Selasa, Mei 28, 2013

Kita Masih Primordial?


Pilkada Kabupaten Sikka berakhir sudah. Pesta demokrasi lima tahunan di kabupaten Nyiur Melambai itu berkesudahan dengan diketoknya palu oleh Ketua KPUD Sikka, Albertus Ben Bao, di Aula Karmel, Wairklau, kemarin malam (Senin, 27 Mei 2013). Nama Yosef Ansar Rera dan Paulus Nong Susar yang diusung Partai Gerindra sebagai partai utama,  muncul terdepan dengan perolehan 74.988 suara (52,50%), meninggalkan pasangan Alexander Longginus- F.Roberto Diogo (Alex Idong) yang diusung PDI perjuangan, dengan 67.839 suara sah (47.50%). Ini tentu sedikit mengejutkan, mengingat di putaran pertama, justru pasangan Alex-Idong yang meraih suara terbanyak, dengan total 44.422 suara, jauh mengungguli dr. Wera Damianus -Petrus Suryaputra Suwarnam (7.483 suara), Yosef Bernadus Semadu Sadipun-Agustinus Boy Satrio (7.691 suara), Rafael Raga dan Zakarias Heriando Siku (26.676 suara), Sosimus Mitang-Silvanus Tibo (21.452), Heribertus Krispinus Nidi-Robertus Lodan (3.376), Fransiskus De Jeer Da Gomez dan Simon Subsidi (12.379 suara), Ansel da Lopez dan Simon Subandi (6.331 suara) dan Yosef Ansar Rera-Poulus Nong Susar (27.443 suara).

***

Pemilihan kepala daerah selalu menyisakan cerita yg menarik. Intrik, emosi, visi-misi, saling jegal, saling adu argumen, perang urat saraf, selalu enak ditonton. Politik memang enak ditonton. Bukan saja karena di situ ada pertempuran putra-putra terbaik daerah, melainkan karena politik lebih dari sekedar sebuah medan perang. Politik adalah “who gets what, when and how”. Siapa mendapatkan apa, kapan dan bagaimana. Lebih pada kepentingan pribadi atau golongan. Entah nyata atau abstrak, kelihatan atau tak kelihatan; “who gets what, when and how” ini nampak sekali dalam Pilkada Sikka.

Saya secara pribadi, bergabung dalam beberapa forum facebook orang Maumere (seharusnya orang Sikka, tapi mari kita gunakan istilah yang lebih terkenal saja). Ada www.inimaumere.com, Forum Diskusi Pemuda Sikka, Forum Diskusi Politik Sikka, Forum Calon Bupati Sikka 2013-2018. Ketiga forum terakhir, sesuai dengan namanya, benar-benar forum yang diperuntukkan bagi diskusi mengenai politik Sikka, termasuk pesta besar yang baru saja selesai, Pilkada.

Ketiga forum ini (mungkin ada forum lain yg tidak saya ikuti) menjadi ajang “baku hantam” antarorang Maumere. Tentu, istilah “baku hantam” ini merujuk pada pertempuran politik. Ada adu argument, adu visi-misi, adu data, adu keunggulan jagoannya. Ada yang fanatik, ada yang ikut-ikut, ada yang “hanya kasih panas suasana”, ada yang benar-benar mengabdikan hidupnya buat politik, ada yang “mau mati, mati sudah” buat politik. Mengasyikkan. Kadang membuat emosi. Kadang lucu. Kadang mendebarkan. Semua, tua-muda, laki-perempuan, mahasiswa-pegawai, guru-wiraswastawan, tumpah-ruah di forum ini, hanya untuk satu tujuan: memenangkan sang jagoan. Ini juga bukti kalau orang Maumere semakin concern dengan politik , walaupun di sisi lain, ada penurunan jumlah pemilih di putaran kedua.

***

Pilkada Sikka menghadirkan fenomena yang sebenarnya sudah ada dan kita tahu, tetapi tetap kita buat. Primordialisme. Ini isu yang terus hidup dan tumbuh dalam masyarakat yang kompleks, tradisional serta yang masih memegang teguh adat-istiadat dan hubungan kekerabatan. Kalau tidak mau dibilang nyata sekali, isu primordial cukup mendapat tempat dalam masyarakat Sikka. Ini konsekuensi dari beragamnya masyarakat Sikka. Kabupaten Sikka sendiri dibentuk atas komponen-komponen (1) ata Sikka, (2) ata Krowe, (3) ata Tana ai, (4) ata PaluE, (5) ata Lio, dan beberapa suku pendatang. Keberagaman ini terekam jelas sekali dalam Pilkada Sikka tahun ini, terutama di putaran kedua.

Pasangan Alex-Idong, di bagian barat misalnya, menang telak di Kecamatan Nita dengan perolehan 9.119 suara, meninggalkan pasangan An-Sar dengan “hanya” 2.197 suara, walaupun angka ini termasuk banyak untuk ukuran daerah kekuasaan lawan tanding. Pasangan Alex-Idong terus mendominasi di kecamatan-kecamatan sekitar Nita, misalnya Lela, Nelle dan Koting. Untuk Lela dan Koting, ini bukan hal yang luar biasa. Itu basisnya Alex dan Roby Idong. Ditambah dengan fakta bahwa markas besar Alex-Idong ada di Nara Room, Nelle. Yang mengejutkan adalah Kangae. Ini satu-satunya kecamatan di wilayah non-barat yang dimenangi pasangan Alex-Idong. Selain itu, pasangan yang diusung PDIP ini juga menang di 3 kecamatan di dalam kota, Alok, Alok Barat dan Alok Timur, walaupun selisih dengan pasangan An-Sar tidak terlalu jauh. Di Alok Timur misalnya, Alex-Idong mendapat 7336 suara, sementara An-Sar memperoleh 7017 suara. Di kecamatan Alok sendiri, yang menjangkau wilayah kepulauan di Teluk Maumere, Alex-Idong menang dengan selisih 500 suara lebih; kecuali Kecamatan PaluE yang dimenangi oleh paket An-Sar. Konon, Alex Longinus menang di daerah pulau karena beliau rajin untuk berkunjung di daerah seperti Pemana, Pangabatang, dll.

Sementara itu, pasangan Ansar Rera dan Paulus Nong Susar, untuk bagian barat, menang telak di Kecamatan Paga dengan selisih 4.000-an suara, Kecamatan Mego dengan selisih 2000-an suara dan Kecamatan Tanawawo dengan selisih 3000-an suara. Alasannya jelas sekali. Ini basis Ansar Rera yang adalah dari suku Lio. Di bagian timur, paket An-Sar menang di hampir semua kecamatan: Kewapante, Hewokloang, Talibura, Waigete, Waiblama, Mapitara, Bola dan Doreng dengan selisih yang cukup jauh. Ini cukup unik. Kemenangan An-Sar di wilayah timur, sebenarnya tidak serta-merta menunjukkan bahwa An-Sar adalah pilihan yang tepat untuk orang Maumere timur. Lebih karena, pertama, tidak ada lagi calon dari Maumere timur yang bertarung di putaran kedua; dan, kedua, keengganan mereka untuk memilih Alex Longginus yang notabene dari wilayah Nita. Secara historis, pertentangan dan perbedaan pendapat antara timur dan barat kerap terjadi. Bahkan, pernah ada gerakan kala itu, bernama Kanilima (Kangae, Nita, Lio, Maumere); sebagai gerakan bawah-tanah untuk menentang pihak kerajaan yang berpusat di Sikka dan Lela. Nita, kemudian diasosiasikan sebagai “teman dekat” Sikka dan Lela.

Putaran kedua Pilkada Sikka benar-benar menelanjangi demokrasi dan melaksanakan demokrasi atas dasar primordialisme. Bukan sesuatu yang patut dipersalahkan. Ini buntut dari panjangnya semangat feodalisme dan eratnya hubungan kekeluargaan di antara kita. Sesuatu yang harus dimaklumi malah. Terlepas dari itu, Bupati dan Wakil Bupati Sikka 2013-2018 sudah dipilih. Bukan saatnya lagi kita saling menjatuhkan. Ini saatnya kita bergandengan tangan, menata Sikka yang lebih baik ke depan, sembari meninggalkan semangat-semangat primordialisme.
An-Sar bukan bupati orang Lio, bukan juga bupati orang Maumere timur atau PaluE. Dia bupati kita bersama. Mari kita bahu-membahu, bergandeng tangan, menuju Sikka yang moret epan.


Kobe, penghujung Mei 2013.


Eugenius E. Susento

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar