Selasa, November 13, 2012

Antara Flamboyan dan Momiji


Mataloko.
Saat-saat seperti ini, biasanya saat yang ditunggu oleh kami. Maklum, libur Natal sudah di depan mata. Suasana Natal, kerja kandang Natal, lapor diri di paroki, harum kue Natal, bunyi klakson bis Surya Agung di pendopo; sudah mulai terbayang-bayang.  Kesempatan untuk kasih naik badan, setelah sekitar 4 bulan, sejak September, kami menderita dengan kacang ijo, sayur labu dan beberapa lalat di dalamnya. Ah, anggap saja lauk-pauk tambahan.
Kalau menjelang libur Natal begini, ada suasana khas di Mataloko. Biasanya sudah masuk musim hujan. Hujan bisa dari pagi sampai sore. Dingin. Kabut. Pakaian bisa berhari-hari baru kering. Semua tampil dengan jaket membungkus badan, biasanya jaket bola. Ciri khas anak seminari. Karena hujan, Mataloko pun jadi hijau. Sejauh mata memandang, hanya warna hijau yang terlihat. Mulai dari Wolokuru, Wolosasa, Kemah Tabor, kompleks paroki dan seminari, Malanuza, Toda, Gizi, Dadawea; mayoritas hijau. Rumput tumbuh subur. Main bola jadi lebih asyik.. Taman bunga jadi lebih indah. Bunga bermekaran di mana-mana. Semua seperti berdandan menyambut Natal.
Salah satu ciri khas unik lainnya adalah pohon Flamboyan di belakang kamar tidur SMP. Ini memang benar-benar pohon terang. Seperti lagu Natal, Pohon Terang. Kalau di Eropa ada pohon cemara, yang selalu ditutup salju menjelang Natal, Mataloko juga punya tanda yang sama, pohon Flamboyan yang bermekaran. Kalau pohon Flamboyan mulai bermekaran, pertanda Natal akan segera tiba. Tidak ada, mungkin hanya beberapa, yang tahu asal-usul pohon Flamboyan ini dan kenapa hanya berbunga saat menjelang Natal. Perlu kajian ilmiah sebenarnya mengenai ini. Terlepas dari itu semua, pohon Flamboyan sudah seperti pembawa kabar gembira bagi kami. Kalau daunnya (bunganya?) mulai memerah, itu berarti Natal sudah dekat. Semua hiruk-pikuk Natal mulai terasa. Pikiran sudah terbelah dua. Nasi jagung jadi lebih enak, karena membayangkan nasi kuning di rumah. Ikan kering jadi terlihat seperti daging babi. Kacang ijo mungkin malah terasa seperti kuah asam.

***
Jepang.
Kalau di Jepang, ada dua rentang waktu yang jadi favorit saya. Pertama, antara akhir Maret-awal April. Itu waktunya Sakura (cherry blossom). Indah sekali. Sakura ada di mana-mana. Mayoritas warnanya putih mulus. Ada beberapa yang hijau, merah muda, ada yang seperti mawar. Sakura itu lambang kebahagiaan, suka cita, kedamaian. Ini juga alasan kenapa tahun akademik Jepang itu mulai di bulan April, beda dengan negara-negara lain. Alasannya karena mereka selalu mau memulai tahun akademik dengan keceriaan dan kebahagiaan Sakura. Selalu menarik melihat orang Jepang, tua-muda, yang pacaran, yang keluarga, duduk di bawah Sakura, menikmati makan siang, sambil sesekali bunga Sakura jatuh dan berguguran.
Yang kedua, yang juga tak kalah menarik adalah saat Momiji. Biasanya dari minggu kedua November-awal Desember. Ini saat puncaknya musim gugur, saat semua daun berwarna merah. Tidak kalah indahnya dengan Sakura. Bedanya, cuaca sudah mulai dingin, karena mau masuk musim dingin. Harus mulai pakai jaket ke mana-mana. Kadang disertai dengan hujan. Kobe, tempat saya kuliah sekarang, sebenarnya bukan kota yang terbilang besar. Sedang-sedang saja. Tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil. Topografinya menghadap laut, dengan jalur gunung di belakangnya. Saat Momiji, Kobe seperti berlatarkan lukisan warna-warni. Rentetan gunung di belakang kota seketika menjadi berwarna-warni. Hanya satu kata: indah!
Satu yang juga menarik adalah, ini tidak jauh beda dengan Mataloko, daun-daun yang berubah merah itu menjadi penanda, oh Natal akan datang. Kalau lagi mau makan siang, biasanya kami lewati halaman kampus, dengan daun kemerahan, beberapa mulai berjatuhan. Di kejauhan, kadang terdengar denting lonceng Gereja, waktunya doa Angelus jam 12 siang. Hal yang sederhana, tetapi kalau diingat lebih jauh, tidak beda dengan Mataloko.
Jepang memang bukan negara religius, tapi jangan kaget kalau ada pohon Natal di mana-mana, diskon Natal besar-besaran, lagu Natal terdengar hampir di setiap pusat perbelanjaan. Natal menjadi perayaan komersial di sini. Terlepas dari itu, ada kesamaan antara Mataloko dan Jepang. Mataloko punya kembang merah dari pohon Flamboyan, Jepang punya tradisi Momiji. Muaranya hanya satu: Natal sudah dekat.
Selamat menyongsong Natal, teman-teman.


Kobe, November 2012.
Satu minggu sebelum puncak Momiji.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar