Selasa, Desember 11, 2012

Catatan Ringan: Gempa 1992



 Sekitar jam 12 siang. Kami baru selesai makan siang. Tidak ada yang istimewa waktu itu. Seperti biasa, Maumere sangat panas, seolah-olah matahari tepat berada di atas Kota Tahun Maria itu. Udara yang panas dan debu yang bertebaran di mana-mana telah menjadi teman setia warga Maumere.

“Mama Bungsu (panggilan saya buat adik dari Mama), kami pergi mandi laut e...,” saya membuka percakapan. Memang, berleha-leha di pantai bisa menjadi mata air di tengah oase. Apalagi saat itu tepat tengah hari. Lagi puncak-puncaknya panas.

“Masih panas ini sekarang. Nanti saja kalau su agak sore sedikit. Jam 2 atau 3 begitu. Kita tidur siang dulu.” Jawaban seorang tanta memang selalu diplomatis. Mungkin juga ini firasat beliau.

***
Sekitar satu setengah jam kemudian, Om saya dan saya lalu memutuskan untuk cari kayu bakar di dekat rumah. Maklum, waktu itu kompor gas belum ada. Kayu bakar bisa jadi altenatif bagi minyak tanah. Apalagi, orang Maumere dan Flores umumnya, saat itu, masih mempraktikkan cara masak tradisional dengan kayu bakar. Sama sekali tidak ada firasat dalam diri kami. Hari itu, 12 Desember 1992, sama seperti hari-hari lainya.

***
Tepat Pkl 13.29 WITA, Sang Bencana itu datang. Yang saya rasakan adalah tanah yang bergemuruh hebat, orang-orang yang mulai berhamburan keluar rumah, teriakan “Edo, edo, edo” (bahasa Sikka, artinya: gempa); serta lantunan doa Salam Maria dan Bapa Kami di mana-mana. Ya, seketika itu juga, gempa datang memporak-porandakan tanah Flores. Empat kabupaten menjadi korban, tapi Maumere yang terparah. Kemudian, tiba-tiba ada tetangga yang datang menggendong saya, melepaskan pelukan erat saya pada pohon asam. Dan membawa kami pergi.

***

Beberapa saat kemudian, saya termasuk dalam rombongan yang mulai mengungsi ke arah selatan, ke dataran yang lebih tinggi. Waktu itu, isu tsunami santer sekali terdengar. Ada yang bilang, “Aih, air laut su naik sampe di kantor kejaksaan”. Ada juga yang mengklaim kalau air laut “nanti naik sampe di pekuburan sana”. Klaim-klaim seperti ini yang memperburuk situasi dan membuat kami harus segera mengungsi. Saya, anak kecil berusia 5 tahun kala itu, hanya bisa ikuti saja apa kata tetangga. Waktu itu, seingat saya, kami mengungsi ke Paroki Habi. Ada yang bawa kasur, periuk, TV. Ada yang menangis, ada yang berdoa. Saya sendiri hanya berjalan dalam diam. Adik saya, 2 tahun usianya, dilawat (Bhs Sikka, artinya: digendong di dalam sarung) oleh tetangga.

***
Yang masih ada dalam ingatan saya berikutnya adalah tepat jam 7 malam, akhirnya saya dan adik saya bisa bertemu lagi dengan orangtua. Di Gereja Paroko Habi, tepatnya. Paroki yang kemudian menjadi tempat Live in IKSSAS beberapa tahun yang lalu. Terpisah dari orang tua selama kurang lebih 4 jam, dalam keadaan darurat seperti itu, memang sangat menyedihkan.
Kami akhirnya bermalam di rumah keluarga di dekat gereja juga. Tidur di luar, masak di luar. Hanya karena ketakutan akan adanya gempa susulan dan tsunami.

***
Dua puluh tahun kemudian, saya rayakan peringatan ini dari negara yang gempa adalah makanan sehari-harinya. Semoga Flores, Jepang, dan kita semua selalu dilindungi Tuhan dari marah bahaya alam. Amin.

Kobe, 12 Desember 2012


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar