Selasa, Oktober 30, 2012

Flores is here...


Semua sudah tahu artinya. Bunga. Tidak pasti apa alasan bangsa Portugis memberikan nama “Flores”. Apalagi, saat itu bangsa Portugis masuk ke pulau ini lewat daerah bagian timur, Larantuka dan Maumere. Daerah kering dan gersang. Mustahil ada banyak bunga bermekaran di sana. Ini asumsi saya.
Terlepas dari itu semua, pamor Flores sekarang sedang naik daun. Detik Travel, TransCorp, Gambara Photo, MetroTv; contoh beberapa media yang jatuh cinta dengan Flores. Sudah ada banyak acara maupun program yang tujuannya menyibak keangkeran, kemistisan, keindahan dan kekayaan Flores. Entah program wisata, budaya, religi, ataupun sekedar jalan-jalan.
            Hidup jauh di negeri orang tidak membuat saya lupa dengan Flores. Ini tanah kelahiran saya, nusa tempat saya dibesarkan. Apalagi, ditambah dengan fakta bahwa saya sudah “berpisah” dengan Flores sejak tahun 2005, ketika saya putuskan untuk kuliah di Jogja. Perjalanan hidup saya selanjutnya sampai dengan saat ini, selalu saya lalui di luar Flores.
            Selalu ada perasaan bangga, rindu, terharu; ketika membaca tulisan atau menonton program tentang Flores. Nama itu begitu kuat memanggil, begitu kaya makna. Emosi kita, minimal emosi saya, selalu dipermainkan ketika mendengar nama itu. Flores. Nikolas Saputra bahkan bilang, ini Berlian Tak Tersentuh. Lain lagi dengan Menteri Pertanian, Anton Apriyantono. Ketika menjejakkan langkahnya di Flores, menteri yang hobi memotret ini hanya bisa bilang, “Pulau ini lebih indah dari Yunani”. Annisa Hertami, ketika sedang sesi pengambilan gambar di Ende untuk film Soegija, berujar, “Pinginnya sih lebih lama di Flores agar bisa berkeliling hingga Labuan Bajo untuk lihat komodo, juga Lamalera di Pulau Lembata. Semoga suatu saat nanti bisa kembali lagi ke Flores” (Sumber: Pos Kupang).
***
            Ketika pertama kali tiba di Jepang, saya sudah bertekad untuk mempromosikan Flores. Dunia perlu tahu. Wajib, bahkan. Ini keindahan Tuhan yang ada di bumi. Ada ungkapan, “If Bali is Paradise, then Flores is Nirvana”. Benar juga. Dari pantai sampai puncak gunung, dari yang terbang di udara sampai yang ada di dalam kerak bumi; semuanya indah. Eksotis.
            Hal pertama yang saya buat adalah upload sebanyak mungkin foto-foto Flores di facebook saya. Ini cara paling mudah dan paling bisa menarik perhatian. Banyak komen positif. Seorang teman Jepang, bilang “omg how beautiful....>< i wanna go”. Teman dari Malang, malah lebih terkejut lagi. Komennya hanya dua kata, “Awesome!!!!!! Subhanallah..”. Seorang teman dari Argentina, yang juga sedikit tahu Bahasa Indonesia, bilang, “Bagus!”. Seorang teman dari India punya pendapat yang tak jauh beda dengan pendapat Menteri Anton. “Man, Flores is just like Greece. I like that kind of beach. White sandy beach, brown hills and deep blue water”.
            Selanjutnya, promosi saya tentang Flores tetap dengan cara-cara yang sederhana. Lewat pesan dari mulut ke mulut. Dari cerita ke cerita. Saat makan siang, saat main futsal, saat belajar. Selalu ada cerita tentang Flores yang terselip. Seorang teman dari Jakarta, sampai heran,”Bangga amat kamu sama Flores!” Sebuah pernyataan yang tak perlu ditanggapi. Mereka hanya belum mengerti betapa bangganya kita jadi orang Flores. Posisi Flores saja mereka kadang tidak tahu. Harus minta bantuan Google Maps.
            Setiap kali ada teman-teman yang tanya tentang Indonesia, saya selalu semangat untuk cerita. Tentu, harus mulai dari Bali. Ini sudah jadi rumus umum. Maklum, di Jepang, mungkin juga di negara lain, Bali bahkan jauh lebih terkenal dari Indonesia. Dari Bali, barulah saya selipkan cerita-cerita, tulisan, website, video tentang Flores. Tentang Labuan Bajo dengan Komodo, Rinca, Kanawa dan Pantai Pink-nya. Tentang Manggarai dengan caci, sawah laba-laba, Tengkulese, Liang Bua. Ngada dan Nagekeo dengan desat adat Bena, Belaraghi dan Taman Laut Riung. Ende dan Sikka dengan tenun ikat, Kelimutu, Sea World Club. Terakhir, Larantuka dan Lembata dengan prosesi Semana Santa, perburuan ikan Paus. Mengenai Semana Santa ini, teman-teman Amerika Latin yang paling semangat untuk dengar. Maklum, mereka juga punya istilah Semana Santa, hanya mungkin dengan cara yang berbeda.
            Meja belajar saya juga saya dekorasi sedemikian rupa, penuh dengan cita rasa Flores. Saya sengaja beli beberapa buku tentang Flores dari Contact Swiss di Bali. Selendang tenun ikat, sengaja saya pajang berdampingan dengan bendera Indonesia. 100% Indonesia, 100% Flores, bukan? Hehehe… Tentu, tujuannya agar semua orang tahu tentang Flores. Biasanya, yang berwujud gambar/video itu yang paling menarik perhatian.
            Saat saya sedang di Okinawa, kebetulan ada acara kampus di sana, seorang teman dari Ekuador kirim SMS ke saya, kalau tidak salah sekitar jam 11 malam. “Amigo, there is a program now in Japanese TV, about Flores. Beautiful!” Sontak, saya langsung hidupkan TV. Benar juga, Sang Presenter ternyata lagi mengagumi Pantai Pink. Acara sekitar 1 jam benar-benar jadi obat rindu buat saya. Beberapa bulan setelahnya, salah satu keluarga di Jepang, yang saya kenal karena anaknya nikah dengan orang Bali, juga kirim SMS ke saya, dengan Bahasa Indonesia yang jatuh-bangun. “Nanti malam, ada Flores di televisi. Mari nonton!”
            Sekarang, saat temperatur mulai bergerak turun, jaket tenun ikat memang paling pas untuk menyambut musim dingin. Hangatnya pas. Kombinas warnanya, plus warna dedaunan yang mulai memerah, memang enak dilihat mata. Ini juga salah satu cara promosi Flores. Saya memang sengaja akan pakai jaket sarung ini. Setidaknya, teman dari Brazil sudah jatuh cinta dengan tenun ikat Flores, ketika saya tunjukkan foto-foto Nona Alfonsa, saat pemaparan tentang tenun ikat di Brazil beberapa waktu lalu.

Teman, Saudara…
Promosi tentang Flores itu tidak harus dengan cara yg bombastis. Mari kita mulai dengan hal-hal yang kecil, yang sederhana. Mulai dari orang-orang terdekat kita. Yakin saja, cerita tentang Flores ini akan terus bergema. Saat sedang buat tulisan ini pun, saya sebenarnya sedang chatting dengan teman, yang lagi berapi-api tanya semua info tentang Flores. Biarkan semerbak harumnya Flores menyebar ke segala penjuru mata angin.

Seorang teman dari Jerman, pernah berseloroh, “Bro, I see you always post something about Flores. Pics, videos, links. Am wondering why! Just because you love Flores?”
Dengan sederhana, saya jawab, “Bro, Flores is here…!” (ujar saya sambil mengepalkan tangan di dada sebelah kiri).


(Menjelang Musim Gugur 2012)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar