazil yang diprediksi bisa menggeser posisi UK dalam daftar negara-negara maju.

Terlepas dari setiap pengalaman pribadi mereka meninggalkan Katolik, mereka punya pendapat yang sama dalam beberapa hal. Pertama, orang muda adalah golongan yang paling rentan. Mereka selalu mencari sesuatu yang baru yang mampu menampung jiwa bebas mereka. Selama gereja Katolik masih konservatif (seorang teman dari Mongolia pernah bertanya, Emanuel, Catholic is conservative, isn’t it?), masih menggunakan pendekatan mimbar dan kotbah, diprediksi golongan muda yang meninggakan Katolik akan semakin banyak. Kedua, pendekatan gereja harus lebih kontekstual, karena pada hakikinya masyarakat selalu berubah. Hal ini juga diamini seorang teman dari Ceko, yang juga meninggalkan Katolik sejak berumur belasan tahun. ”Society is changing. Our generation will not be the same as our mother’s or grandma’s generation.” Ketiga, agama itu hanya media. Dan semua manusia adalah sama kedudukannya. Gereja juga hanya media. Hubungan manusia dengan Tuhan adalah hubungan yang sangat privat. Hirarki gereja pun manusia berdosa, sama seperti yang lain.

Secara pribadi, saya pernah tinggal di tiga daerah berbeda. Di Flores, di mana Katolik adalah mayoritas. Di Jawa, di mana Katolik adalah minoritas. Dan sekarang, di negara di mana orang tidak terlalu mempedulikan agama. Mayoritas penduduk Jepang tidak beragama, tapi moral mereka sangat baik. Bandingkan dengan Indonesia. Kita punya 6 agama resmi, tetapi selalu bersentuhan dan bersinggungan satu sama lain. Selalu ada konflik dan fanatisme agama. Tinggal di 3 tempat tersebut membuat saya banyak belajar tentang agama, tentang saling menghormati, belajar memahami konsep agama negara lain, belajar berkenalan dengan orang-orang yang tidak beragama tapi percaya pada Tuhan. Semuanya indah. Semuanya menambah wawasan dan pengetahuan saya. Bagi saya, selama kita tetap tinggal di daerah yang agama kita adalah mayoritas, pikiran kita tidak akan pernah terbuka. Kita selalu berpikir kita-lah yan terbaik.

Memang, alasan mereka meninggalkan Katolik tidak bisa ditelan bulat-bulat. Kadang, orang memilih untuk tidak beragama sebagai cara pintas menghindar dari berbagai kewajiban agama. Misalnya, sholat 5 waktu atau ke gereja tiap hari Minggu. Namun, kita juga tidak bisa menutup mata terhadap fenomena ini. Ini fenomena global. Masyarakat terus berubah. Katolik sekarang sedang diterpa cobaan. Skandal seks, misalnya. Paus sampai harus meminta maaf secara resmi kepada para korban pelecehan seksual. Belum lagi fenomena orang-orang yang meninggalkan Katolik.

Bagaimana dengan Flores? There’s always possibility for everything.

Kobe, 27 Des 2011

4 komentar:

  1. Pengalaman yg menyenangkan, bravo

    BalasHapus
  2. Wala...sangat menggugah sekali la pa'e..

    BalasHapus
  3. Lilin Kecil: Terima kasih..

    Rickie: Kau jangan mulai de'i...

    BalasHapus
  4. saya bisa kesasar ke halaman ini; persisi seperti yang sedang saya alami saat ini. saya juga dulu lahir besar di Flores, kae. terus kuliah 3 tahun di Jakarta; dan kini 5 tahun sudah menetap di Sumatera, di sebuah kabupaten yang 95% masyaraktnay Muslim.

    selalu jadi permenungan bagi saya; semenjak saya di sini. saya jadi sangattt jarang ibadah secara Katolik; jarang ke gereja;akhirnya saya putuskan untuk TETAP HIDUP BENAR; berjalan sesuai IMAN KATOLIK; tapi tidak pernah lagi ke Gereja karena KEADAAN dan perlaahan saya mulai menyadari,ternyata 2 tahun ini saya saya benar2 semakin mantap menjadi Agnostic.

    Apakah ini DOSA, kae? Apakah ini SALAH?
    Saat saya menjalani hidup saya dgn NORMAL, selalu berbuat kebaikan kepada sesama Manusia; selalu belajar Sabar dan selalu memaafkan; pokoknya begitu banyak point2 Humanis telah saya lakukan;
    tapi saya tidak pernah ke gereja lagi ka'e; tidak baca alkitab lagi;tidak dengar Kotbah lagi; tapi lebih ke PRAKTIK isi kotbah dan isi alkitab kae....

    bagaimana menurut ka'e?

    SALAM

    BalasHapus